Friday, March 2, 2012

Pembahagian Tugas (Ightiyal)

Mengobarkan Semangat Para Mujahidin PerwiraUntuk Menghidupkan SUNNAH IGHTIYAL (Bag.7)

by Fulanah Binti Fulan on Thursday, 1 March 2012 at 11:27 ·

PEMBAGIAN TUGAS DALAM OPERASI IGHTIYALAT

  1. Pihak penyandang dana, baik perorangan atau apa saja. Sumber dana ini harus kuat dan aman, tidak boleh tahu target sedikit pun. Ia cukup menyerahkan semua kalkulasi biaya operasi kepada mujahid yang menjadi mas’ul operasi. Dana tidak boleh diserahkan sebagian-sebagian secara bertahap, tapi harus sudah dipegang dana itu oleh mas’ul, karena dikhawatirkan akan terjadi apa-apa di kemudian hari sehingga bisa menghentikan aliran dana. Mas’ul sebuah operasi juga tidak mesti tahu, dari mana aliran dana.
  2. Observasi[2] lokasi pembuatan kamuflase, ini dilakukan sebelum pembuatan kamuflase.
  3. Melaksanakan pembuatan kamuflase yang diperlukan untuk seluruh rangkaian operasi.
  4. Mensurvei tempat-tempat yang bakal dijadikan “killing zone”, meliputi: tempat dilakukannnya eksekusi, baik sasaran satu orang atau banyak, menentukan jarak tembak (jika operasi berupa sniper), menentukan tempat ditaruhnya senjata, amunisi dan teleskop, sebelum menggunakannya, menentukan tempat ditaruhnya barang-barang itu setelah pekerjaan selesai. Jika ightiyal dilakukan dengan senjata peluncur, sudutnya harus ditentukan, menghitung efek ledakannya, mensurvei tempat memantau, mensurvei tempat meletakkan peluncur dan tempat menyimpan amunisinya. Pekerjaan ini mesti dikerjakan oleh dua orang, yang pertama pemantau, yang kedua penembak, di mana kedua-duanya tidak saling tahu, dan ketika operasi dilaksanakan tidak ada orang lain selain mereka berdua. Penembak dan pemantau baru dilatih setelah didapatkan data-data tentang jarak, sudut, efek ledakkan, dengan membuat lokasi yang mirip dengan sasaran. Pada waktu yang sudah ditentukan, keduanya harus sudah pergi ke tempat operasi, penembak tidak perlu tahu di mana pemantau berada, cukup mengadakan kontak saja setelah sebelumnya ditentukan kapan waktu dan seberapa lama operasi serta arah tujuan. Penembak dan pemantau juga harus dilatih cara masuk dan keluar dari lokasi operasi, teknis pelaksanaan, dan yang jelas menentukan semua hal kepada keduanya dengan detail. Latihan mencakup segala hal sejak awal mula mereka berangkat ke tempat operasi hingga keluar dari daerah di mana mereka melakukan operasi. Semua ini harus ada pelatihannya.
  5. Pengumpulan data tentang target dan memastikan data itu valid
  6. Memantau target, baik target itu satu orang atau banyak.
  7. Menyiapkan tempat pembidikan, dengan membuat lubang kecil untuk yang menggunakan sniper, atau, jika menggukanan mortar, dengan membuat landasan kecil dari semen dan besi untuk menyangga mortar, jika landasan tidak mungkin dibawa.
  8. Kelompok pembawa senjata dan amunisinya, baik senjata untuk sniper atau mortar. Mereka ini harus memastikan tempat menaruh senjata para pelaku dan memberi tanda yang jelas. Atau, ada orang lain yang diserahi lalu meletakkkannya di tempatnya. Dalam kondisi ini, waktu harus ditentukan secara detail, supaya penembak dan pemantau tidak bertemu. Jika memang senjata harus dijual atau ada kemungkinan dicuri, maka harus ada orang lain yang melakukan tugas ini, di mana yang menjalankan jual beli adalah mas’ul pada bagian ini.
  9. Mujahid yang mengamankan perangkat komunikasi, menentukan sandi komunikasi pada setiap bagian tugas. Dalam hal ini, mas’ul operasi bertanggung jawab menghubungkan semua sandi kepada bawahannya.
  10. Kelompok pembantu yang bertugas untuk menutup dan menyamarkan peristiwa. Kelompok ini, masing-masing anggota dibebani tugas, di antaranya:
  11. Memindahkan penembak dan pemantau ke luar lokasi operasi sejarak dua kilometer selama tiga menit sejak eksekusi, atau lima kilometer selama delapan menit sejak eksekusi. Kalau bisa di tempat yang paling dekat dengan agen armada perjalanan supaya mudah untuk meninggalkan wilayah provinsi selama sepuluh menit. Atau jika bandara dekat, mereka harus sudah ada di ruang keberangkatan, seperempat jam setelahnya. Paling tidak, seperempat jam setelah operasi dilaksanakan, mas’ul utama dan mas’ul cabang operasi, sudah ada di luar negeri, jaga-jaga jika ada salah satu dari mereka yang tertangkap. Yang lebih baik lagi, mas’ul seluruh operasi dan penanggung jawab pemantauan ada di negara tetangga ketika operasi dilaksanakan.
  12. Menyembunyikan senjata dan menghilangkan bekas-bekas operasi sebisa mungkin.
  13. Menyiapkan tempat yang sempurna dan tertutup dan tersedia untuk waktu sebulan, buat persembunyai penembak dan pemantau. Di mana, tempat yang disiapkan jaraknya tidak sampai lima menit dari tempat dilakukan operasi.
  14. Menyiapkan pemindahan setiap mujahid yang di kemudian hari kasusnya terungkap.
  15. Kelompok yang memastikan keberadaan penembak dan pemantau di tempat lain, yang jauh dari lokasi operasi.
  16. Pengamanan alat-alat pengubah penampilan dan baju, menyaipakan tiket, paspor, ktp, dengan identitas baru, supaya pelaku bisa menembus pemeriksaan di pos penjagaan. Dalam ktp, data-data yang tercantum harus menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah penduduk lokal, bukan dari luar, setelah itu memberikan bekal uang secukupnya. Sebaiknya, penampilan pelaku ketika beroperasi berbeda dengan ketika selesai operasi, dan yang harus diperhatikan bahwa ia mesti merusak kartu identitas yang sudah selesai ia pakai dan yang ia bawa cukup kartu identitas yang baru.
  17. Menyiapkan tim operasi plastik, untuk menambah tampan atau mengubah bentuk pelaku mau pun mas’ul utama operasi, supaya ia bisa meninggalkan negara bersangkutan dengan rupa baru, setelah menyiapkan kartu dan paspor dengan bentuknya yang baru.[3]
    1. Kelompok yang mengalihkan perhatian aparat keamanan dari musuh yang menjadi target. Kelompok ini bertugas memancing dan menyibukkan aparat yang menjaga target tersebut. Dalam hal ini harus waktu pelaksanaan operasi harus diatur setepat mungkin antara kelompok pengalih perhatian dan kelompok pelaku ightiyal. Jika ightiyal dilakukan dengan senjata peluncur, yang paling tepat adalah membuat suara keras, seperti suara mesin mobil, atau klakson, di mana suara itu dikeraskan ketika misilnya mengenai sasaran, atau ketika suara peluru sniper ditembakkan jika sniper tidak menggunakan peredam suara.

Ightiyal dengan peluncur, target terbaiknya adalah kumpulan para pemimpin negara, atau menyerang tempat-tempat perkumpulan para penguasa, seperti gedung-gedung pemerintahan, dinas intelejent dan para pembantunya, atau rumah kepresidenan. Tapi kalau target adalah satu orang, presiden misalnya, maka tempat paling baik untuk menyerangnya adalah ketika ia berada di tempat-tempat menerima tamu, atau ketika menunjungi kamp militer, atau ketika menghadiri pesta-pesta rakyat, atau menghadiri operasi-operasi militer, atau ketika menyampaikan pidato. Dalam kondisi ini, memungkinkan sekali penggunaan suara orang banyak atau kendaraan militer untuk menutup. Jika ada parade angkatan udara, bisa juga memanfaatkan suara pesawat.

  1. Kelompok perekrut dan infiltrasi. Tugasnya adalah merekrut orang yang diperlukan dalam missi. Yang terpenting adalah merekrut satu orang dari kelompok pengawal musuh yang menjadi target, atau menamam orang di pasukan penjaga dan pengawal. Tugas ini jelas memerlukan dana besar.

Pokoknya, semua data tentang target harus terkumpul dari orang yang dipilih tadi. Bisa saja tahap pengumpulan data ini berjalan lima tahun, bahkan mungkin lebih, supaya bisa mengetahui titik lemahnya atau melumpuhkannya dengan cara tententu.

  1. Kelompok pelatih alat-alat yang akan dipakai dalam ightiyalat. Seperti pistol dan peredamnya, alat-alat bom jarak jauh, atau salah satu alat pembunuh yang ada dan bermacam-macam alat.
  2. Ikhlas karena Alloh, tawakkal yang baik, dan melakukan persiapan semaksimal mungkin.
  3. Apa yang kami anggap benar dari tulisan kami di atas, bisa jadi ada salahnya dari pandangan kami. Bisa jadi juga, apa yang salah menjadi sesuatau yang benar menurut kaca mata orang lain. Maka, kami berharap orang lain bisa menambahkan sisi yang benar di samping yang sudah ada ini. Semoga Alloh membalas mereka dengan yang lebih baik.[4]

[1] Al-Mausu‘ah Al-Jihadiyah Al-Kubro: I/ 517 – 520

[2] Observasi di sini adalah melihat secara langsung terhadap tempat yang tidak mungkin untuk dipahami hanya melalui foto, laporan, atau dengan kedua-duanya. Ini termasuk salah satu cara mendapatkan informasi valid dan detail yang nantinya sampai kepada pimpinan (termasuk sumber informasi lain: intelejen, orang bayaran, tawanan, peta…dll). Observasi adalah sejumlah kegiatan yang dilakukan untuk mengumpulkan informasi sedetail mungkin tentang musuh dan pergerakannya, sebagai bekal yang akan membantu pimpinan untuk mengambil keputusan yang tepat, yang ditetapkan berdasarkan informasi dan tidak tergesa-gesa. Lihat Al-Mausu‘ah, di dalamnya dibahas lebih rinci dan luas, disertai praktek dan contoh nyatanya (I/ 149 – 258), dan itu tidak bisa tidak harus dimiliki oleh orang yang ingin menjadi mujahid sejati.

[3] Ada perkara-perkara yang hanya boleh dalam urusan jihad, tapi tidak pada urusan lain. Ada perkara-perkara yang itu hanya boleh untuk mujahid yang muqotil, tapi tidak boleh bagi orang yang tidak berjihad. Masalah ini cukup jelas dan gamblang, didukung dengan banyak dalil, baik dari Al-Quran mau pun As-Sunnah yang membutuhkan kajian tersendiri. Barangkali ada dari para penuntut ilmu yang mau melakukan tugas ini?

[4] Silahkan merujuk Al-Mausu‘ah: I/ 517 – 520

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...