Thursday, March 1, 2012

Sebab Ightiyal

Mengobarkan Semangat Para Mujahidin Perwira Untuk Menghidupkan Ightiyal(bag.3)

by Fulanah Binti Fulan on Wednesday, 29 February 2012 at 14:40 ·

SEBAB-SEBAB IGHTIYALAT

Ightiyalat di era kita sekarang ini, bisa dilakukan karena adanya banyak sebab dan pemicu, kami akan menyebutkan sebagiannya. Yang akan kami sebutkan ini adalah sebab-sebab versi mujahidin, adapun ightiyalat oleh selain mereka maka penyebabnya jika dihitung bisa berpuluh-puluh sebab:

  1. Perbuatan zindik, mencela Alloh dan Rosul-Nya, atau mencaci dan menyakiti keduanya.

Ini boleh dilakukan oleh siapa pun dari kaum muslimin, pribadi-pribadi. Sebelumnya telah kami sebutkan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh di dalam dalil kelima, yaitu hadits riwayat Asy-Sya‘biy dari Aliy bahwasanya ada seorang wanita yahudi biasa mencela Nabi SAW dan merendahkan beliau. Maka seseorang mencekiknya hingga mati, kemudian Rosululloh SAW membiarkan darahnya dan tidak mewajibkan diyat,[1] di mana beliau –Syaikhul Islam—berkata[2], “Hadits ini adalah nash tentang bolehnya membunuh wanita apabila ia mencela Nabi SAW. Juga menjadi dalil lebih bolehnya membunuh pria kafir dzimmiy, membunuh lelaki muslim atau muslimah, jika memang mereka mencaci beliau. Karena, wanita yahudi itu terikat perjanjian damai, sebab ketika Nabi SAW datang ke Madinah beliau memberlakukan perjanjian damai kepada semua warga yahudi, yang dengan itu berarti mereka telah terikat dengan perjanjian mutlak, dan beliau tidak memungut jizyah dari mereka.”

Sudah menjadi perkara maklum, wanita kafir itu dilindungi darahnya oleh kaum muslimin karena jenis kelamin wanitanya, meski pun dia bukan kafir dzimmiy maupun mu‘ahad. Karena, Rosululloh SAW melarang membunuh wanita dalam pertempuran selagi ia tidak terlibat sebagai pasukan perang. Dengan demikian, diketahuilah bahwa wanita yang mencela Alloh, mencela agama-Nya dan mencela Rosul-Nya SAW, atau yang menjelekkan salah satunya, berarti hukumnya sama dengan wanita kafir yang menjadi pasukan perang melawan Alloh ta‘ala.

Dengan demikian, orang yang mencela Alloh bisa dibunuh meski pun pemimpin kaum muslimin tidak membunuhnya. Atau, ketika kondisi tidak ada imam yang lurus dalam memerintah kaum muslimin, yang berhukum kepada hukum Alloh yang Mahapengasih. Atau ketika kekuasaan berada di tangan para pemuka kekafiran –yang sebenarnya mereka ini perlu di-ightiyal— yang tidak peduli dengan hukum Alloh atau suka mencaci Alloh yang Mahapengasih.

Hadits ini menunjukkan bahwa orang itu membunuh wanita yahudi tanpa minta izin terlebih dahulu kepada Nabi SAW, dan ketika beliau mendengarnya beliau tidak mengingkari pembunuhan terhadap wanita, beliau juga tidak menyuruhnya membayar diyat, tidak juga mengatakan: tindakan ini melanggar hak imam, tidak juga mengatakan bahwa itu perbuatan mungkar, tidak membid‘ah-bid‘ahkan pelakunya, bahkan beliau membenarkan dan membatalkan status terlindungnya darah wanita itu.

Syaikhul Islam menyebutkan dalam dalil lain yang menunjukkan permasalahan ini dan menyebutkan argumentasinya dengan mengatakan, “Hal itu karena, orang yang wajib dibunuh karena perkara yang mengarah kepada makar atau perusakan terhadap agama, tidaklah sama dengan orang yang dibunuh karena perbuatan maksiat semisal zina atau yang lain.”

Di sana pun dibedakan, pelaksanaan hukuman hudud terhadap pelaku maskisat dengan orang yang mencela Robbu `l-‘Alamin, mencela agama atau nabi semua umat Islam. Meskipun membunuh orang yang mencela Alloh dan agama-Nya termasuk dalam hukuman had, tetapi kedudukannya seperti membunuh kafir harbiy yang memerangi kaum muslimin, sementara orang yang diwajibkan untuk dibunuh itu (diperbolehkan bagi setiap orang untuk membunuhnya).

Ibnu `l-‘Arobiy rohimahulloh berkata, “Alloh memerintahkan untuk membunuh mereka di mana pun dijumpai, ini menunjukkan bahwa orang yang zindiq boleh dibunuh tanpa harus diminta bertaubat; berdasarkan firman Alloh Ta‘ala: “…dan janganlah kamu ambil dari mereka wali mau pun penolong…”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh berkata[3]“Yang menunjukkan bolehnya membunuh orang zindiq lagi munafik tanpa harus diminta taubat adalah hadits yang diriwayatkan dalam Shohih Bukhori-Muslim dari Aliy tentang kisah Hatib bin Abi Balta‘ah, di mana Umar mengatakan, “Biarkan aku memenggal leher orang munafik ini.” Maka Nabi SAW bersabda,

إِنَّهُ قَدْ شَهِدَ بَدْرًا وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّ اللهَ اطَّلَعَ عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ اعْمَلُوْا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ

“Sesungguhnya ia ikut serta dalam perang Badar, dan kamu tidak tahu barangkali Alloh telah melihat hati orang-orang yang ikut serta dalam perang Badar kemudian berfirman: Berbuatlah sesuka kalian, Aku telah mengampuni kalian.”

Ini menunjukkan bahwa memenggal leher orang munafik tanpa terlebih dahulu meminta taubat adalah disyariatkan, sebab Nabi SAW tidak mengingkari perbuatan Umar yang menghalalkan pemenggalan leher orang munafik. Akan tetapi beliau menjawab bahwa orang ini bukan orang munafik, tetapi pengikut perang Badar, yang mereka semua sudah diampuni. Artinya, kalau suatu saat muncul kemunafikan yang itu jelas-jelas kemunafikan, berarti darah orangnya boleh ditumpahkan.”

Di tempat yang sama, Syaikhul Islam juga berkata, “Kemudian, kebanyakan pendapat tentang membunuh orang yang mencela (agama, pent) tanpa seizin imam menyatakan bahwa itu adalah melanggar hak imam, tetapi imam dipersilahkan memaafkan orang yang melaksanakan had yang wajib ditegakkan tanpa seizinnya.”

Hal itu disebut melanggar hak imam maksudnya di saat ada imam yang lurus dalam memerintah kaum muslimin, yang memberlakukan hukum sesuai syariat Alloh Yang Mahapengasih. Jika tidak ada imam seperti ini dan yang ada adalah para pemimpin kekafiran, yang memperbudak manusia dengan undang-undang buatan mereka sendiri yang kufur, maka itu bukan disebut melanggar hak seorang muslim. Benar itu melanggar hak, tapi hak thoghut kafir yang batil, yang diangkat oleh “tuhan-tuhan” yang tercerai berai dalam undang-undang positif mereka. Maka, sebaik-baik pelanggaran hak adalah pelanggaran seperti ini, mari…kenapa tidak kita lakukan. Sebab itu adalah penerapan nyata dari sikap baro’ kita terhadap mereka dan kekafiran undang-undang mereka. Sungguh bagus dan mulia pelanggaran seperti itu.

Kami katakan kepada siapa saja yang tak setuju dengan sikap kami: Di manakah pemimpin yang menegakkan syariat Alloh, menerapkan hudud-Nya, yang loyal kepada orang-orang beriman dan memusuhi orang-orang kafir, serta melaksanakan jihad dan mewajibkan jihad melawan orang-orang kafir? Jika yang kalian anggap pemimpin itu adalah Fahd bin Abdu `l-“Inggris” (Si Abu Righol), maka kukatakan dengan selantang-lantangnya: Semua syarat-syarat menjadi imam, baik itu berakal, Islam, selamatnya anggota badan, dari suku Quraisy…dst, semuanya tak terpenuhi. Lantas, mengapakah kalian memusuhi kami, kalau bukan karena kami berjihad dan ingin mengembalikan penghambaan para hamba kepada Tuhan seluruh hamba. Hari-hari akan sama-sama kita lalui, orang-orang dzalim kelak akan tahu ke mana mereka kembali.

  1. Orang kafir ashliy yang berstatus harbiy, atau mua‘ahad yang membatalkan statusnya dengan cara melanggar janji atau mencela agama kita, mencela Alloh dan Rosul-Nya. Demikian juga dengan orang kafir dzimmiy yang melakukan hal yang sama.

Kalau kita sedikit merenung, akan kita simpulkan bahwa orang di zaman sekarang tidak ada orang kafir dzimmiy, demikian juga mu‘ahad, mereka semua tidak ada sekarang ini kecuali jika menurut pengertian ulama-ulama penguasa yang sesat, yang mereka ridho penguasa murtad sebagai pemimpin mereka. Mereka sesat dan menyesatkan orang banyak dari jalan yang lurus, la haula wala quwwata illa billah, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Alloh.

Lebih jelasnya, dalam hal ini ikatan janji pemerintah keluarga Saudi dengan Amerika, demikian juga negara-negara Teluk lainnya, negara-negara Arab, dan negara-negara yang secara serampangan disebut sebagai negara Islam, saya katakan: ikatan perjanjian damai dan kesepakatan-kesepakatan yang mereka buat tidaklah berlaku sama sekali bagi seorang muslim. Ia tidak boleh mengindahkannya, menghormatinya, atau mengakuinya dengan sukarela.

Sesungguhnya aku telah membuang janji mereka yang…

Mereka buat dalam rangka berkhianat dan memusuhi…

Hal ini semakin diperjelas oleh hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Nasa’i dan Abu Dawud:

“Orang-orang beriman itu sama nilai darahnya, mereka adalah pembantu bagi yang lain, dan yang lebih rendah kedudukannya harus berusaha melindungi.”

Sedangkan para thoghut itu, mereka bukanlah bagian dari kaum muslimin, baik yang bangsawan mau pun yang bawahan, tidak walau hanya sebesar jari. Tetapi mereka termasuk dalam golongan orang-orang kafir harbiy yang setia kepada mereka, sebagaimana diberitahukan oleh Alloh Ta‘ala dalam firman-Nya:

“…dan barangsiapa yang setia kepada orang yahudi dan nashrani itu, berarti ia termasuk golongan mereka…” (Al-Maidah: 51)

Ya…mereka termasuk golongan orang yahudi-nashrani, bukan golongan kaum muslimin. Sehingga, kita tidak perlu memakai ikatan perjanjian, kesepakatan-kesepakatan, dan jaminan keamanan yang mereka berlakukan kepada orang-orang kafir..

Ibnu Qudamah Rohimahulloh berkata[4], “Tidak sah jaminan keamanan dari orang kafir, walau pun kafir dzimmiy, sebab Nabi SAW bersabda,

“Jaminan perlindungan orang-orang Islam itu satu, yang paling rendah kedudukannya berusaha melindungi yang lain.”

Di sini Nabi SAW menjadikan hak memberi perlindungan itu milik orang-orang Islam, tidak boleh dari orang selain mereka, sebab mereka dicurigai akan mendatangkan bahaya kepada Islam dan kaum muslimin, sehingga hampir mirip dengan kafir harbiy.”

Fikirkanlah…ini adalah untuk kafir dzimmiy, bukan harbiy. Berarti, orang kafir harbiy lebih tidak pantas (menjadi fihak yang memberi perlindungan). Anda tentu sudah tahu bahwa para thoghut yang menguasai negeri-negeri kaum muslimin itu adalah orang-orang kafir harbiy yang memiliki kekuatan senjata, yang dengan itu mereka bisa menolak dihukumi dengan syariat. Alloh Ta‘ala berfirman:

“Dan Alloh sekali-kali tidak akan menjadikan jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman.” (An-Nisa’: 141)

Jadi, penguasa yang kafir tidak boleh menguasai orang Islam yang bertauhid, ia tidak berhak memberikan jaminan perlindungan kepada mereka. Jika ada satu negara kuat yang menjadikannya sebagai wali (penguasa), maka tidak kemudian keputusan-keputusannya, perintah-perintahnya, kesepakatan-kesepakatan yang ia buat, atau perjanjian-perjanjiannya menjadi sah secara syar‘iy; tidak juga menjadi wajib diamalkan kaum muslimin. Tidak ada satu pun orang yang faham agama Islam menentang pendapat ini.

Dan di antara konsekwensi kufur kepada thoghut adalah berlepas diri dari undang-undangnya, dan dari kesepakatan-kesepakatan serta perjanjian-perjanjian yang dia buat.

Demikian juga orang kafir, mereka tidak bisa memaksa kaum muslimin mentaati perjanjian dan kesepakatan yang ia buat. Seandainya hal itu wajib, tentu para mujahidin wajib mentaati perjanjian yang dibuat oleh Hamid Karzai dengan orang-orang kafir yang menjadi temannya; dan tentu kaum muslimin di Rusia wajib mentaati ikatan perjanjian dan kesepakatan yang dibuat oleh orang-orang ateis bersama musuh-musuh Islam; dan tentu kaum muslimin wajib mentaati perjanjian dan kesepakatan para penjajah imperialis yang menjajah negeri mereka ketika di era penjajahan orang-orang Barat dulu. Padahal semua orang tahu, bahwa mujahidin sama sekali tidak pernah mentaati perjanjian-perjanjian itu, sebagaimana kondisi kaum muslimin hari ini di Palestina, mereka tidak wajib mentaati perjanjian-perjanjian bangsa yahudi yang menguasai mereka dengan kejam. Sama halnya dengan perjanjian, kesepakatan, atau aturan-aturan para penguasa murtad yang memerangi agama ini yang disetujui oleh majelis “syirik” parlemen mereka. Semua itu tidak wajib ditaati oleh kaum muslimin yang mengkufuri mereka, mengkufuri parlemen mereka, dan mengkufuri undang-undang kafir mereka.

Bahkan, penguasa muslim sekalipun, yang berhukum dengan apa yang diturunkan Alloh dan memiliki kekuasaan atas kaum muslimin, ia tidak bisa memaksakan kesepakatan dan perjanjian yang ia buat kepada kaum muslimin yang tidak hidup di wilayah kekuasaannya. Lantas, bagaimana kalau penguasanya orang-orang kafir, dan bagaimana dengan kesepakatan-kesepakatan yang mereka buat?

Makna ini ditunjukkan secara tegas dalam hadits riwayat Bukhori dalam Kitab Asy-Syuruth pada Shohih-nya, bab: Syarat-syarat jihad dan perjanjian damai dengan orang kafir harbiy.

Yang menunjukkan makna itu adalah hadits yang mengkisahkan tentang Abu Bashir RA dan tindakannya ketika Rosululloh SAW menolak kedatangannya bersama dua utusan Quraisy dalam kaitannya tentang persyaratan yang dibuat kaum Quraisy dengan beliau dalam perjanjian Hudaibiyah. Ketika itu, Abu Bashir kemudian membunuh dua utusan tersebut, setelah itu ia pergi ke Saiful Bahr (daerah di tepi pantai), maka tidak ada satu orang Quraisy pun yang telah masuk Islam melainkan bergabung dengannya hingga akhirnya terkumpullah satu kelompok. Mereka tidak mendengar satu kafilah dagang Quraisy yang pergi ke Syam kecuali mereka cegat, lalu mereka bunuh orang-orangnya dan mereka ambil hartanya.

Sisi penunjukan dalilnya, bahwa Abu Bashir tidak mentaati perjanjian yang terjadi antara Nabi SAW (dengan Quraisy), ia tidak mentaati jaminan keamanan yang diberikan Nabi SAW kepada Quraisy dan para utusannya. Seandainya mentaatinya adalah wajib, tentu fihak Quraisy akan menuntut diyat kepada Nabi SAW atas terbunuhnya utusan mereka dari suku Amir yang dibunuh oleh Abu Bashir. Dan tentu kaum Quraisy akan menagih harta perniagaan dan kafilah yang dirampok Abu Bashir setelah itu. Namun faktanya, mereka sama sekali tidak menuntutnya, karena Abu Bashir tidak masuk di bawah wilayah kekuasaan Rosul SAW ketika beliau membuat perjanjian dengan kaum Quraisy.

Al-Hafidz Ibnu Hajar rohimahulloh berkata[5], “Pelajaran yang bisa diambil dari kisah Abu Bashir adalah: Bolehnya membunuh orang musyrik yang menjadi musuh dengan cara ightiyalat. Dan yang dilakukan Abu Bashir bukan dianggap sebagai pelanggaran terhadap perjanjian, sebab ia tidak termasuk dalam perjanjian yang disepakati antara Nabi SAW dengan Quraisy. Sebab ketika perjanjian itu dibuat, ia sedang tertahan di Mekkah…”

Ibnu Hajar berkata juga, “Pelajaran lain, bahwa siapa yang berbuat seperti yang diperbuat oleh Abu Bashir, ia tidak dibebani hukum qishosh atau pun diyat…” “…sebagian ulama belakangan menyimpulkan dari hadits ini, bahwa jika ada sebagian penguasa kaum muslimin yang menjalin perjanjian dengan sebagian penguasa musyrik, kemudian ada penguasa muslim lain yang memerangi penguasa musyrik tersebut, lalu dia bunuh mereka dan ia ambil harta mereka sebagai ghonimah, maka hal itu diperbolehkan baginya. Sebab perjanjian yang terjadi itu tidak berlaku bagi orang yang tidak terlibat dengannya.”

Apa yang dikatakan Ibnu Hajar ini, disebutkan pula oleh Ibnu `l-Qoyyim rohimahulloh bersumber dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau berkata di dalam Al-Fawaaid Al-Fiqhiyyah (pelajaran-pelajaran fikih) yang bisa diambil dari Perjanjian Hudaibiyah, “Di antara pelajaran yang dapat diambil darinya: Bahwa jika ada sekelompok orang kafir mu‘ahad mendapatkan perjanjian damai dari seorang imam, kemudian ada satu kelompok yang bukan dari anggota imam tersebut memerangi mereka dan merampas harta mereka sebagai ghonimah, maka imam tersebut tidak wajib melindungi dan menolong orang-orang kafir mu‘ahad tersebut; baik kelompok tersebut masuk dalam ikatan perjanjian dengan imam tersebut atau tidak. Sebab, perjanjian antara Nabi SAW dan kaum musyrikin bukanlah perjanjian antara Abu Bashir dkk dengan mereka. Atas dasar ini, jika ada salah seorang raja kaum muslimin menjalin perjanjian damai dan orang-orang kafir dzimmiy –baik dari nashrani atau kafir lainnya—maka diperbolehkan bagi raja kaum muslimin lainnya untuk memerangi atau merampas harta orang-orang kafir dzimmiy tersebut (sebagai ghonimah) jika sebelumnya tidak terjalin perjanjian dengan mereka. Hal ini sebagaimana difatwakan oleh Syaikhul Islam Taqiyuddin Ibnu Taimiyah qoddasallohu ruhahu tentang orang-orang Nashrani di Multhiyah dan hukum menjadikan mereka sebagai tawanan, dengan berdalil kepada apa yang dilakukan Abu Bashir terhadap orang-orang musyrik.”

Ibnu Qudamah rohimahulloh berkata, “Yang kita beri jaminan keamanan adalah orang kafir yang ada di negeri Islam, yang berada di bawah tanggungan seorang imam. Adapun orang kafir yang ada di negeri kaum muslimin tapi tidak di berada dalam kekuasaan seorang imam, maka tidak mengapa menyerang mereka. Oleh karena itu, ketika Abu Bashir membunuh orang Quraisy yang ingin mengembalikannya (ke Mekkah), Nabi SAW tidak mengingkarinya dan tidak mengganti diyatnya. Dan ketika dia, Abu Jandal, dan teman-temannya tidak masuk dalam perjanjian Nabi SAW di Hudaibiyah, lalu mereka merampok orang-orang Quraisy, membunuh mereka dan mengambil harta mereka, beliau tidak mengingkari perbuatan tersebut dan tidak memerintahkan mereka mengembalikan harta yang mereka ambil atau mengganti kerugian yang mereka timbulkan.”

Jadi, kaum muslimin yang tinggal di wilayah kekuasaan politik thoghut yang dipaksakan itu atau di negara mereka yang kafir, terutama para mujahidin yang selalu diburu dan diperangi oleh thoghut dan Amerika yang menjadi pimpinannya, tidak ada istilah perjanjian wilayah antar mereka. Tetapi status perang berlaku antara mereka dengan thoghut, bahkan thoghut sendiri telah memproklamirkan perang melawan mereka. Maka dari itu, mereka tidak wajib mentaati perjanjian dan peraturan para thoghut tersebut selagi kepemimpinan mereka adalah kepemimpinan kafir dan dipaksakan, bukan syar‘iy dan bukan atas pilihan.

Jadi selagi kaum muslimin merasa tidak aman nyawa, harta, darah dan agamanya di negeri tersebut, karena memang thoghut tidak menjadikan mereka aman, lantas bagaimana mungkin mereka akan memberikan keamanan kepada musuh dengan jaminan yang dibuat oleh musuh juga? Bahkan, kaum muslimin selalu berpeluang menjadi target pemerkosaan kehormatan di rumah-rumah mereka oleh thoghut dan pembantu-pembantunya, menjadi target perampasan harta dan teror di dalam rumah-rumah mereka, saumi-suami mereka menjadi sasaran penangkapan thoghut di penjara-penjara, atau menjadi sasaran tuduhan palsu kemudian menjatuhi mereka dengan hukuman mati, atau menyerahkannya kepada kaum salibis kapan saja, siang mau pun malam.

Dan firman Alloh Ta‘ala:

“Dan Alloh tidak akan pernah menjadikan jalan bagi orang-orang kafir (untuk menguasai) orang-orang beriman…”

… adalah kata-kata pemutus dalam masalah ini.

Adapun mengangkat mereka sebagai pemimpin dari sisi agama, maka termasuk pembatal keislaman ketika seorang muslim secara suka rela masuk di bawah kepemimpinan orang kafir.

Alloh Ta‘ala berfirman:

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Alloh…” (Ali ‘Imron: 28)

Dengan demikian jelas, siapa saja yang menyatakan berlepas diri dari kekuasaan thoghut, baik kekuasaan politik mau pun agama, kemudian mengadakan permusuhan dengan mereka sehingga mereka berada bukan pada fihak mereka, pasti telepas juga dari peraturan-peraturan, perjanjian-perjanjian, dan undang-undang mereka. Seperti kondisi para mujahidin yang mengkufuri thoghut di mana pun mereka berada, di mana mereka berlepas diri dari thoghut dan thoghut juga berlepas diri dari mereka, bahkan thoghut menyatakan perang terhadap mereka dan membantu orang-orang kafir dalam memusuhi mereka dan memusuhi setiap orang yang bertauhid, penempuh jalan jihad yang mereka istilahkan dengan terorisme akibat “membeo” kepada teman-teman mereka dari orang kafir, baik yahudi mau pun nashrani.

Dari penjelasan di atas, dapat terlihat jelas betapa keliru dan bodohnya orang yang menganggap salibis Amerika sebagai orang-orang kafir yang terikat perjanjian damai (mu‘ahad), sedangkan jihad yang dilancarkan mujahidin terhadap mereka dan sekutu-sekutu mereka disebut sebagai pelanggaran terhadap perjanjian. Dan jelas juga bahwa mengumpulkan hadits-hadits yang menyatakan: siapa membunuh orang kafir mu‘ahad maka ia tidak akan mendapat bau surga, untuk mencegah orang dari berjihad serta mengincar mereka di belahan bumi mana pun mereka berada, sebagaimana yang dilakukan oleh para pemegang kekuasaan, pada dasarnya merupakan kedustaan atas nama agama Alloh dan penyesatan terhadap hamba-hamba-Nya.

[1] HR. Abu Dawud dan lain-lain.

[2] Ash-Shorimu `l-Maslul: 61.

[3] Ash-Shorimu `l-Maslul: 350 – 351.

[4] Al-Mughniy: VIII/ 398.

[5] Fathu `l-Bariy: V/ 351

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...