Thursday, March 1, 2012

DiSyariatkan Ightiyal

Mengobarkan Semangat Para Mujahidin PerwiraUntuk Menghidupkan SUNNAH IGHTIYAL (Bag.2)

by Fulanah Binti Fulan on Tuesday, 28 February 2012 at 18:43 ·

DISYARI‘ATKANNYA IGHTIYALAT

Syaikh Faris bin Ahmad Alu Syuwail Az Zahroni (Abu Jandal Al Azdi)

Jika kita amati sejarah Nabi SAW dan para shahabat sepeninggal beliau, kita akan temukan hukum-hukum jihad dan peperangan dengan jelas dan lengkap, berikut cabang-cabang fikihnya. Nah, pada pembahasan kali ini, kita akan coba kaji salah satu sisi tersebut, yaitu tentang ightiyal terhadap aimmatu `l-kufr yang memerangi Alloh dan Rosul-Nya. Akan kami ketengahkan beberapa nash yang menyebutkan masalah ightiyal terhadap aimmatul kufr tersebut, setelah itu kita simpulkan hukum-hukum fikih yang telah di istimbath kan para ulama salaf dalam buku-buku fikih induknya, yang hari ini dijauhi oleh para penuntut ilmu –selain mereka yang dirahmati Alloh, dan mereka sedikit sekali. Masalah ightiyalat, kebolehannya sama sekali tidak diperselisihkan oleh seorang pun dari salaful ummah.

DALIL-DALIL DARI AL-QURAN DAN SUNNAHDalil Pertama: Firman Alloh Ta‘ala:

“… maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka, kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian.”

Dalam ayat ini ada isyarat tentang masalah ightiyalat. Al-Qurthubiy rohimahulloh berkata , “Dan intailah mereka di setiap tempat pengintaian… artinya, intai mereka ketika mereka tidak sadar dirinya sedang diintai. Ini adalah dalil bolehnya melakukan ightiyalat tanpa dakwah sebelumnya.” Demikian perkataannya…Perkataan Al-Qurthubiy, “Tanpa dakwah sebelumnya,” maksudnya tanpa dakwah kepada orang yang sebelumnya sudah mendengar dakwah Islam. Ayat ini –dan intailah mereka di setiap tempat— mengandung dalil disyariatkannya spionase dan memata-matai musuh. Ibnu `l-‘Arobiy rohimahulloh berkata , “Masalah ketujuh: Firman Alloh ‘… dan intailah mereka pada setiap tempat pengintaian…’ Ulama madzhab kami berkata, “Dalam hal ini terdapat dalil bolehnya melakukan ightiyal kepada orang-orang musyrik tanpa dakwah sebelumnya.” Selesai perkataannya.Ibnu Katsir rohimahulloh berkata , “Dan firman Alloh: ‘Kepunglah mereka dan intailah mereka di setiap tempat pengintaian…’ artinya, janganlah kalian hanya mencukupkan diri dengan keberadaan kalian di tengah mereka, tapi seranglah mereka dengan cara mengepung tempat-tempat pangkalan mereka dan intailah mereka di jalan-jalan yang mereka lewati sehinggga kalian persempit kelapangan mereka dan kalian desak mereka kepada kematian (dengan dibunuh) atau mereka masuk Islam.” Syaikhul Mujahid, yang terdzalimi baik semasa hidup dan meninggal dunia, ‘Abdulloh ‘Azzam rohimahulloh berkata dalam tafsir surat At-Taubah , “Intailah mereka pada setiap tempat pengintaian, dengan ranjau. Ini menunjukkan bolehnya meng-ightiyal orang kafir tanpa terlebih dahulu memberi peringatan. ‘Dan intailah mereka pada setiap tempat pengintaian…’ ini adalah dalil bolehnya melakukan operasi ightiyal. Jadi, ightiyalat adalah sebuah perintah, faham? Sebuah perintah…”

DALIL KEDUA: KISAH PEMBUNUHAN KA‘AB BIN AL-ASYROF

Dari Jabir bin Abdillah, bahwa Rosululloh SAW berkata,

“Siapa yang mau membereskan Ka‘ab bin Al-Asyrof? Sesungguhnya dia menyakiti Alloh dan Rosul-Nya.” Maka berdirilah Muhammad bin Maslamah, ia berkata, “Wahai Rosululloh, apakah engkau suka aku membunuhnya?” Beliau menjawab, “Ya,” “Kalau begitu izinkan aku (nanti) mengucapkan sesuatu…” pintanya. “Katakan saja,” kata Rosul.Maka Muhammad bin Maslamah datang kepada Ka‘ab bin Al-Asyrof dan berkata, “Siapa sebenarnya lelaki itu (maksud dia adalah Nabi SAW), dia memungut zakat dari kita dan membebani kita, sesungguhnya aku datang kepadamu untuk bersekutu denganmu.”Ka‘ab berkata, “Demi Alloh, tuliskan surat saksi untuknya.” “Sesungguhnya kita telah mengikutinya, lalu kami tidak ingin meninggalkannya sampai kita lihat, bagaimana akhir dari ajarannya. Dan kami menginginkan engkau meminjami kami satu wasaq atau dua wasaq (makanan).”Ka‘ab berkata, “Kalau begitu, berikan kepadaku barang sebagai gadai.” “Barang apa yang kau mau?” tanya mereka.“Gadaikan wanita-wanita kalian.” Kata Ka‘ab.“Bagaimana kami akan menggadaikan wanita-wanita kami, sementara engkau adalah orang Arab paling tampan.”“Kalau begitu, gadaikan anak-anak kalian.” “Bagaimana kami akan menggadaikan putera-putera kami kepadamu, sementara mereka akan dicela karenanya, dan akan dikatakan: hanya demi menggadai satu atau dua wasaq (kalian rela menggadaikan anak-anak kalian)? Sungguh, ini aib bagi kalian.”Mereka berkata, “Kami akan menjadikan senjata kami sebagai gadaimu.” “Baiklah,” jawab Ka‘ab.Lalu ia menjanjikan kepada mereka untuk bertemu di malam hari dengan membawa geriba, bersama Abu Na’ilah –saudara sesusuan Ka‘ab—. Maka Ka‘ab mengundang mereka untuk datang ke bentengnya, kemudian ia turun untuk menemui mereka. Isterinya berkata, “Mau ke mana engkau malam-malam begini?”Ka‘ab menjawab, “Itu tak lain adalah Muhammad bin Maslamah dan saudaraku, Abu Na’ilah.”Perawi selain Amru mengatakan, “Kemudian isterinya berkata lagi, “Aku mendengar suaranya seperti tetetas air.” –dalam lain riwayat: Aku mendengar suara seperti suara darah—.Ka‘ab berkata lagi, “Itu tak lain adalah saudaraku, Muhammad bin Maslamah dan saudara sesusuanku, Abu Nailah. Orang yang mulia itu, kalau dipanggil untuk berjalan di malam hari pasti menyanggupi.”Kemudian Muhammad bin Maslamah masuk bersama dua orang, menurut Amru kedua orang itu bernama Abu ‘Abs bin Hibr dan ‘Abbad bin Bisyr. Amru melanjutkan kisahnya:“Muhammad bin Maslamah berkata, “Jika dia datang, aku akan memegang kepalanya, maka jika kalian telah melihatku berhasil melumpuhkannya, penggallah lehernya.”(Inilah cara untuk membunun orang seperti dia, sebab dia berbadan besar dan kuat)Ketika ia turun dari benteng sembari menyandang pedangnya, mereka berkata, “Kami mencium aroma harum dari tubuhmu.” “Ya,” jawab Ka‘ab, “…istriku adalah wanita Arab paling harum.” Muhammad bin Maslamah berkata, “Bolehkan aku mencium baunya?” “Silahkan,” kata Ka‘ab. Ia pun pura-pura menciumnya. Ia berkata, “Bolehkah kuulangi lagi?” Maka ketika itulah, Muhammad bin Maslamah berhasil melumpuhkannya, kemudian ia berkata, “Giliran kalian, bunuhlah dia.” Mereka akhirnya berhasil membunuhnya.” (HR. Bukhori dan Muslim)Kemudian, orang-orang yahudi datang kepada Nabi SAW setelah terbunuhnya Ka‘ab bin Al-Asyrof. Mereka berkata, “Wahai Muhammad, teman kami terbunuh tadi malam, padahal dia adalah salah satu tokoh pemuka kami. Ia dibunuh secara diam-diam (ightiyal) tanpa dosa dan kesalahan apa pun sejauh yang kami tahu.” Rosululloh SAW bersabda,

“Sungguh, kalau dia melarikan diri sebagaimana orang seperti yang sepemikiran dengannya melarikan diri, tentu ia tidak akan dibunuh dengan cara ightiyal, akan tetapi dia menyakiti kami dan mencemooh kami dengan syair, dan tidak ada satu pun dari kalian yang melakukan perbuatan seperti ini kecuali pedang lah pilihannya.”

Ka‘ab bin Al-Asyrof memang biasa memprovokasi orang-orang musyrik untuk memusuhi kaum muslimin. Ia juga mencela Nabi SAW dengan syairnya dan menggoda isteri-isteri kaum muslimin.Ibnu Hajar rohimahulloh berkata , “Di dalam Mursal Ikrimah dikisahkan, pagi harinya kaum yahudi ketakutan, lalu mereka datang kepada Nabi SAW dan berkata, “Pemuka kami terbunuh secara diam-diam,” akhirnya Nabi SAW menceritakan kelakuan Ka‘ab kepada mereka, di mana ia suka memprovokasi orang untuk menyakiti beliau dan kaum muslimin. Sa‘ad menambahkan, “Maka mereka menjadi takut dan tidak menjawab sedikit pun.” –hingga Ibnu Hajar berkata—: “…hadits ini berisi kebolehan membunuh orang musyrik tanpa harus mendakwahi terlebih dahulu, jika dakwah secara umum telah sampai kepadanya. Juga berisi bolehnya mengucapkan kata-kata yang diperlukan di dalam perang, meski pengucapnya tidak bermaksud makna sebenarnya. Bukhori mengeluarkan hadits ini dalam Kitabu `l-Jihad bab Berbohong dalam perang dan Bab Menyergap orang kafir harbi.”Dalam menjelaskan hadits ini, Imam Nawawi rohimahulloh berkata , “Dalam hal ini, Ka‘ab telah melanggar perjanjian (jaminan keamanan) dari Nabi SAW. Muhammad bin Maslamah dan teman-temannya tidak memberikan jaminan keamanan kepadanya ketika itu, akan tetapi Ka‘ab menjadi merasa dekat dengan mereka hingga akhirnya mereka berhasil membunuhnya dalam status tidak memiliki ikatan dan jaminan keamanan. Mengenai perbuatan Bukhori yang meletakkan hadits ini pada bab: al-fatku fi `l-harbi (Menyergap dalam perang), maka yang dimaksud bukan menyergap dengan bertempur. Tetapi maksud Al-Fatku adalah membunuh ketika musuh lengah dan lalai, dengan cara ightiyal atau yang semisal. Sebagian ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil bolehnya melakukan ightiyal kepada orang kafir yang telah sampai dakwah kepadanya, tanpa harus menyerunya kembali kepada Islam.”Imam Nawawi rohimahulloh, dalam kesempatan lain juga berkata , “Al-Qodhi ‘Iyadh berkata, ‘Tidak diperbolehkan bagi siapa pun mengatakan bahwa pembunuhan terhadap Ka‘ab adalah sebuah pelanggaran terhadap janji. Dahulu pernah ada orang yang mengatakan hal itu di majelis Ali bin Abi Tholib RA, maka ia memerintahkan agar kepala orang yang mengatakan itu dipenggal.”Saya katakan, siapa yang menganggap aksi ightiyalat kepada orang-orang kafir yang memerangi Alloh dan Rosul-Nya SAW sebagai sebuah pelanggaran janji, atau kata-kata senada, atau mengatakan Islam mengharamkannya, maka ia telah sesat dan mendustakan Al-Quran dan Sunnah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh berkata, setelah menyebutkan hadits Ka‘ab tadi, menjelaskan seputar lafadz “menyakiti Alloh dan Rosul-Nya” , “Al-Adza (menyakiti) adalah kata benda untuk menyebut kejahatan yang sedikit dan gangguan yang ringan, lain dengan kata dhoror (yang artinya bahaya, pent.). Makanya, kata Adza dipakai untuk menyebut kata-kata (yang menyakitkan), sebab pada hakikatnya kata-kata itu tidak sampai membahayakan orang yang disakiti. Dalam hadits ini juga dinyatakan bahwa sekedar menyakiti Alloh dan Rosul-Nya saja sudah menjadikan orang kafir yang terikat perjanjian damai wajib dibunuh. Padahal sudah menjadi suatu yang maklum, bahwa mencaci Alloh dan Rosul-Nya adalah salah satu bentuk menyakiti Alloh dan Rosul-Nya. Nah, jika suatu sifat (baca: tindakan) itu dijadikan sebab munculnya suatu hukum dengan menggunakan huruf fa’, itu menunjukkan bahwa sifat (tindakan) tersebut adalah ‘illah (sebab) dari hukum tersebut, apalagi jika sifat itu cocok (munasib). Artinya, itu menunjukkan bahwa menyakiti Alloh dan Rosul-Nya adalah ‘illah dianjurkannya kaum muslimin untuk membunuh orang-orang kafir yang terikat perjanjian damai yang melakukan perbuatan tersebut. Dan ini adalah dalil yang cukup jelas tentang batalnya perjanjiannya, sebab ia telah menyakiti Alloh dan Rosul-Nya, sedangkan mencela itu termasuk menyakiti Alloh dan Rosul-Nya berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, bahkan itu adalah menyakiti yang paling menyakitkan.”

DALIL KETIGA: KISAH PEMBUNUHAN IBNU ABI `L-HUQOIQ ABU ROFI‘,Seorang Yahudi

Dia adalah seorang yahudi Khoibar, seorang pedagang Hijaz. Dia lah yang pergi ke Mekkah untuk membujuk kaum Quraisy agar menyerang Nabi SAW, hingga akhirnya terbentuklah pasukan sekutu dan terjadi perang Ahzab, di mana dialah penyulutnya. Bukhori meriwayatkan dari Al-Barro’ bin ‘Azib ia berkata, “Rosululloh SAW mengirim satu pasukan khusus dari beberapa lelaki Anshor untuk menyerang Abu Rofi‘, kemudian mengangkat Abdulloh bin ‘Atik sebagai pemimpin pasukan. Abu Rofi‘ memiliki kebiasaan menyakiti Rosululloh SAW dan mendorong orang lain untuk melakukannya. Ia tinggal di bentengnya di kampung Al-Hijar. Ibnu Ishaq rohimahulloh berkata , Telah bercerita kepadaku Az-Zuhriy, dari Abdulloh bin Ka‘ab bin Malik ia berkata, “Di antara perlakuan Alloh terhadap Rosul-Nya (nabi Muhammad SAW) adalah selalu bersaingnya dua kabilah Anshor, yaitu Aus dan Khozroj, seperti bersaingnya dua binatang pejantan; tidaklah salah satu kabilah melakukan suatu hal melainkan satu kabilah lainnya melakukan hal yang sama. Mereka menuturkan, “Orang-orang tidak menganggap itu sebagai kelebihan bagi kami di dalam Islam dan menurut Rosululloh SAW.” Maka tatkala Aus berhasil membunuh Ka‘ab bin Al-Asyrof, kabilah Khozroj teringat dengan seorang lelaki yang permusuhannya terhadap Rosululloh SAW sama dengan Ka‘ab bin Al-Asyrof. Maka mereka saling membicarakan tentang Ibnu Abi `l-Huqoiq, seorang yahudi yang tinggal di Khaibar. Akhirnya mereka meminta izin kepada Rosululloh SAW untuk membunuhnya, dan beliau pun mengizinkan… dst hingga akhir kisah.”Peristiwa pembunuhan itu terjadi setelah Rosululloh SAW menuntaskan perang Ahzab dan urusan Bani Quroidzoh. Dari kabilah Khozroj ketika itu keluar lima orang dari Bani Salamah, yaitu Abdulloh bin ‘Atik, Mas‘ud bin Sinan, Abdulloh bin Unais, Abu Qotadah Al-Harits bin Ribqiy dan Khoza‘iy bin Aswad dari Bani Aslam yang merupakan sekutu Bani Salamah. Kelima orang ini berangkat dan Rosululloh SAW mengangkat Abdulloh bin ‘Atik sebagai pimpinan pasukan. Kemudian keluarlah kelima orang ini menuju Khoibar, letak benteng Abu Rofi‘ berada. Ketika mereka sudah dekat dengan benteng tersebut, matahari sudah tenggelam dan orang-orang sudah kembali ke benteng sembari menggiring ternak mereka. Abdulloh bin ‘Atik berkata kepada teman-temannya, “Duduklah kalian di sini, aku akan ke sana dan menyamar di hadapan penjaga gerbang benteng, semoga saja dengan begitu aku bisa masuk.” Maka ia pun beranjak hingga posisinya dekat dengan pintu gerbang, lalu ia menutupkan kain bajunya ke muka seolah-olah ia hendak buang hajat sementara orang-orang sudah pada masuk benteng. Maka penjaga gerbang berteriak, “Hai hamba Alloh, kalau kamu mau masuk masuklah, karena aku akan mengunci gerbang.” Abdulloh bin ‘Atik menceritakan, “Akhirnya aku masuk dalam kondisi masih menyamar. Ketika semua orang sudah masuk, pintu gerbang pun ditutup dan kunci-kuncinya digantungkan di pasak. Maka aku mengambil gantungan-gantungan kunci itu dan aku berhasil membuka pintu. Ketika itu, Abu Rofi‘ sedang berbincang-bincang di malam hari dengan orang-orang di sekelilingnya di sebuah loteng miliknya. Tatkala orang-orang yang berbincang dengannya telah pergi, aku naik ke loteng tersebut. Setiap kali aku berhasil membuka satu pintu, kukunci pintu itu dari dalam. Aku membatin, seandainya orang-orang mencurigaiku, mereka tidak boleh bisa menangkapku sebelum kubunuh Abu Rofi‘. Akhirnya sampai lah aku ke tempat di mana ia berada, ternyata ia berada di sebuah ruangan gelap di antara anggota keluarganya, aku tidak tahu di mana posisi dia di rumah itu. Aku berkata, “Hai Abu Rofi‘…” Abu Rofi‘ pun menyahut, “Siapa itu…” segera saja aku hampiri suara itu dan kutebas ia sekali tebas dengan pedang sementara aku dalam kondisi kebingungan, pukulanku itu tidak berpengaruh banyak. Abu Rofi‘ kontan berteriak, maka aku segera keluar dari rumah itu dan tak lama kemudian aku masuk lagi, aku berkata, “Suara apa itu hai Abu Rofi‘?” “Celaka ibumu, ada orang di rumah ini yang baru saja menebasku dengan pedang,” jawab Abu Rofi‘. –Abdulloh bin Atik melanjutkan—“Begitu kudengar suaranya itu, kutebas lagi dia tebasan yang cukup melukainya namun aku belum berhasil membunuhnya. Setelah itu, kuletakkan ujung pedang di perutnya hingga tembus ke punggungnya, maka tahulah aku kalau kali ini aku berhasil membunuhnya. Setelah itu, aku membuka pintu satu demi satu hingga aku sampai pada salah satu tingkatnya. Aku meletakkan kakiku dan kulihat aku sudah menginjakkan kaki di tanah. Di malam berbulan itu, aku terjatuh hingga betisku terluka, maka aku membalutnya dengan surban. Kemudian aku pergi hingga aku duduk di pintu gerbang. Kukatakan, Aku tidak akan keluar dari benteng malam ini sampai kupastikan aku telah berhasil membunuhnya. Keesokannya, ketika ayam berkokok, ada seseorang naik ke pagar benteng sambil berteriak, bahwasanya Abu Rofi‘, si pedagang Hijaz, telah meninggal dunia. Akhirnya aku pun pergi untuk menemui pasukanku, aku katakan, “Mari kita menyelamatkan diri, sesungguhnya Alloh telah mematikan Abu Rofi‘.” Hingga akhirnya aku sampai kepada Rosululloh SAW dan kuceritakan kepada beliau apa yang kualami. Beliau bersabda, “Bentangkan kakimu,” aku pun membentangkannya, lalu beliau mengusapnya. Tiba-tiba kakiku sembuh, seolah aku belum pernah sakit sebelumnya.”Hadits ini versi Bukhori, adapun versi Ibnu Ishaq, kelima orang itu masuk dan ikut serta dalam membunuh Abu Rofi‘, sementara yang mengeksekusinya dengan pedang adalah Abdulloh bin Unais. Di antara kisahnya, disebutkan bahwa ketika mereka berhasil membunuhnya di malam hari dan betis Abdulloh bin Atik patah, mereka menggotongnya dan memasuki salah satu mata air kaum yahudi itu. Sementara itu, yahudi menyalakan api dan memperketat pencarian di setiap sudut , hingga ketika mereka sudah putus asa mereka kembali ke tempat Abu Rofi‘. Ketika pulang, keempat orang itu menggotong Abdulloh bin Atik hingga datang menemui Rosululloh SAW. Ibnu Hajar Rohimahulloh berkata , “Hadits ini mengandung beberapa pelajaran, di antaranya adalah bolehnya meng-ightiyal orang musyrik yang sudah mendengar dakwah tapi masih tetap dalam kesyirikannya, serta bolehnya membunuh orang yang memberikan bantuan dalam memusuhi Rosululloh SAW, baik dengan tangannya, hartanya, mau pun lisannya. Juga bolehnya memata-matai orang kafir harbi, mencari saat kelengahan mereka, keras dalam memerangi orang musyrik, dan bolehnya menyamarkan perkataan demi tercapainya sebuah mashlahat, serta bolehnya sejumlah kecil kaum muslimin menyerang sejumlah besar kaum musyrikin.”Syaikh Abdur Rohman Ad-Dausariy rohimahulloh berkata, ketika menyebutkan tingkatan-tingkatan ubudiyah dalam tafsir firman Alloh, Iyyaaka na‘budu wa iyyaaka nasta‘iin, “Kemudian, menyiapkan kekuatan semaksimal kemampuan itu termasuk salah satu kewajiban dalam agama dan konsekwensi untuk menegakkannya. Jadi, seorang ahli ibadah kepada Alloh yang benar tidak akan menunda perbuatan ini, apalagi meninggalkannya atau meremehkannya. Juga, seorang ahli ibadah kepada Alloh yang memiliki tekad kuat di dalam dirinya untuk berjihad, akan melaksanakan operasi ightiyal terhadap para pemimpin kekafiran dari para penyeru ajaran menyimpang dan amoral, orang yang mencela wahyu Alloh, atau menggunakan tulisan dan propagandanya untuk menyerang agama yang lurus ini. Sebab orang seperti ini telah menyakiti Alloh dan Rosul-Nya SAW. Kaum muslimin di belahan bumi mana pun, baik orang khusus atau orang umum, tidak boleh membiarkan orang seperti ini tetap hidup, sebab ia lebih berbahaya daripada Ibnu Abi `l-Huqoiq dan orang-orang semisal dengannya yang oleh Rosululloh SAW dianjurkan untuk meng-ightiyal mereka. Jadi, tidak melakukan ightiyal kepada orang-orang zaman sekarang yang mengikuti jejak mereka, adalah sama dengan meninggalkan wasiat sang Rosul Pilihan SAW, cacat yang buruk dalam ubudiyah kepada Alloh, dan pembolehan yang terang-terangan terhadap unsur-unsur penghancur agama Alloh. Tidak ada yang dilapangkan dadanya untuk hal ini melain orang yang sudah tidak memiliki kecemburuan (ghiroh) terhadap agama Alloh, tidak memiliki kemarahan karena wajah-Nya yang Mulia. Dan itu termasuk kekurangan besar dalam kecintaan kepada Alloh dan Rosul-Nya serta dalam mengagungkan keduanya, tidak mungkin akan terjadi dari orang yang berhasil merealisasikan ubudiyah kepada Alloh dengan cakupan maknanya yang benar dan sesuai perintah.”Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh berkata , “Hadits-hadits ini kesemuanya menunjukkan bahwa siapa saja yang mencaci Nabi SAW dan menyakitinya dari kalangan orang-orang kafir, maka ia boleh dijadikan target pembunuhan, dan dianjurkan untuk membunuhnya karena perbuatan tersebut.”

DALIL KEEMPAT: KISAH PEMBUNUHAN KHOLID BIN SUFYAN BIN NUBAIH AL-HUDZALIY

Orang ini telah memobilisasi masa untuk memerangi Nabi SAW di Madinah. Cerita selengkapnya adalah seperti diriwayatkan Imam Ahmad dan lain-lain dari Abdulloh bin Unais ia berkata, Rosululloh SAW memanggilku lalu bersabda, “Telah sampai berita kepadaku bahwa Kholid bin Sufyan Al-Hudzaliy mengumpulkan manusia untuk menggempurku, maka datangilah dia dan bunuhlah dia.” –di dalam riwayat lain: Rosululloh SAW bersabda, “Siapa yang mau membunuh Sufyan Al-Hudzaliy untukku? Sesungguhnya ia mengejek, mencela dan menyakitiku.”—Maka kukatakan, “Wahai Rosululloh, sebutkan ciri orangnya sehingga aku bisa mengenalinya.” Nabi SAW berkata, “Jika engkau melihatnya, tubuhnya agak menggigil.” Akhirnya aku berangkat sambil menyandang pedangku, hingga aku berhasil menemukan orang itu, ketika ia berada di Aronah bersama beberapa wanita yang menyertainya di dalam rumah, waktu itu saat sholat Asar tiba. Ketika aku melihatnya, aku benar-benar menjumpainya persis seperti yang digambarkan Rosululloh SAW, yaitu badannya sedikit menggigil. Maka aku menghampirinya, aku khawatir misiku terhadapnya gagal, maka aku pun sholat dengan memberi isyarat dengan kepala ketika ruku dan sujud. Ketika aku sampai ke posisinya, ia berkata, “Siapa kamu?” Aku berkata, “Lelaki yang mendengar berita tentang dirimu dan tindakanmu memobilisasi masa untuk menyerang Muhammad, aku datang untuk urusan itu.” Ia berkata, “Benar, aku memang melakukannya.” Maka aku berjalan beriringan dengannya beberapa langkah sebelumnya sehingga aku berhasil mengambil posisi yang tepat lalu aku berhasil membunuhnya dengan pedang. Kemudian aku pergi dan kubiarkan ia begitu saja ditangisi oleh wanita-wanitanya. –dalam redaksi lain: Maka aku duduk berdampingan dengannya, hingga ketika orang-orang telah tidur, aku membunuhnya diam-diam dan kubawa kepalanya). Maka tatkala aku menghadap Rosululloh SAW dan beliau melihatku, beliau bersabda, “Beruntunglah wajahmu.” “Aku berhasil membunuhnya, wahai Rosululloh,” kataku.Beliau bersabda, “Kamu benar,” kemudian beliau mengajakku masuk ke rumahnya, lalu beliau memberiku sebilah tongkat, beliau berpesan, “Simpan tongkat ini, wahai Abdulloh bin Unais, sebagai tanda kelak antara diriku dan dirimu di hari kiamat. Sesungguhnya, manusia yang paling sedikit pada hari itu adalah yang berjalan menggunakan tongkat.” Maka kemudian, tongkat itu oleh Abdulloh bin Unais ditempelkan pada pedangnya, tongkat it uterus menyertainya, hingga ia meninggal dunia ia berpesan agar tongkat itu disertakan dengan di dalam kafan, kemudian keduanya dikubur bersama-sama.”

DALIL KELIMA: KISAH WANITA YAHUDIYaitu yang diriwayatkan oleh Asy-Sya‘biy dari Ali, bahwasanya ada sorang wanita yahudi yang suka mencaci dan menjelek-jelekkan Nabi SAW, maka ada seorang lelaki yang mencekiknya hingga mati. Setelah itu, Rosululloh SAW tidak menetapkan diyat untuk darahnya.

Syaikhul Islam rohimahulloh ta‘ala berkata, “Hadits ini jayyid (cukup baik), Asy-Sya‘biy pernah bertemu muka dengan Ali dan sekaligus meriwayatkan hadits darinya. Bahkan, kalau lah hadits ini mengandung unsur mursal, Asy-Sya‘biy adalah orang yang hadits-hadits mursalnya dianggap shohih di kalangan para ulama. Tidak diketahui ada hadits mursal darinya melainkan pasti derajatnya shohih, ia juga merupakan satu di antara manusia yang paling mengetahui tentang hadits Ali dan ketsiqohan perowi-perowinya. Di samping itu, hadits ini memiliki penguat, yaitu dari hadits Ibnu Abbas. Jadi, kisah di atas, bisa jadi memang cuma satu itu, atau bisa jadi maknanya satu. Dan secara umum, kalangan ahli ilmu telah mengamalkan hadits tersebut, ditambah dengan hadits lain yang senada dari para sahabat Nabi SAW, sehingga hadits mursal seperti ini para fuqoha tidak meragukan akan kebolehan berhujjah dengannya.Hadits ini juga berisi ketetapan akan bolehnya membunuh wanita jika ia mencela Nabi SAW. Sehingga, hadits ini juga menunjukkan bahwa membunuh lelaki dzimmiy atau orang muslim laki-laki atau perempuan yang mencela Nabi SAW itu lebih boleh. Sebab, wanita dalam kasus hadits di atas berstatus terikat perjanjian, karena Nabi SAW ketika datang ke Madinah menetapkan perjanjian damai dengan seluruh orang yahudi, di mana perjanjian itu adalah perjanjian mutlak dan tidak membebankan kepada mereka kewajiban jizyah.” Hingga di sini perkataan Syaikhul Islam.

Beliau juga berkata , “Bahwa anjuran Nabi SAW kepada manusia agar membunuh dan menumpahkan darah wanita yahudi itu, menunjukkan ia sebelumnya dilindungi, sebab dilindungi darahnya telah terpenuhi dalam akad. Jadi, seandainya nabi tidak membatalkannya, tentu darahnya tetap berstatus dilindungi. Sebab, kalau ia wanita harbiy, tentu Nabi SAW tidak menyuruh orang untuk membunuhnya dan tidak perlu membatalkan status terjaga darahnya, sebab pembatalan dan pembuangan status darah tidak akan terjadi kecuali pada darah yang telah dijalin akad perlindungannya. Tidakkah engkau perhatikan, ketika Nabi SAW menyaksikan seorang wanita yang terbunuh pada salah satu ghozwah beliau, beliau mengingkari pembunuhan terhadap wanita itu dan melarang membunuh wanita, beliau tidak membatalkan dan menganggap darah wanita itu sia-sia. Beliau tidak mengumumkan pembatalan jaminan darahnya, sebab jika pada asalnya darahnya itu memang tidak dilindungi dan boleh ditumpahkan sementara kaum muslimin tahu bahwa darah wanita yang turut berperang tidaklah dilindungi tetapi diabaikan, maka pembatalan beliau terhadap perlindungan darahnya tidak ada artinya sama sekali. Dan ini, wal hamdulillah, cukup jelas.”

DALIL KE ENAM: KISAH MATA-MATA ORANG MUSYRIK

Dalam hadits Salamah bin Al-Akwa‘, ia berkata, “Ada seorang mata-mata orang musyrik –yakni agen intelejent kuffar yang memerangi agama Alloh dan kaum muslimin— datang ke tempat Nabi SAW, kemudian ia duduk bersama para shahabat beliau dan berbincang-bincang, setelah itu ia beranjak pergi. Maka Nabi SAW bersabda, “Kejar dan bunuh dia.” Salamah berkata, “Maka aku berhasil membunuhnya, kemudian Rosululloh SAW mengambil nafal dan salabnya.” Lihatlah, dalam hal ini shahabat membunuh mata-mata itu dan mengambil salabnya, bukan di medan perang dan pertempuran; namun seperti dalam riwayat selain Bukhori: “Salamah mengejarnya kemudian menghentikan untanya, lalu membunuhnya dan menggiring unta tersebut.”

DALIL KETUJUH: KISAH AL-‘ASHMA’ BINTI MARWAN Sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Ada seorang wanita dari Khuthmah yang mengejek Nabi SAW, maka Nabi SAW bersabda, “Siapa yang bersedia membunuhnya untukku?” maka ada seorang lelaki dari kaumnya berkata, “Aku wahai Rosululloh,” kemudian dia berdiri dan membunuhnya, setelah itu ia memberi tahu Nabi SAW, maka beliau bersabda, “Dia tidak akan ditanduk dua kambing.”

Para penulis sejarah peperangan (Ashhabu `l-Maghoziy) menyebutkan secara detail kisah wanita ini. Al-Waqidiy berkata, “Telah bercerita kepadaku Abdulloh bin Harits bin Fudhoil, dari ayahnya, bahwasanya Ashma’ binti Marwan, seorang wanita dari Bani Umayah bin Zaid, adalah isteri dari Yazid bin Hishn Al-khuthomiy, ia biasa menyakiti Nabi SAW dan menghina Islam, serta memprovokasi orang untuk memusuhi Nabi SAW. Ia pernah berkata, Ia sombong kepada Bani Malik, Nabit dan AufIa sombong kepada Bani KhozrojKalian mematuhi pajak dari kaum selain kalianMaka tidak ada yang mengembalikan dan menariknya Kalian mengharapnya setelah para pemimpin dibunuhSebagaimana berharap jatuhnya buah yang matangKetika Umair bin Adiy Al-Khuthomiy mendengar kata-kata dan provokasinya, ia berkata, “Ya Alloh, aku bernadzar untukmu jika Engkau kembalikan Rosululloh SAW ke Madinah, aku pasti akan membunuh wanita itu.” Ketika itu, Rosululloh SAW sedang berada di Badr. Maka tatkala beliau pulang dari Badr, Umair bin Adiy pergi di tengah malam hingga akhirnya ia berhasil masuk ke rumah wanita itu yang ketika itu ia dikelilingi oleh anak-anaknya yang tengah tidur. Salah satu di antara mereka ada yang sedang ia susui. Kemudian Umair meraba bayi itu dengan tangannya kemudian menjauhkannya dari ibunya, setelah itu ia hunjamkan pedang di dadanya hingga tembus ke punggungnya. Setelah itu ia keluar hingga ia masih bisa sholat subuh bersama Nabi SAW. Ketika Nabi SAW beranjak dari tempat sholatnya, ia melihat Umair, beliau bersabda, “Apakah kamu telah membunuh puteri Marwan?” Umair menjawab, “Ya, ayahku kupertaruhkan untuk engkau wahai Rosululloh.” Umair khawatir Rosululloh SAW kaget dengan pembunuhan itu, maka ia berkata, “Apakah aku harus menanggung sesuatu akibat peristiwa itu, wahai Rosululloh?” Rosululloh SAW bersabda, “Tidak akan ada dua kambing yang menanduknya.” Kata-kata ini didengar pertama kali dari Rosululloh SAW. Umair berkata, “Setelah itu Nabi SAW menoleh ke arah orang-orang di sekelilingnya, lalu bersabda, “Jika kalian ingin melihat orang yang menolong Alloh dan Rosul-Nya secara diam-diam, lihatlah kepada Umair bin Adiy.” Maka Umar bin Khothob berkata, “Lihatlah orang buta ini, ia berjalan di malam hari dalam rangka mentaati Alloh.” Rosululloh SAW bersabda, “Jangan sebut dia buta, sesungguhnya dia melihat.” Ketika Umair pulang dari tempat Rosululloh SAW, ia menjumpai anak-anak wanita itu menguburkan ibunya. Begitu melihat Umair datang dari Madinah, mereka menghampirinya dan mengatakan, “Hai Umair, kamu telah membunuhnya?” Ia berkata, “Ya, kalau kalian semua mau mencelakakan aku silahkan lakukan dan tidak usah kalian tunda-tunda. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya kalian mengatakan seperti apa yang dikatakan ibu kalian, aku akan penggal kalian semua dengan pedangku ini, sampai aku mati atau aku berhasil membunuh kalian.” Sejak saat itu, Islam mengalami kemenangan di kalangan Bani Khuthmah. Tadinya, ada beberapa orang dari kalangan mereka yang menyembunyikan keislamannya lantaran takut kepada kaumnya. Atas kejadian itu, Hassan bin Tsabit melantunkan sebuah syair yang memuji perbuatan Umair bin Adiy.Al-Waqidiy berkata, Abdulloh bin Harits melantunkan syair:Bani Wail, Bani Waqif, dan Bani Khuthmah, derajatnya lebir rendah daripada Bani KhozrojKapan saudari kalian mengaku bersuami dengannyaSementara kematian mendatanginyaMaka ia guncangkan pemuda yang mulia nasabnyaYang luhur tempat keluar dan masuknyaLalu ia melumuri wanita itu dengan darah yang merah kehitamanSebelum subuh sedangkan dia belum keluarMaka Allohpun memasukkan pemuda itu ke dalam syurga yang dingin Dengan riang karena masuk dalam kenikmatan Abu Ahmad Al-Askariy meriwayatkan kisah yang lebih ringkas dari ini, setelah itu ia berkata, “Wanita ini biasa mengejek dan menyakiti Nabi SAW.”Kisah ini juga disebutkan secara ringkas dalam Ath-Thobaqot oleh Muhammad bin Sa‘d. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh berkata, setelah menyebutkan kisah ini, “Nabi SAW secara khusus menyebut kata Al-‘Anaz (kambing betina) karena ‘Anaz biasanya beradu dengan ‘Anaz lain kemudian meninggalkannya, tidak seperti tandukan kambing Kibasy atau yang lain.”Abu Ubaidah rohimahulloh berkata di dalam Al-Amwal , “Demikian juga kisah ‘Ashma, wanita yahudi, ia dibunuh karena mencaci Nabi SAW. Sedangkan wanita ini, bukan wanita yang dibunuh oleh suaminya yang buta, bukan juga wanita yahudi. Sebab wanita ini berasal dari Bani Umayah bin Zaid, salah satu rumpun kabilah Anshor. Ia punya suami dari Bani Khuthmah. Karenanya, wallohu a‘lam, dalam hadits Ibnu Abbas ia dinisbatkan kepada Bani Khutmah, sementara pembunuhnya bukan suaminya. Wanita ini punya beberapa orang anak, ada yang sudah dewasa dan ada yang masih kecil. Memang, bahwa pembunuhnya dari kabilah suaminya, sebagaimana tercantum dalam hadits.”Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh berkata, “Sengaja kami kemukakan kisah ini bersumber dari riwayat Ahlul Maghoziy beserta dengan riwayat Al-Waqidiy yang di dalamnya ada kelemahan, hal itu karena kisah ini cukup masyhur di kalangan mereka. Di saat yang sama, tidak ada yang memperselisihkan bahwa Al-Waqidiy adalah orang yang paling tahu tentang rincian-rincian kisah berbagai peperangan, paling tahu tentang kondisinya. Imam Ahmad, Imam Syafi‘iy dan lain-lain juga mengambil ilmu tersebut dari buku-bukunya. Memang benar, kisah ini dicampuri kerancuan-kerancuan riwayat, sampai tampak terlihat ia mendengar seluruh kisahnya dari guru-gurunya, padahal ia menerima menerima dari masing-masing syaikh sepenggal-sepenggal, lalu ia gabungkan tanpa ia pilah-pilah dari masing-masing syaikh. Ia mengambilnya dari hadits mursal dan maqthu‘, yang bisa jadi seorang perowi menduga-duga beberapa perkara dengan mengacu kepada bukti-bukti penguat yang menyertai (qorinah) yang ia ambil dari beberapa jalur periwayatan. Kemudian ia banyak melakukan itu hingga menyebabkan ia dituduh melakukan pemalsuan riwayat dan tidak teliti sehingga tidak bisa berhujjah dengan apa yang ia riwayatkan sendirian. Adapun berdalil dengan haditsnya, atau menjadikan haditsnya sebagai penguat, maka itu merupakan perkara yang tidak mungkin ditentang, apalagi kisah itu sempurna; yang di dalamnya ia menyebutkan namanya pembunuh, nama yang dibunuh, gambaran kondisi saat itu. Sebab orang yang seperti ini, lebih baik daripada mereka yang mengangkat kedustaan atau pemalsuan hadits dalam urusan seperti ini. Di saat yang sama, kita tidak menetapkan disyariatkannya membunuh orang yang mencaci Rosul semata-mata dengan hadits ini saja , tetapi kita menyebutkannya hanya sebatas penguat dan penegasan. Dan ini bisa dilakukan dengan hadits yang diriwayatkan oleh orang yang kapasitasnya lebih rendah daripada Al-Waqidiy.”Syaikhul Islam rohimahulloh juga berkata , “Dulu para shahabat Rosululloh SAW, apabila melihat orang yang menyakiti beliau, mereka ingin membunuhnya, karena mereka tahu bahwa orang seperti ini layak dibunuh. Kemudian beliau memaafkannya dan menerangkan kepada mereka bahwa memaafkannya lebih mendatangkan mashlahat, meski pun beliau menyatakan bolehnya membunuh orang seperti itu. Seandainya ada orang yang membunuhnya sebelum Nabi SAW memaafkan, beliau tidak memarahinya, karena beliau tahu dia melakukan itu untuk membela Alloh dan Rosul-Nya. Bahkan, beliau akan memujinya sebagaimana ketika Umar RA membunuh seseorang yang tidak ridho dengan hukum beliau, dan sebagaimana ketika ada seorang lelaki yang membunuh puteri Marwan, juga wanita yahudi. Jika dengan wafatnya Rosul SAW, pemberian maaf tidak mungkin dilakukan, maka tinggallah membunuh orang seperti itu menjadi hak murni bagi Alloh, rosul-Nya dan orang-orang beriman, dan pelakunya tidak perlu dimaafkan. Maka membunuhnya menjadi wajib untuk dilaksanakan.”

DALIL KEDELAPAN: KISAH ABU ‘IFK, SEORANG YAHUDI Ahlu `l-Maghoziy wa `s-Siyar menyebutkan kisah ini. Al-Waqidiy berkata, Telah bercerita kepadaku Syu‘bah bin Muhammad dari ‘Imaroh bin Ghoziyyah, dan telah menceritakannya kepada kami Abu Mush‘ab Ismail bin Mush‘ab bin Isma‘il bin Zaid bin Tsabit dari guru-gurunya, keduanya berkata, “Ada orang tua dari Bani Amru bin Auf yang biasa dipanggil Abu ‘Ifk. Ia adalah orang yang sudah sangat tua, umurnya sudah 120 tahun ketika Nabi SAW datang di Madinah. Ia suka memprovokasi untuk memusuhi Nabi SAW dan tidak mau masuk Islam. Maka tatkala Rosululloh SAW keluar menuju Badar, Alloh memenangkan beliau lalu orang ini dengki dan iri kepada beliau. Kemudian ia melantunkan syair yang isinya mencela Nabi SAW dan menghina orang yang mengikuti beliau, yang paling parah ia katakan di sana adalah:Maka orang itu merampas urusan merekaYang halal dan haram tak dibedakan lagiSalim bin Umair berkata, “Aku bernadzar akan membunuh Abu ‘Ifk atau aku mati karenanya.”Kemudian ia menunggu beberapa waktu, ia mencari saat dia lengah. Hingga ketika tiba di suatu malam di musim panas, Abu ‘Ifk tidur di sebuah teras di pemukiman Bani Amru bin Auf. Maka Salim bin Umair menghunjamkan pedangnya tepat di dadanya sampai-sampai tembus ke tempat tidurnya, musuh Alloh itu berteriak, maka orang-orang yang mendukungnya mendatanginya dan memasukkannya ke dalam rumahnya sebelum akhirnya menguburkannya. Mereka mengatakan, “Siapakah yang membunuhnya? Demi Alloh, kalau kita tahu pembunuhnya pasti akan kita bunuh dia.”Seperti inilah yang dikisahkan oleh Muhammad bin Sa‘ad, ia mengatakan bahwa Abu ‘Ifk adalah seorang yahudi, kami telah sebautkan sebelumnya bahwa kaum yahudi di Madinah seluruhnya terikat perjanjian damai. Kemudian ketika dia mencela dan menampakkan hinaan kepada Nabi, ia dibunuh.Al-Waqidiy berkata dari Ibnu Roqsy, “Abu ‘Ifk dibunuh pada bulan Syawal, 20 bulan setelah hijrah.”Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh berkata setelah menyebutkan kisah ini , “Ini terjadi jauh sebelum pembunuhan Ka‘ab bin Al-Asyrof. Dan ini merupakan dalil yang jelas menunjukkan bahwa orang kafir mu‘ahad jika menampakkan penghinaan maka ikatan perjanjiannya batal dan boleh dibunuh secara diam-diam (dengan cara ightiyal). Hanya saja kisah ini ada pada riwayat Ahlu `l-Maghoziy, dan layak untuk pendukung dan penguar tanpa diragukan.”

DALIL KESEMBILAN: KISAH PEMBUNUHAN AL-ASWAD AL-‘UNSIY Ibnu Katsir rohimahulloh bercerita tentang Al-Aswad Al-‘Unsiy : “Kerajaan dan pengaruhnya semakin menguat, kemudian banyak sekali orang-orang Yaman yang murtad dari Islam. Kaum muslimin di sana menghadapinya dengan cara taqiyah. Urusan kepemimpinan dia serahkan kepada Amru bin Ma‘dikarb, urusan ketentaraan ia serahkan kepada Qois bin Abdu Yaghuts, sedangkan urusan anak-anak ia serahkan kepada Fairuz Ad-Dailamiy dan Dadzawaih. Ia menikah dengan mantan isteri Syahr bin Badzam, wanita ini masih sepupu dari Fairuz Ad-Dailamiy, namanya adalah Zaad. Ia adalah wanita yang cantik dan rupawan, meski pun begitu ia beriman kepada Alloh dan rosul-Nya (Muhammad SAW) dan satu dari wanita-wanita sholehah. Saif bin Umar At-Tamimiy berkata, “Ketika Rosululloh SAW mendengar berita tentang Aswad Al-‘Unsiy (yang mengaku nabi, pent.), beliau mengirimkan surat melalui seseorang bernama Wabar bin Yahnas Ad-Dailamiy yang isinya memerintahkan kaum muslimin di sana untuk memerangi Aswad Al-Unsiy. Di dalam Sejarah Bangsa-Bangsa dan Para Raja (Tarikhu `l-Umam wa `l-Muluk) disebutkan: Ath-Thobariy meriwayatkan dengan isnadnya dari Dhohak bin Fairuz ia berkata, “Datang kepada kami Wabar bin Yuhannas membawa surat Nabi SAW yang di dalamnya beliau memerintahkan kami untuk bangkit membela agama kita dan mulai melakuakn peperangan serta bekerja untuk membunuh Aswad, baik dengan cara ightiyalat atau dengan konfrontasi langsung, beliau juga berpesan agar menyampaikan isi surat itu kepada orang yang kami pandang memiliki keberanian dan agama (iman). Maka kami pun melaksanakannya.” Demikian, Ibnu Katsir.Melengkapi kisah di atas, Ibnu Katsir berkata, “Shahabat Muadz bin Jabal berhasil melaksanakan perintah surat ini dengan sempurna. Beliau menikahi seorang wanita dari Bani Sukun, hingga akhirnya mereka mau mendukungnya untuk melawan Aswad, ini karena kesabaran Muadz, dan mereka turut bersama-sama beliau melaksanakan isi surat itu, mereka menyampaikan isi surat itu kepada para pejabat yang diangkat oleh Nabi SAW dan siapa pun yang bisa mereka jumpai. Akhirnya mereka sepakat untuk menyerahkan urusan ini kepada Qois bin Abdi Yaghuts yang oleh Aswad ditunjuk sebagai komandan tentara. Qois sendiri sebenarnya sangat membenci Aswad, namun ia menyembunyikan kebencian itu dan ia berencana untuk membunuhnya. Demikian halnya dengan Fairuz Ad-Dailamiy, posisinya lemah di sisi Aswad. Demikian juga dengan Dadzawaih. Tatkala Wabar bin Yahannas memberitahu Qois bin Abdi Yaghuts –atau Qois bin Maksyuh—maka ia merasa ada sesuatu yang turun dari langit kepadanya dan ia pun setuju dengan rencana mereka untuk menghabisi Aswad. Akhirnya kaum muslimin menyepakatinya dan saling berjanji untuk itu. Ketika Aswad mencurigai hal itu di hatinya, syetannya muncul memberitahukan sebagian dari rencana kaum muslimin. Maka Aswad pun memanggil Qois bin Masykuh, ia berkata, “Wahai Qois, apa yang dikatakan orang ini (syetan yang membisikinya, pent.), tahukah kamu? Ia berkata, kamu sudah memuliakan Qois hingga ia bisa masuk kepadamu pada setiap tempat masuk, lalu di saat dalam kedudukan ia sebanding denganmu ia membelot memusuhimu dan menggoyang kekuasaanmu dan menyimpan rencana untuk berkhianat. Sungguh ia mengatakan, ‘Hai Aswad, hai Aswad, hai jelek, hai jelek.’ Maka tangkaplah Qois, kalau tidak dia akan menggulingkanmu dan memutus hatimu.” Mendengar itu Qois berkata –sambil bersumpah dusta—, “Demi pemilik kerudung, sungguh engkau terlalu mulia bagiku sehingga aku berani merencanakan hal itu kepadamu.” Mendengar itu, Aswad berkata, “Aku tidak akan menyangkamu berbohong kepada malaikat, benarlah malaikat itu dan ia tahu sekarang kamu sudah bertaubat dari apa yang sudah dia lihat darimu.” Maka Qois keluar dari tempat Aswad dan mendatangi teman-temannya, Fairuz dan Dadzuwaih, dan memberitahukan apa yang dikatakan Aswad kepadanya dan bagaimana ia menjawab. Maka mereka berkata, “Sesungguhnya kita semua dalam kondisi harus hati-hati, adakah ide?” Ketika mereka tengah asyik berunding, tiba-tiba datang utusan Aswad dan menghadapkan mereka kepadanya, ia berkata, “Bukankah aku telah memuliakan kalian atas kaum kalian.” Mereka menjawab, “Benar, tuan.” “Lantas mengapa aku mendengar sesuatu yang kurang beres dari kalian?” “Maafkanlah kami kali ini.” pinta mereka.“Jangan sampai aku mendengar lagi sesuatu dari kalian, sehingga aku harus memaafkan kalian lagi,” kata Aswad.Maka kami berhasil lolos dan keluar dari tempat Aswad, hampir saja kami celaka, karena Aswad mulai ragu terhadap kami dan kami berada dalam bahaya. Ketika kami masih dalam kondisi mengkhawatirkan seperti itu, datanglah surat-surat dari Amir bin Syah, pemimpin Hamdan, dari Dzi Dzulaim dan Dzi Kila‘ serta pemimpin-pemimpin di Yaman lainnya, yang isinya mereka menyatakan kepatuhan dan kesediaan membantu kepada kami untuk melawan Aswad. Hal itu terjadi setelah mereka mendengar surat Rosululloh SAW yang memerintahkan untuk memerangi Aswad Al-Unsiy. Maka kami balas surat itu yang mana kami berpesan agar mereka tidak membicarakannya kepada siapa pun sampai kami mematangkan rencana. Qois bercerita, “Tak lama setelah itu, aku masuk menemui istri Aswad, Zaad, kukatakan, “Wahai sepupuku, engkau tahu sendiri musibah yang ditimbulkan lelaki ini terhadap kaummu. Ia telah membunuh suamimu dan menimpakan pembunuhan kepada kaummu serta melecehkan kaum wanita. Maka tidakkah engkau mempunyai rencana untuk menghabisinya?” Zaad berkata, “Lantas, apa yang kau maksud? Mengusirnya atau membunuhnya?” “Membunuhnya,” jawab Qois. Zaad berkata, “Benar, demi Alloh, tidaklah Alloh menciptakan orang yang lebih kubenci daripada dia, sungguh ia tidak melaksanakan hak Alloh dan tidak meninggalkan perbuatan haram. Nanti, jika kalian benar-benar berkeinginan melakukannya, beritahu aku, aku akan memberi informasi tentang dia kepada kalian.” Setelah itu aku keluar –kata Qois—dan ternyata Fairuz dan Dadzuwaih sudah menungguku, —mereka sudah ingin sekali menjalankan misinya—. Tapi, tak berselang lama mereka berkumpul, tiba-tiba Aswad kembali memanggil Qois. Setelah itu Aswad mengadakan pertemuan dengan sepuluh orang dari kaumnya, ia berkata, “Bukankah telah kuberitahukan kebenaran kepadamu tapi kamu menyangkalnya. Sungguh telah dikatakan, hai jelek…hai jelek… jika kamu tidak memenggal Qois, ia akan memenggalmu dengan tangannya.” Sampai-sampai Qois merasa ia pasti akan dibunuh. Maka ia berkata, “Sungguh, tidak layak aku membunuh jika engkau adalah utusan Alloh, sungguh engkau membunuhku itu lebih kusukai daripada setiap hari aku mengalami kematian yang biasa.” Akhirnya hati Aswad luluh dan memerintahkan Qois untuk pulang. Qois segera menemui teman-temannya, ia berkata, “Kerjakan misi kalian sekarang.” Lagi-lagi ketika mereka tengah asyik berunding di depan pintu rumah Aswad, tiba-tiba Aswad keluar memergoki mereka, kebetulan saat itu sudah dikumpulkan seratus hewan, terdiri dari sapi dan unta. Maka Aswad berdiri sambil membuat sebuah garis, sementara di belakangnya diambil seekor hewan dari hewan-hewan tadi. Maka Aswad menyembelihnya tanpa membiarkan kepalanya tergantung dan tertahan. Ia sama sekali tidak melewati garis yang ia buat tadi. Hewan itu pun menggelepar-gelepar sebelum akhirnya nyawanya melayang. Qois berkata, “Sungguh aku belum pernah melihat kejadian yang lebih menjijikkan dan mengerikan daripada itu.” Setelah itu Aswad berkata, “Benarkah berita yang sampai kepadaku tentang dirimu, wahai Fairuz? Sungguh aku benar-benar ingin menyembelihmu dan kususulkan engkau dengan hewan tadi dan kuperangi kamu.” Fairuz menjawab, “Anda telah memilih kami sebagai mertuamu dan Anda telah melebihkan kami dengan menyerahkan urusan anak-anak kepada kami. Kalau bukan karena anda nabi, kami tidak akan menjual bagian kami kepada Anda sedikit pun. Bagaimana tidak, sementara telah terkumpul pada diri Anda urusan dunia akhirat. Maka janganlah Anda percayai berita miring tentang kami yang sampai kepada Anda, sesungguhnya kami selalu dalam posisi yang Anda sukai.” Akhirnya Aswad ridho kepadanya dan memerintahkannya untuk membagi-bagikan daging hewan-hewan tadi, maka Fairuz membagi-bagikannya kepada penduduk Shon‘a’. Setelah itu, Fairuz buru-buru kembali menghadap Aswad. Tetapi ternyata ada lagi orang yang memprovokasi Aswad tentang Fairuz dan berusaha membunuhnya. Fairuz mendengar hal itu, tiba-tiba Aswad berkata, “Aku akan membunuhnya besok dan teman-temannya, maka bawalah ia besok ke mari.” Begitu menoleh, ternyata Fairuz sudah ada di situ, ia berkata, “Ada apa?” maka Fairuz melaporkan pembagian daging tadi. Setelah itu, Aswad masuk rumahnya sementara Fairuz kembali menemui teman-temannya dan memberitahu mereka tentang apa yang baru saja dia dengar dan dikatakan perihal dirinya. Akhirnya mereka semua sepakat untuk kembali menagih janji isteri Fairuz yang akan membantu mereka. Maka salah satu dari mereka, yaitu Fairuz, masuk menemuinya, wanita itu berkata, “Di perkampungan ini, tidak ada satu rumah pun melainkan dijaga sekelilingnya oleh para penjaga, selain rumah Aswad; sesungguhnya rumah itu bagian belakangnya menghadap ke jalan ini dan itu. Maka bila kalian telah memasuki waktu sore, lubangilah rumah itu dari dalam di saat tidak dijaga oleh para penjaga. Dan membunuhnya itu bukanlah perkara yang sulit. Nanti saya akan letakkan di dalam rumah itu sebuah lampu dan senjata.” Ketika Fairuz keluar dari rumahnya, Aswad memergokinya. Ia berkata, “Mengapa kamu masuk ke tempat keluargaku? Aswad menggerak-gerakkan kepalanya, dan dia terkenal sebagai lelaki yang bengis. Tiba-tiba isterinya berteriak hingga membuat Aswad kaget dan lengah dan tidak tahu kalau itu Fairuz. Kalau bukan karena itu, tentu ia sudah membunuhnya. Isterinya berkata, “Sepupuku datang berkunjung.” Aswad berkata, “Diam kamu, aku tidak peduli denganmu, aku telah memberikannya kepadamu.” Maka Fairuz segera keluar menemui teman-temannya dan mengatakan, “Selamat…selamat…” ia memberitahukan kejadian yang baru saja ia alami. Akhirnya mereka kebingungan, apa yang harus dilakukan. Maka isteri Aswad mengirim utusan untuk menyampaikan pesan, “Jangan mengurungkan tekad kalian…” kemudian masuklah Fairuz Ad-Dailamiy menemuinya untuk memastikan informasi tentangnya. Lalu mereka masuk ke dalam rumah itu dan melubangi bagian dalamnya dan menggantinya dengan tanah agar mereka mudah membongkarnya dari luar. Setelah itu, Fairuz masuk secara terang-terangan menemui istri Aswad layaknya orang yang berkunjung, tak lama kemudian datanglah Aswad ia berkata, “Apa-apaan ini?” “Dia adalah saudara sesusuanku, dia juga sepupuku.”jawab isterinya. Maka Aswad membentaknya dan mengusirnya, akhirnya Fairuz kembali kepada teman-temannya. Ketika malam tiba, mereka membongkar lubang rumah yang sudah mereka buat tadi, lalu mereka memasukinya dan di sana sudah ada lampu di bawah sebuah mangkuk besar. Maka Fairuz Ad-Dailamiy menghampirinya sementara Aswad tidur di atas kasur dari sutera, kepalanya tertutup oleh badannya dalam keadaan mabuk dan mendengkur. Sementara isterinya duduk di sampingnya. Ketika Fairuz berdiri di depan pintu, syetan membangunkan Aswad dan mendudukkannya serta membuatnya berbicara melalui lidahnya dalam kondisi ia masih mendengkur, ia berkata, “Apa urusanku denganmu wahai Fairuz?” melihat itu, Fairuz khawatir dirinya dan wanita itu akan binasa, maka segera ia menyerang Aswad dan bergulat dengannya sementara Aswad sulit dijinakkan seperti unta. Kemudian Fairus berhasil memegang kepalanya hingga akhirnya ia hantam lehernya dan ia injakkan lututnya di punggungnya sampai akhirnya ia berhasil membunuhnya. Begitu selesai, ia berdiri untuk keluar menemui teman-temannya dan memberitahu mereka. Tapi istri Aswad menarik baju belakangnya dan berkata, “Ke mana kamu mau meninggalkan saudari mahrammu?” ia mengira Aswad belum terbunuh. Fairuz berkata, “Aku mau keluar memberi tahu teman-temanku bahwa Aswad sudah terbunuh.” Tak lama kemudian, mereka masuk ke tempat Aswad untuk memenggal kepalanya. Tapi tiba-tiba syetannya Aswad menggerak-gerakkannya hingga ia bergoncang sampai mereka tidak bisa mengendalikannya, hingga akhirnya dua orang berhasil menduduki punggungnya dan isterinya menjambak rambutnya. Kemudian Aswad meraung-raung dengan lidahnya maka Fairus memotong lidahnya sementara yang lain memenggal lehernya hingga Aswad melenguh seperti melenguhnya sapi dengan suara paling keras. Mendengar itu, para penjaga memasuki ruangan dan berkata, “Suara apa itu?” Isterinya menyahut, “Nabi sedang menerima wahyu.” Akhirnya mereka kembali. Sementara Qois, Dadzuwaih dan Fairuz berunding bagaimana mengumumkan hal itu kepada para pengikut Aswad. Akhirnya mereka sepakat jika tiba waktu pagi, mereka akan mengumandangkan syiar yang biasa dipakai untuk mengumpulkan mereka dan kaum muslimin. Dan benar, keesokan harinya salah satu dari ketiganya –yaitu Qois—berdiri di atas pagar benteng dan meneriakan syiar yang biasa dipakai untuk mengumpulkan mereka. Dan berkumpullah kaum muslimin dan orang-orang kafir (pengikut asli Aswad, pent.) di sekeliling benteng. Maka Qois –ada juga yang berpendapat Wabar bin Yahnas—mengumandangkan suara adzan dan mengucapkan, “Aku bersaksi Muhammad adalah utusan Alloh dan orang terlantar ini (Aswad, pent) adalah pendusta.” Setelah itu ia lempar kepalanya ke tengah-tengah mereka, maka para pengikutnya pun menyerah, orang-orang menangkapi mereka dan memburu mereka di setiap jalan untuk menjadikan mereka sebagai tawanan. Dan menanglah Islam serta para pemeluknya, para wakil Rosululloh SAW kembali kepada jabatan mereka semula. Kemudian, ketiga orang itu berselisih tentang siapa yang akan menerima tampuk kepemimpinan, tapi akhirnya mereka sepakat untuk menyerahkannya kepada Muadz bin Jabal, ia sholat mengimami orang-orang. Kemudian mereka menulis berita kepada Rosululloh SAW, yang di malam hari sebelumnya Alloh telah memberitahu beliau, sebagaimana dikatakan oleh Saif bin Umar At-Tamimiy dari Abu `l-Qosim Asy-Syinawiy dari Al-‘Allal bin Ziyad dari Ibnu ‘Umar: Bahwasanya datang berita kepada Nabi SAW dari langit di malam ketika Aswad Al-Unsiy terbunuh, agar beliau sampaikan berita gembira itu kepada kami. Beliau bersabda, “Al-‘Unsiy telah terbunuh tadi malam, dia dibunuh seorang lelaki penuh berkah dari keluarga yang diberkahi,” Ditanyakan, “Siapa dia wahai Rosululloh?” Beliau bersabda, “Fairuz, Fairuz.”Ibnu Katsir berkata, “Dikatakan bahwa masa ia berkuasa sejak ia menang hingga terbunuh adalah tiga bulan, ada juga yang mengatakan empat bulan. Wallohu a‘lam.” Selesai perkataan Ibnu Katsir.

Bukhori membuat bab khusus dalam kitab Al-Maghoziy di dalam Shohih-nya tentang kisah Aswad, dia berkata, “Ubaidulloh bin Abdillah berkata, Aku bertanya kepada Abdulloh bin Abbas tentang mimpi Rosululloh SAW yang ia ceritakan, maka Ibnu Abbas berkata, “Diceritakan kepadaku bahwa Rosululloh SAW bersabda, “Ketika aku sedang tidur, diperlihatkan kepadaku seolah diletakkan di tanganku dua perhiasan dari emas maka aku memutuskannya dan membencinya. Setelah itu aku diperintahkan untuk meniupnya hingga keduanya terbang. Maka aku menakwilkan bahwa kedua perhiasan itu adalah dua pendusta yang akan muncul.” Maka Ubaidulloh berkata, “Salah satunya adalah Al-Unsiy yang dibunuh oleh Fairuz di Yaman, satunya lagi adalah Musailamah Al-Kadzzab.” Ibnu Taimiyah rohimahulloh berkata , “Kemudian Fairuz Ad-Dailamiy melakukan perlawanan kepada Al-Aswad Al-‘Unsiy hingga ia berhasil membunuhnya, dan datanglah berita terbunuhnya Aswad kepada Nabi SAW ketika beliau sedang sakit menjelang wafat. Kemudian beliau keluar dan memberitahu para shahabatnya tentang itu dan bersabda, “Telah terbunuh Aswad Al-Unsiy tadi malam, ia dibunuh oleh seorang lelaki sholeh dari kaum yang sholeh.” Dan kisah tentang ini cukup masyhur.”Ath-Thobariy rohimahulloh menyebutkan , bahwa Fairuz dan teman-temannya melakukan muslihat terhadap Aswad dan menampakkan seolah mereka mengikutinya hingga mereka berhasil membunuhnya secara diam-diam. Dan Nabi SAW telah memuji Fairuz dan dikatakan bahwa kabar tentang mereka telah sampai kepada beliau melalui wahyu di malam ia meninggal.”Dalil Kesepuluh: Membalas Dengan Perlakuan Yang Sama (Al-Mu‘aqobah Bi `l-Mitsl) Alloh Ta‘ala berfirman:فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ “… oleh sebab itu, barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu…” (QS. Al-Baqoroh: 194)“Dan ( bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, pahalanya atas (tanggungan) Alloh, sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosa pun terhadap mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak, mereka itu mendapat azab yang pedih.” (QS. Asy-Syuro: 39 – 42)وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَاعُوقِبْتُمْ بِهِ “…dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu…” (An-Nahl: 126)Ayat-ayat ini berlaku umum untuk semua, kasus yang menjadi penyebab turunnya tidak bisa mengkhususkannya. Sebab, dalam sebuah kaidah syar‘iy dikatakan: “Al-‘Ibrotu bi ‘Umuumi `l-Lafdzi, laa bi khushuusi `s-Sabaab.” (Yang dijadikan patokan adalah keumuman lafadz, bukan kekhususan sebab). Sehingga dengan demikian, kaum muslimin boleh melakukan hal serupa terhadap apa saja yang dilakukan musuh terhadap mereka. Artinya, jika mereka meng-ightiyal para mujahid kita maka kita pun meng-ightiyal mereka. Jika mereka mencincang kaum muslimin, kita boleh mencincang mereka. Jika mereka sengaja menjadikan wanita dan anak kecil sebagai target serangan hingga terbunuh, maka kita kaum muslimin dipersilahkan membalas dengan tindakan yang sama dengan menjadikan wanita dan anak-anak musuh sebagai target untuk dibunuh, berdasarkan keumuman ayat-ayat di atas.Ibnu `l-Qoyyim rohimahulloh berkata, “Firman Alloh: “…maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu…”, kemudian firman-Nya: “…dan balasan sebuah kejahatan adalah kejahatan yang serupa…” kemudian firman-Nya, “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu…” mengandung makna bolehnya melakukan semua ini, yaitu membalas dengan balasan serupa dalam urusan nyawa, kehormatan dan harta. Para fuqoha bahkan menegaskan bolehnya membakar lahan pertanian orang-orang kafir dan membabat pepohonan mereka jika mereka memperlakukan kita seperti itu, dan ini adalah masalah yang sama. Alloh Subhanahu wa Ta‘ala sendiri mengizinkan para shahabat menebangi pohon kurma orang-orang yahudi dikarenakan dalam hal itu ada kehinaan bagi mereka. Dan ini menunjukkan bahwa Alloh Subhanahu wa Ta‘ala menyukai dan mensyariatkan kehinaan orang jahat dan dzolim. Jika membakar harta orang yang melakukan ghulul (mengambil harta rampasan perang sebelum dibagikan) saja boleh dikarenakan ia telah mengkhianati harta ghanimah kaum muslimin, maka membakar hartanya jika ia membakar harta orang muslim yang dilindungi tentu lebih layak untuk diperbolehkan. Jika dalam harta yang menjadi hak Alloh, yang pemberiannya lebih banyak daripada penagihannya, maka dalam harta yang menjadi hak seorang hamba yang pelit tentu lebih layak. Juga, Alloh SWT telah mensyariatkan hukum qishosh dalam rangka menakuti-nakuti jiwa agar tidak melakukan perbuatan aniaya, padahal bisa saja Dia cukup mewajibkan membayar diyat untuk menebus kedzaliman pelaku kejahatan dengan harta. Akan tetapi apa yang Alloh syariatkan lebih sempurna dan lebih baik bagi para hamba serta lebih bisa menyembuhkan kedongkolan dalam hati orang yang dizalimi, di samping lebih menjaga nyawa dan rusaknya anggota tubuh. Jika tidak seperti ini, maka orang yang membunuh orang lain atau mematahkan salah satu anggota badannya, ia harus dibunuh atau dipotong juga anggota badannya dan masih harus membayar diyatnya. Namun hikmah, kasih sayang dan kemaslhatan menolak hal itu. Hal yang serupa juga berlaku pada tindak kezaliman terhadap harta.”Dengan demikian, kita harus tahu bahwa jika orang muslim saja bisa diqishosh dengan hukuman serupa ketika ia berbuat jahat kepada sesama muslim. Maka tentu saja membalas tindakan orang kafir harbiy terhadap kaum muslimin dengan balasan serupa lebih boleh.

Nah, jika dengan berdalih menggulingkan Saddam Amerika boleh membunuh 1.732.000 nyawa selama masa embargo terhadap Irak dan hingga kini masih berlangsung –padahal sebenarnya urusan utamanya lebih besar dari dalihnya tersebut—, ia juga bisa membunuh ribuan orang di Afghonistan karena keberadaan kepemimpinan jihad di sana, dan masih banyak lagi di tempat lain…lantas mengapa kita tidak boleh membunuh mereka, membombardir mereka, menjadikan mereka sebagai target serangan, atau meng-ightiyal mereka sehingga kita mencapai jumlah yang seimbang dengan yang mereka telah bunuh? Kenapa kita tidak membunuh mereka karena adanya Bush, Blair, dan Sharon sebagaimana mereka membunuhi kita karena si fulan dan si fulan?OLEH KARENA ITU, KITA HARUS MENGAMBIL JATAH YANG SAMA. SEBAGAIMANA MEREKA MEMBUNUH, MEREKA DIBUNUH. SEBAGAIMANA MEREKA MELAKUKAN IGHTIYALAT, MEREKA PUN DI-IGHTIYALAT. WALLOHU A‘LAM.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...