Tuesday, March 6, 2012

Buku Kedua - Menghadapi Makar Thoghut (part 2)


Buku Kedua - Menghadapi Makar Thoghut (part 2)

by Farell Arsenio on Thursday, 1 March 2012 at 17:00 ·

BENTUK-BENTUK MAKAR THOGHUT

Sebelum membahas tentang makar thoghut harus kita pahami dulu bahwasanya thoghut penguasa negri kita ini merupakan perpanjangan tangan atau salah satu perangkat perang salbis zionis internasional dalam memerangi mujahidin. Mereka memilih masuk dalam barisan pasukan Salibis Zionis internasional karena demi kepentingan duniawi mereka, demi imbalan dolar dan mudahnya proses perdagangan dan penjualan hasil alam negri ini di kancah dunia. Ketika dajjal Bush Jr la’natulaah ‘alayh membagi dunia menjadi dua kubu yaitu :” BERSAMA KAMI atau BERSAMA TERORIS (Mujahidin/ummat Islam) “, mereka dengan penuh kesadaran telah memilih ikut bersama syetan Bush dan bala tentaranya.


Maka dari itu, jangan merasa heran jika taktik dan srategi masing masing negara yang berada di kubu syetan Bush ini dalam menghadapi mujahidin memiliki banyak kesamaan. Karena memang induk semangnya sama yaitu Amerika.

Dalam pemetaan mereka terhadap kekuatan mujahidin di seluruh dunia dan berdasarkan bentuk-bentuk amaliyah yang telah terjadi, serta berdasarkan kekuatan dakwah di tengah ummat dalam menopang amaliyah, maka mereka membagi straegi mereka menjadi dua jenis utama yaitu :

* Hard Power, yaitu mengerahkan sumber daya militer secara penuh dalam operasi-operasi pemberantasan terorisme (baca: jihad) yang meliputi operasi intelijen, pengawasan, dan kontrol yang ketat terhadap gerak-gerik yang mencurigakan dari seseorang maupun sekumpulan orang sampai pada penindakan.

* Soft Power, yaitu dengan mengerahkan segala sumber daya intelektual dan media massa untuk membuat masyarakat menjadi musuh alami bagi jihad dan mujahidin. Sehingga ummat akan mudah diadudomba, diprovokasi, dan sekaligus memudahkan dalam melokalisir dan meminimalisir kekuatan mujahidin.

Dihembuskannya isu bahwa mujahid itu mudah mengkafirkan, serampangan dalam tindakannya, ditambah dengan perkataan para murji’ah bahwa jihad di negri ini adalah sama dengan pemberontak khawarij yang harus ditumpas dll dll adalah bentuk penggunaan soft power.

Cara-cara hard power dan soft power di atas saling bersinergi dengan satu tujuan yang sama yaitu : melemahkan mujahidin agar tidak mampu lagi berbuat teror ( baca : berjihad ), agar berpikir seribu kali jika mau membuat teror, karena tidak mendapat dukungan ummat dan menjadi musuh masyarakat. Itulah yang diinginkan thoghut.

Maka dari itu mari kita patahkan strategi mereka itu dengan tetap istiqomah berada di gerbong jihad dengan berbagai tingkatan maqam-nya. Jika baru mampu menyantuni keluarga mujahid / masjunin teruskanlah karena itu minimal akan menunjukkan kepada thoghut bahwa jihad mereka didukung oleh ummat, mujahidin itu tidak sendirian. Itu sudah cukup untuk menunjukkan bahwa strategi mereka tidak sepenuhnya berhasil, dan ini sudah merupakan salahh satu kemenangan kita meski masih kecil. Kenapa kami katakan ini sebagai kemenangan ? Karena kita telah menunjukkan kegagalan strategi thoghut yang menginginkan ummat tidak bersimpati kepada para mujahidin. Demikian pula kepada teman-teman yang aktif menyebarkan berita jihad dan mujahidin melalui media internet, yang sibuk mentahridh kaum muslimin, menunjukkan dalil-dalil bantahan dari syubhat-syubhat yang ada di tengah ummat, teruskanlah karena itu juga bagian dari jihad. Tunjukkan kepada thoghut bahwa fikrah jihadi itu tidak bisa dihapus dari dada kaum muslimin, ini pun sudah menimbulkan ketakutan di hati musuh karena strategi mereka ada yang melawan. Bahkan jika hanya mampu mengakses berita-berita jihad dan mujahidin, maka lakukanlah. Karena dengan banyaknya trafik yang mengakses situs-situs jihadi maka setidaknya akan membuat thoghut ketakutan dengan jumlah orang yang berpotensi bisa jadi teroris (baca: mujahid) karena membaca artikel-artikel dan berita-berita jihad. Ini pernah diakui oleh pakar IT mereka beberapa tahun yang lalu.

Apa yang kami sebutkan di atas merupakan bagian-bagian dari jihad dengan tingkatan maqam yang berbeda-beda pula. Silahkan ambil mana yang antum mampu. Teringat kata seorang sahabat yang bisa menjadi inspirasi bagi kita :

“ andai aku bisa jadi seekor nyamuk yang mengganggu tidur thoghut itu lebih baik bagiku daripada diam di tempat hanya menonton kedhaliman si thoghut “.

BEBERAPA PENGHALANG KECIL

Ada satu permasalahan yang selalu menjadi ungkapan dan alasan yang akhirnya meyebabkan seseorang membatasi amalnya. Kami sebut membatasi karena andai dia meniadakan alasan itu dia bisa berbuat lebih banyak. Satu uangkapan itu adalah : amniyah. Mungkin antum terkejut, kok amniyah bisa menjadi pembatas amal ? coba simak uraian berikut :

Saat ini di tengah derasnya fitnah perburuan, pengintaian,pengawasan terhadap setiap aktivtas berbau “radikal” oleh aparat thoghut terhadap kaum muslimin muwahhidin, banyak yang kemudian terlalu melebih-lebihkan rasa hati-hati yang akhirnya menjadi sebuah ketakutan yg berlebihan juga. Banyak orang setelah tau bahwa thoghut mengawasi ,majlis-majlis ta’lim tauhid,situs-situs jihadi, forum jihadi, halaman dan group-group di Facebook, server IRC, dsb dsb akhirnya membuat dia menjadi meninggalkan aktivitas jihadi yang tadinya dia lakukan di tempat-tempat tsb dengan alasan amniyah, sudah tidak aman lagi beraktivitas di sana, khawatir ada penyusup, dst dst…

Padahal sebenarnya jika kita tahu aturan main dan batasan-batasan pada masing-masing tempat di atas, kita masih bisa menerror musuh dengan cara selalu menimbulkan kekhawatiran akan lahirnya para mujahidin baru yang lebih cerdas dan lebih dahsyat amaliyahnya. Ingatlah kaidah baku ini : jika kita takut dan mundur ketika melihat tindakan musuh terhadap kita, maka itu berarti kemenangan bagi musuh dan kekalahan bagi kita.

Lalu bagaimana cara atau aturan main ketika kita beraktivitas berbau dakwah tauhid dan jihad di tempat-tempat yg pasti diawasi oleh thoghut ? secara teknis detailnya tentu saja berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat lainnya, tapi ada beberapa poin dasar yang perlu dipahami dalam menyusun langkah strategi menghadapi fitnah “pengawasan thoghut” dan ketakutan akan adanya penyusup dari pihak thoghut. Kami akan mencoba menguraikannya sebatas apa yang telah kami ketahui selama ini :

* kemampuan musuh itu sebenarnya sangat terbatas, karena hanya mengandalkan hal-hal bersifat materi keduniawian, sementara kita bersandar kepada Dzat yang Maha Sempurna. Jadi, berdoalah mohon petunjuk dan pertolonganNya dalam setiap amal.

* Aparat Thoghut tidak akan menangkap dan memenjarakan kita hanya karena aktivitas yang belum sampai pada tataran praktek nyata semacam i’dad terang-terangan, ngumpulin silah dll. Bahkan menampung seorang mathlubin pun sebenarnya (menurut pengamatan dan pengalaman kami) tidak akan diadili,alasan tidak tahu kalau dia mathlubin bisa diterima, tidak seperti masa lalu di awal perburuan. Apalagi jika hanya untuk menghadapi tahridh, posting materi-materi jihad, dakwah tauhid, thoghut tidak akan menangkap kita. Karena :

1. dana operasional mereka juga terbatas

2. penjara akan penuh dengan da’i dan aktivis bukan penjahat. Belum lagi nanti para da’i itu akan berdakwah di penjara, wahh…makin pusing thoghut !

3. sampai hari ini belum ada intensif kenaikan pangkat atau hadiah uang bagi yang bisa menangkap aktivis dakwah di dunia maya maupun di masyarakat, jika aktivitasnya hanya baru pada tataran ilmiah belum praktek. Beda dengan jika sudah terjadi sebuah amaliyah, maka itu adlah proyek penghasil uang dan kenaikan pangkat bagi mereka. Tanpa ada uang dan pangkat sebagai motivasi mereka juga tidak akan bertindak. Inilah kelemahan tebesar mereka, bekerja untuk duniawi mereka.

4. Thoghut belum siap menghadapi gejolak di masyarakat andai mereka mau melakukan itu meskipun mungkin sudah mampu secara materi.

* untuk menghadapi aktivitas non praktek thoghut lebih menggunakan soft power seperti yang sudah pernah kami jelaskan sebelumnya.

* manusia hanya bisa dan cenderung melihat dhahirnya atau kemasannya saja. Pandai-pandailah mengemas “dagangan” antum.

* Tentang kekhawairan adanya penyusup atau mata-mata dalam sebuah kumpulan, forum, grup facebook, tidak usah diambil pusing. Tanpa menyusup pun mereka pasti mengawasi kita. Mudah saja menyikapinya, yaitu berdasarkan amal nyata (dhohir). Jika mereka mau beramal sesuai dengan standar aturan main yang kita tetapkan dalam kumpulan/grup/forum tsb dan ada hasilnya yang nyata, biarkan saja mereka. Kita manfaatkan kerja mereka itu, soal niat dan motivasi mereka kita serahkan kepada ALLOH dan memohon kepadaNYA agar dilindungi dari makar jahatnya.

Lebih jauh tentang aturan main dan batasan-batasan dalam hal-hal tersebut di atas akan kami urakan dalam makalah/buku kami berikutnya, lebih detail dalam teknisnya.

Ada satu hal lagi berkaitan dengan amniyah ini yang juga sedikit mengganggu, yaitu ketika ada seorang pekerja lapangan (mujahid yang sedang beramal) ditanya oleh ikhwan non lapangan tentang suatu hal yang mana hal itu memang menjadi rahasia amaliyah, sang ikhwan lapangan tadi cenderung berkata :” ini demi amniyah kami, antum tidak perlu tahu”. Atau ketika ada sesama ikhwan lapangan satu thaifah bahkan tapi menempati bagian tugas yang lain, ketika menanyakan apa yang seharusnya tidak perlu diketahui karena memang bukan tugasnya, sang ikhwan itu juga menggunakan kata-kata yang sama yaitu demi amniyah antum tidak usah tahu. Ini bagi kami kurang tepat, karena efek psikologisnya akan berbeda jika kita mengatakan “ ya akhi, ini aturan main dan sekaligus adab dalam amaliyah ini, antum sebaiknya tidak tahu dulu karena bukan tugas dan kepentingan antum”. Pada kata-kata “ demi amniyah antum tidak perlu tahu” efek psikologisnya adalah orang itu hanya akan menganggap bahwa hal itu merupakan sesuatu yang berbahaya,dan dapat mengurangi kreativitas orang tsb, dan kemudian masih menyisakan rasa penasaran kenapa dirahasiakan. Lain dengan jika dikatakan “ ini aturan main dan adab dalam hal ini…dst”, karena yang ini efek psikologisnya ada unsur pembinaan/tarbiyah dan kedisiplinan, ada unsur sam’u wa tho’ah dalam amaliyah yang bernilai ibadah.

Jadi, alasan keamanan atau ketakutan tidak boleh menjadi penghalang amal atau membatasi amal kita. Hadapilah dan cerdaslah dalam memandang sesuatu. Strategi musuh itu pasti punya kelemahan, dan kelemahan strategi itu tidak akan kita ketahui jika tidak kita hadapi. Bersikaplah sebagaimana burung pemakan padi di sawah, meskipun tahu kalau dipasangi jaring perangkap dan ditungguin pak petani, tapi tetap saja mereka berusaha memakan padi-padi pak tani karena memang itulah makanan mereka. Mereka paham resikonya kena jaring atau lari terbirit-birit karena diusir pak tani, mereka tetap lakukan itu karena menganggap perangkap dan pak tani adalah sebuah keniscayaan, sunnatullah. Tapi padi adalah unsur pokok dalam hidup mereka, maka terjadilah seperti itu. Burung menjadi ujian bagi pak tani, dan pak tani menjadi ujian bagi burung. Jika jihad telah menjadi kebutuhan pokok sang mujahid sebagaimana padi bagi burung, tentu perangkap dan pengawasan musuh tidaklah menjadi penghalang bagi jihadnya. Karena tidak ada yang sempurna di dunia ini, maka mari kita memanfaatkan celah kelemahan musuh yang kita temui di lapangan.

APA YANG HARUS DIPERSIAPKAN UMMAT UNTUK MENDUKUNG JIHAD ?

Selain harus mengambil sikap sebagaimana yang telah kami uraikan dalam bab “ urgensi jihad dan bagaimana seharusnya ummat bersikap”, ada dua hal utama yang harus dipersiapkan atau diperkuat oleh ummat yang mana kedua hal ini adalah yang paling dibutuhkan mujahidin dari ummat terutama untuk setelah amaliyah, yaitu kekuatan harta (ekonomi) dan ukhuwwah Islamiyah yang kuat. Harta sebagai penopang operasional baik bagi sang mujahid maupun keluarganya ketika sang mujahid harus berhijrah, dan ikatan ukhuwwah yang kuat sangat dibutuhkan sebagai perlindungan bagi mujahid dalam hijrah atau escapenya. ( untuk kebutuhan membuat sebuah operasi amaliyah tentu tidak melibatkan ummat karena aturannya memang begitu). Selama ini kendala utama yang dihadapi mujahid ketika harus escape dan hijrah adalah kurangnya dana utk transport dan rumah untuk berlindung bahkan hanya untuk selama barang 2-3 hari pun kesulitan. Akhirnya terpaksa balik ke (rumah) keluarganya. Dan berdasarkan pengamatan kami 90 % penangkapan terjadi di rumah keluarga sang mujahid.

Banyak cerita dari para masjunin yang ketika dalam pelariannya kesulitan mendapatkan ikhwan yang mau menerimanya sebagai tamu, padahal dia datang hanya seorang diri. Berapa kebutuhan makan seorang ikhwan, dan berapa luas tempat tidur yg dibuthkan seorang ikhwan ? Makan hanya 2-3 x sehari, tidur hanya butuh 1 x 2 meter saja, tapi alasan klasiknya adalah : rasa takut atau rasa aman ?

Sebenarnya masalah kurangnya harta ( dana operasional ) masih bisa disiasati jika ikatan ukhuwwah kita kuat. Karena dalam ukhuwwah itu terkandung unsur-unsur pengorbanan, itsar, lapang dada, merasa senasib sepenanggungan di atas dasar tauhid dalam amal jihad.

Satu hal lagi yang perlu dipersiapkan oleh ummat, yaitu kesiapan untuk sewaktu-waktu bila ada sebuah amaliyah jihad agar bersiap bahwa mungkin saja para pelakunya adalah orang-orang yang dia kenal, sehingga jika datang kepadanya untuk meinta perlindungan dia sudah siap. Ini juga bagian dari i’dad. I’dad mental, dan ini justru yang paling penting dan paling dibutuhkan oleh mujahidin. Karena kesuksesan sebuah amaliyah model gerilya kota dinilai dari bagaimana sang mujahid dapat bertahan setelah amaliyah dan bagaimana dia dapat menyusun amaliyah berikutnya. Jika setelah amaliyah lantas dengan mudahnya thoghut menangkap dan membubarkannya, maka yang naik pamor di hadapan masyarakat adalah aparat thoghut. Dan hal ini akan menjadi sangat berat jika ummat belum bisa menjadi tempat berlindung bagi mujahidin.

Maka dari itu kepada kaum muslimin yang rindu tegaknya Islam dan tercapainya Izzul Islam wal muslimin kami serukan agar mulai bersiap dari sekarang untuk menyambut para mujahid Islam yang akan mengguncang singgasana thoghut la’natulloh. Bersiap dalam segala hal yang antum mampu untuk dipersiapkan. Mulai dari harta, mental, kekuatan fisik, dan kreativitas yang sekiranya dibutuhkan dalam jihad, dan harus siap jika tiba-tiba apa yang telah antum persiapkan itu diminta untuk dipergunakan secepatnya. Perkuatlah ikatan ukhuwwah antar ikhwan, jauhi perselisihan, berlapang dadalah terhadap urusan antar ikhwan, satukan persepsi bahwa musuh kita telah bersatu untuk menghancurkan kita, sehingga tidak ada waktu bagi kita untuk berselisih dan mengendorkan ukhuwwah sehingga musuh mudah menumpas kita ketika kita lengah. Ingat. Sekarang adalah zaman perang, dan kita tinggal pilih menjadi objek perang atau pelaku ( subjek) perang. Silahkan ambil posisi antum sesuai maqam yang antum mampu dalam peperangan ini.

Kepada para da’i kami serukan, agar antum mulai mempersiapkan para mad’u antum untuk ambil bagian dari peperangan ini, sampaikan kepada ummat bahwa sudah saatnya kita turut menjadi pelaku perang, bukan selalu hanya menjadi objek atau sasaran perang yang dilancarkan musuh-musuh Islam. Keterlibatan ummat dalam perang ini bisa dalam berbagai cara. Dari bersiap menjadi pelaku amaliyah jihad, menjadi anshar mujahidin, sampai hanya sekedar menjadi penggembira pun tidak masalah. Menjadi penggembira bagi mujahidin dengan menyebarkan berita-berita jihad, membela mereka dari tuduhan-tuduhan keji orang-orang munafiq juga merupakan salah satu maqam dalam jihad. Bahkan andai kata hanya bisa membuat musuh tersenyum kecut atau terganggu dengan aktivitas keislaman kita maka lakukanlah.

Meskipun kami sangat berharap agar para aktiivis dakwah itu mulai mempersiapkan diri untuk sebuah amaliyah, amaliyah yang paling mungkin dilakukan di negri ini. Kami ingin i’dad yang dilakukan bukan hanya naik gunung, berlatih beladiri, namun juga sudah memasuki membuat simulasi penyelamatan para mujahid amiliin, pengintaian dan pengumpulan data-data target,mempelajari jalur logistik yang diperlukan (explosives,silah,dsb. Jangan kalah dengan preman), bahkan jika mungkin berlatih simulasi ighytiyalat dst dst…. namun cukuplah kami merasa senang dengan banyaknya pembela mujahidin di forum-forum internet, grup facebook, dll. Kami berharap semoga jika nanti jika benar-benar terjadi sebuah amaliyah ummat telah siap mendukung dan melindungi mujahidin.

Pada masa jihad fardhu’ain seperti saat ini, hasil dakwah tauhid haruslah jihad fi sabilillah, jika tidak maka buah dari dakwah itu tidak akan bisa segera kita petik. Dan jihad pada hari ini adalah mengikuti pola jihad global, yaitu bagaimana kita bisa menimbulkan kerugian bagi musuh sebesar-besarnya dan menunjukkan kepada ummat bahwa mereka masih punya pembela, masih memiliki mujahidin meski hanya sedikit. Musuh pada hari ini semua telah bersatu di bawah bendera salibis zionis internasional di bawah pimpinan negara syetan Amerika. Amerika telah membagi dunia menjadi dua bagian, bersama kami (amerika) atau bersama teroris (miujahidin). Apakah masih belum jelas siapa musuh kita ?

Bukankah kewajiban jihad itu lebih didahulukan kepada musuh yang paling dekat ? Apakah antum masih berpendapat jihad harus untuk memperoleh kekuasaan (tamkin) di negri di mana jihad berlangsung ? Tamkin itu boleh jadi bukan di negri kita, tapi jika thoghut di negri kita lemah karena terkuras dalam peperangan melawan mujahidin, kita bisa saja memplokamirkan bahwa kita adalah bagian dari Al Qaidah. Dan itu sudah cukup membuat dunia menilai bahwa Indonesia termasuk dalam wilayah “kekuasaan” Al Qaidah, yang tentunya akan semakin membuat musuh (zionis-salibis internasional) semakin ketakutan. Apakah jika kami melawan dan memberi sedikit hukuman kepada pemerintahan thoghut negri ini atas kedhaliman dan pengkhianatan mereka terhadap kaum muslimin lantas jihad kami dikatakan jihad prematur ? Kami hanya ingin membela kaum muslimin dan menunjukkan kepada musuh bahwa kita sebagai ummat muslim masih mampu melawan, bahwa kita masih memiliki izzah. Jika dengan iradah Alloh kemudian musuh menjadi lemah karena aksi kami, dan kaum muslimin semakin tersadar untuk menunaikan kewajiban jihad yang telah lama dibuang dari kehidupannya, maka itu adalah balasan dan karunia Alloh semata kepada kaum muslimin. Kita hanya berkewajiban untuk melaksanakan faridhah jihad. Sebab hanya dengan cara itulah izzul islam wal muslimin dapat kita raih. Itulah cara yang disyariatkan oleh Sang Pembuat Syariat.

Sebab utama musuh semakin menjadi-jadi kedhalimannya terhadap kaum muslimin adalah karena tidak adanya perlawanan dari kaum muslimin, padahal telah ada syariat jihad sebagai pembela. Semakin ditunda jihad semakin merajalela kedhaliman dan kerusakan yang dibuat musuh-musuh Islam. Betul jihad itu perlu kekuatan dan kemampuan, tapi seiring perkembangan jihad global dengan berbagai strateginya, ternyata kita bisa memukul musuh meski hanya seorang diri.

Kami akan uraikan lebih jauh tentang berbagai strategi yang bisa kita mainkan di negri ini pada makalah / buku kami berikutnya,kami buat tersendiri karena ini bersifat detail teknis dan butuh penjelasan tersendiri termasuk di dalamnya syarat untuk bisa memulai sebuah amaliyah dan tips dan trik lapangan yang kami peroleh selama ini. Mohon doanya agar segera dapat kami selesaikan secepatnya.

Kami cukupkan sampai di sini dulu buku pertama dan kedua kami, kami berharap ada kritikan dan masukan dari antum setelah membaca tulisan kami tersebut di atas. Sengaja buku ketiga ( STRATEGI PERLAWANAN ) kami buat terpisah dan tidak kami terbitkan bersamaan karena kami menunggu tanggapan ummat atas tulisan kami di atas. Jika ada kritik, pertanyaan, dan masukan maka tentunya buku yang ketiga akan menjadi lebih baik lagi.

Akhirnya, segala kekurangan dan kesalahan adalah pada diri kami dan kesempurnaan hanya milik ALLOH Ta’ala. Kami memohon ampun kepadaNYA dan berharap semoga amal kecil ini diterima di sisiNYA dan dapat bermanfaat bagi ummat.

Wallohul Musta’an, hasbunalloh wa ni’mal wakiil wal hamdulillaahirabbil ‘aalamiin.

Bumi Hijrah, Rabiul Awwal 1433 H.

Al Faqiir ilaa Rabbihi

Abu Jaisy al Ghareeb

Download :

http://speedy.sh/qS28X/trilogi.pdf

http://uploadmirrors.com/download/0YRWHIWK/trilogi.pdf

Link Blog :

http://jaisyulghareeb.wordpress.com/

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...