Tuesday, March 6, 2012

Buku Kedua - Menghadapi Makar Thoghut


Buku Kedua - Menghadapi Makar Thoghut

by Farell Arsenio on Thursday, 1 March 2012 at 16:59 ·

BUKU KEDUA

MENGHADAPI MAKAR THOGHUT

URGENSI JIHAD DAN BAGAIMANA SEHARUSNYA UMMAT BERSIKAP

Kami tidak akan berpanjang lebar tentang fardhu’ainnya jihad pada hari ini, karena telah berjibun buku dan makalah yang menjelaskannya. Di sini kita akan membicarakan tentang amal, tentang kenapa kita tidak segera beramal (baca: berjihad), apa yang menghalangi kita dari jihad, sudahkah kita menjadi bagian dari amaliyah jihad, bagaimana bentuk jihad di masa ini, siapa apa dan bagaimana sih musuh kita itu, dst dst….


Kami kutipkan kembali ayat-ayat berikut :

Firman ALLOH Ta’ala :

“ mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan Kami, keluarkanlah Kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah Kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah Kami penolong dari sisi Engkau!”.

“orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena Sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.”. ( An Nisaa 75-76)

“ Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat Para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah Amat besar kekuatan dan Amat keras siksaan(Nya).”(An Nisaa 84 )

Di era tiadanya khilafah Islamiyah dan di tengah kondisi ummat Islam yang memprihatinkan di segala sisi kehidupannya, maka tidak ada jalan lain untuk mengembalikan izzul Islam dan Muslimin selain dengan jalan jihad. Sebab dengan jihadlah musuh itu akan mengerti bahwa ummat Islam itu ummat yang mulia, bahwa Islam adalah dienulloh yang haqq yang patut diperjuangkan dengan taruhan nyawa, bahwa ummat Islam itu pantang tunduk kepada kekuasaan thoghut, bahwa ummat Islam itu meskipun lemah namun masih mampu melawan, dan bahwa sesungguhnya kekuasaan dan kekuatan thughut/musuh itu sejatinya lemah. Semua itu hanya bisa dibuktikan dengan amaliyah jihad. Fakta sejarah telah membuktikan, jika kita mau melawan maka sebenarnya musuh itu lemah. Lihatlah Daulah Islamiyah Iraq, Imarah Islam Afghanistan, Imarah Islam somalia, Imarah Islam Maghrib, bagaimana sejarah mereka. Semua berawal dari gerakan perlawanan dalam wujud amaliyah jihad.

Jangan pernah bermimpi kekuasaan thoghut akan tumbang tanpa adanya amaliyah jihad untuk menumbangkannya.

Kami (salah satu dari kami) pernah membuat sebuah tulisan tentang urgensi jihad, yang dimuat di forum Al Busyro. Kami kutipkan isi tulisan itu dalam sub bahasan “ Urgensi Jihad dan Bagaimana Seharusnya Ummat Bersikap” dengan beberapa penambahan dan pengurangan seperlunya.

Sebelum kita memasuki uraian ini lebih lanjut, perlu kita pahami dulu definisi ummat yang kita maksud dalam tulisan ini. Ummat yang kita maksud di sini adalah : “ ummat Islam di negeri ini yang telah faham tauhid yang benar dan telah faham bahwa hukum jihad hari ini adalah fardhu’ain “.

Karena yang akan kita bahas di sini adalah berdasarkan fakta yang terjadi pada ummat dengan definisi di atas. Jadi bukan ummat dalam arti yang umum dan luas.

Kesedihan dan keprihatinan kami melihat kondisi ummat yang seharusnya saling menguatkan namun kenyataanya adalah sebaliknya, sedang terjadi kemunduran dan berkurangnya kekuatan di sana sini akibat dari salah dalam menyikapi ujian dari Alloh Swt, membuat kami mencoba menyumbangkan pemikiran yang semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Wallohul Musta’an.

Ikhwah sekalian yang semoga dirahmati Alloh ……

Hukum jihad yang telah menjadi fardhu’ain pada hari ini semua telah sepakat. Tapi jika ditanyakan apakah amaliyah jihad bisa dan boleh dilakukan di mana ada musuh yang bisa diserang, di sinilah mulai timbul syubhat dan perdebatan. Segolongan orang berpendapat boleh dilakukan kapan saja dan di mana saja baik oleh perorangan maupun berkelompok dan segolongan yang lain berpendapat harus nunggu sampai semua syarat yang mereka tetapkan terpenuhi. Dua kubu inilah yang di kemudian hari saling berbenturan dan buruknya menjadikan kita berlarut-larut dalam perdebatan dan justru melupakan bahwa musuh selalu mengembangkan strategi makarnya, mengakibatkan melemahnya ukhuwah dan solidaritas, dan juga timbulnya saling su’uzhon.

Mari kita coba uraikan pokok persoalan ini. Selama ini kami melihat perbedaan di atas muncul dari perbedaan melihat apakah sebuah amaliyah jihad itu termasuk jihad dalam rangka memperoleh tamkin (kekuasaan) atau hanya baru bersifat difa’i ( pembelaan ). Kita mulai pembahasannya berikut ini.

Sejak jatuhnya Andalusia ke tangan penjajah kafir, sejak saat itu jihad menjadi fardhu’ain sampe kita bisa mengembalikan atau membebaskan kembali seluruh tanah negri Islam ke dalam kekuasaan kaum muslimin. Terlebih lagi setelah runtuhnya benteng terakhir ummat Islam yaitu runtuhnya khilafah Utsmaniyah di Turki pada tahun 1924. Peran khilafah Islamiyah yang selama ini bisa melindungi ummat dari makar keji musuh-musuh Islam telah sirna pula, sehingga sejak saat itu pula ummat Islam menjadi bulan-bulanan sasaran makian,hujatan, cacian, pelecehan, pembesihan etnis, dll dll… tidak ada satu kekuatan pun yang mampu menjadi pembela. Hingga akhirnya Alloh mulai turunkan pertolongannya dengan terbukanya front jihad di Afghanistan pada thn 80 an. Jihad Afghan telah membuka mata dunia bahwa sebenarnya kaum muslimin itu sangat kuat, terbukti dengan runtuhnya Uni Sovyet yang tidak mampu menghadapi mujahidin. Singkat cerita, akibat makar musuh, buah jihad yang hampir busuk itu diselamatkan Alloh dengan adanya Thaliban. Ruh jihad yang bermula dari Afghan dan dibawa ke seluruh dunia oleh para mujahidin diupayakan untuk disatukan dan dimanajemen oleh sebuah tandhim yang paling menakutkan bagi musuh yaitu AL QAIDAH menjadi satu kekuatan global tanpa batas negara yang bisa berada di mana saja dan menyerang kapan saja. AQ telah menjelma menjadi kekuatan pembela ummat dan pemukul bagi musuh-musuh, contohnya terlalu banyak untuk disebutkan. Silahkan antum cari sendiri.

Bisa berada di mana saja dan menyerang kapan saja adalah ciri khas Al Qaidah. Semua itu dalam rangka memenuhi dua kewajiban amanah yang harus ditunaikan, yaitu amanah untuk membela kaum muslimin yang tertindas sekian lama dan amanah membentuk satu tatanan dunia yang kuat yang sesuai dengan manhaj nubuwwah. Artinya, jihad hari ini adalah bersifat pembelaan sekaligus juga bagian dari jihad untuk memeperoleh tamkin (memperoleh kekuasaaan).

Yang harus kita pahami adalah untuk bisa beralih pada tahap tamkin, maka pada fase jihad pembelaan ( difa’i) kita harus bisa menimbulkan kerugian yang sebesar-besarnya pada musuh, melemahkan kekuatan mereka selemah-lemahnya, hingga ketika kita ajak ummat yang lebihh luas lagi untuk berjihad tidak ada alasan lagi kekuatan kita belum cukup, musuh terlalu kuat, dst dst…!!!!

Ikhwatiyal kirom…

Inti dari pembahasan kita ini adalah kondisi ummat di dalam negeri ini, maka sekarang mari melihat ke dalam negri kita. Amaliyah jihad yang telah terjadi selama ini di Indonesia termasuk berada di tahap yang mana ? Ini penting untuk kita pahami bersama, karena dari pemahaman itulah kita bisa menentukan sikap yang benar terhadap amaliyah jihad yang terjadi selama ini. Kalau kita cermati, semua amaliyah jihad sejak dari jihad Ambon- Poso, Bom Natal 2000, Bom Bali I & II, sampai yang terakhir Bom Cirebon dan Solo adalah bentuk amaliyah jihad yang bersifat difa’i ( pembelaan ), belum bisa dikategorikan masuk tahap jihad untuk memperoleh tamkin. Sehingga jika ada yg menilai itu sebagai salah langkah, prematur, kurang perhitungan, tak paham aspek politik, dsb dsb…itu bisa dipastikan adalah dari golongan yang beranggapan bahwa jihad itu harus untuk memperoleh tamkin.

Memang benar, tujuan akhir yang ingin diperoleh adalah tamkin. Namun jangan lupa, ummat perlu tarbiyah dan contoh amal nyata bahwa ummat ini masih memiliki pembela yang mampu menggentarkan musuh, juga butuh contoh nyata aksi pembelaan atas kedhaliman dan kekejaman musuh terhadap mereka selama ini. Selain itu, amaliyah jihad difa`i juga berfungsi sebagai kawah ujian dan latihan untuk mengembangkan kemampuan tempur dan strategi mujahidin. Jadi, untuk dapat melakukan jihad untuk tamkin maka jihad difa’i harus dilakukan sebanyak mungkin dengan target melemahkan kekuatan musuh selemah-lemahnya, sehingga ketika jihad tamkin diserukan kepada ummat tidak ada alasan lagi bahwa musuh terlalu kuat dst dst…karena terbukti bahwa musuh itu berhasil dilemahkan.

Setelah kita paham bahwa amaliyah jihad selama ini di negri ini adalah bersifat difa’i, maka seharusnya kita sepakat menjadi bagian dari barisan pendukung jihad dan mujahidin, bukan malah dengan menimbulkan fitnah koreksi terhadap suatu amaliyah yang kemudian ditanggapi dengan berlebihan pula oleh para pendukung amaliyah. Juga kisah-kisah memprihatinkan dalam tulisan “ Risalah dan Nida’at”-nya ust Urwah rahimahullah, dan dalam tulisan “ Pergilah Bersama Rabb-mu” nya al akh Abdul Barr al Harbiy seharusnya tidak terjadi lagi. Ingatlah, pada kondisi Jihad-terlebih pada kondisi difa’i- setiap perkataan dan perbuatan yang melemahkan jihad adalah dosa besar, dan pengobaran semangat berjihad adalah wajib.

Bagaimana seharusnya ummat ini bersikap terhadap berbagai amaliyah jihad (difa’i) di negri ini selama ini ? Mari kita belajar dari bagaimana Thaliban bersikap terhadap AQ pasca serangan WTC 2001. Lihatlah Taliban, mereka tidak pernah-dan tidak akan pernah- menyalahkan AQ yang menyerang WTC yang kemudian mengakibatkan negri mereka diserang oleh pasukan koalisi salibis internasional hingga saat ini. Bahkan mereka kemudian bersatu padu dalam satu barisan menghadapi musuh-musuhnya dengan gagah perwira. Tidak ada keluh kesah yang mereka ungkapkan. Begitulah seharusnya ummat ini bersikap !!

Apa yang kita alami di negri ini akibat dari amaliyah ikhwan-ikhwan jauh dari apa yang mereka alami di sana, belum ada seujung kukunya. Keikhlasan kita menjalani kehidupan yang lebih susah ( dakwah yg semakin berat, ma’isyah yg semakin susah, berkurangnya keleluasaan bergerak, dll dll ) akan bernilai sebagai bentuk dukungan terhadap jihad-yg fardhu’ain- dan mujahidin, dan menjadikan kita sebagai satu kesatuan dalam barisan jihad.

Sebenarnya dengan adanya suatu amaliyah, itu bisa menjadi titik awal dalam menggalang dan menyatukan kekuatan atau bisa juga menjadi titik awal perpecahan dan tercerai berainya kekuatan, tergantung bagaimana ummat menyikapinya. Dan musuh-musuh itu sangat paham kondisi seperti ini. Maka mereka kirimkan ahli-ahli pembuat syubhat ke tengah-tengah ummat, mereka gunakan segala sumber daya dan media yg mereka miliki untuk melemahkan kekuatan ummat. Kita harus memahami ini.

Ada atau tidaknya amaliyah jihad, thoghut itu tetap akan berusaha sekuat tenaga untuk mencegah terjadinya amaliyah jihad. Jika kemudian tetap terjadi sebuah operasi jihad (difa’i), maka itu jelas akan memperberat pekerjaan mereka, yang semula hanya mencegah bertambah dengan harus menanggulangi dan menindak para pelakunya. Dan tentu saja, upaya mereka memberantas dan mencegah amaliyah jihad akan semakin gencar.

Jika kita telah mengetahui bahwa musuh akan semakin gencar dalam memusuhi jihad dan mujahidin pasca terjadinya suatu amaliyah jihad, maka yang semestinya kita lakukan adalah semakin memperkuat barisan, mempererat ukhuwwah, meningkatkan solidaritas, melupakan trauma, menjauhi perdebatan yang tidak penting dan saling su’uzhon. Agar makar musuh-musuh itu menemui kegagalan dan mengalami kerugian yang besar. Bukan dengan sebaliknya, saling “mengingatkan” agar tidak terimbas akibat amaliyah jihad, hatta menjenguk seorang masjunin saja tidak berani padahal dirinya tidak sedang berudzur.

Kita juga jangan sampai terlalu berlarut-larut menyibukkan diri dengan perdebatan yang tidak perlu. Lebih baik gunakan energi dan pikiran kita untuk memikirkan strategi baru yang lebih baik dalam menghadapi musuh. Musuh itu 24 jam bekerja mengintai dan mencari kelemahan kita sementara kita tidak menyadarinya. Pelajari pola gerakan dan strategi musuh, pikirkan cara menghadapinya, cara memperoleh logistik yang dibutuhkan dengan cepat, dll dll. Itu insya Alloh lebih bermanfaat dari menyibukkan diri dalam perdebatan.

Kita mungkin trauma atau kecewa dengan kejadian tertawannya banyak ikhwan mujahidin akibat operasi penindakan yang dilakukan thoghut, porak porandanya sariyah jihad yang dibangun, dll dll. Tapi janganlah itu semua membuat kita lemah, apalagi surut langkah. Janganlah rasa trauma dan kecewa karena terbongkar, kecewa karena kurang rapi dll itu membuat kita berhenti beramal. Jadikanlah semua itu sebagai pelajaran agar dikemudian hari kita bisa berbuat lebih baik lagi. Itu semua tidak boleh menjadi alasan untuk surut langkah. Seorang mu’min itu cerdik, gunakan semua kemampuan yang Alloh berikan semaksimal mungkin dan jangan berputus asa. Jalan (jihad) ini masih panjang.

Buatlah para mujahidin merasa nyaman dalam beramal dengan cara mengambil sikap seperti yang telah kita uraikan di atas. Mari kita pikul bersama beban jihad ini, sungguh amaliyah jihad itu merupakan tanggungjawab ummat (bersama). Kalau beban itu hanya dibebankan kepada mujahidin, tentu itu menjadi sangat berat, yang menyebabkan semakin sedikit orang yang mau dan mampu berjihad. Jika tanpa kita sadari sikap kita telah menyebabkan mujahidin menjadi lebih mudah tertangkap, menelantarkan keluarga mujahidin yg tertawan, menyakiti perasan mujahidin, dll dll…maka maari kita segera bertaubat kpd Alloh.

Kisah – kisah sedih seperti yang disebutkan dalam “ Risalah dan Nida’at”-nya ust Urwah rahimahullah, dan dalam tulisan “ Pergilah Bersama Rabb-mu” nya al akh Abdul Barr al Harbiy tidak boleh terjadi lagi pada kita. Cerita dari seorang syaikh bahwa pasca operasi penangkapan peserta I’dad Aceh banyak donatur besar yang mengundurkan diri juga sepatutnya tidak terjadi lagi. Selagi pintu taubat masih terbuka, belum ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Bersikaplah sebagaimana sikap Taliban kepada Al Qaidah pasca serangan WTC 2001 dan ingatlah bahwa kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Alloh Swt atas segala sikap kita terhadap jihad dan mujahidin

Wallahul musta’an…

TUNTUTAN DAN KONSEKWENSI IBADAH JIHAD

Sebenarnya yang ingin kami uraikan di sini adalah tentang syubhat “mashlahah dan mafsadah” yang mana seringkali dijadikan alasan untuk menunda-nunda jihad dan “menghindari” kewajiban ikut menanggung beban jihad yang dilakukan oleh sekelompok kecil mujahidin. Menurut kami, inilah syubhat terbesar yang menghalangi kaum muslimin dari berjihad dan mendukung mujahidin. Padahal sebenarnya semua kejadian yang menjadi efek -baik yang bagus maupun yang buruk- dari sebuah amaliyah jihad adalah sebuah keniscayaan. Hatta seorang Rasulullaah saw pun pernah mengalami kejadian yang -menurut orang bodoh- buruk dalam sebuah operasi jihad. Karena kewajiban seorang hamba adalah menunaikan perintah dan menyerahkan hasilnya kepada Sang Pembuat Syariat.

Pada pembahasan kali ini kami banyak mengutip penjelasan dalam sebuah makalah yang pernah dimuat di :http://diarysangterroris.blogspot.com/2009/11/4-mengabaikan-pertimbangan-maslahat-dan.html , karena memang rujukan kitabnya maupun qoul ulamanya sama dengan yang kami ambil sebagai rujukan.

Banyak kaum muslimin yang mengakui bahwa jihad fi sabilillah merupakan sebuah kewajiban syariat. Mereka juga menyatakan bahwa hukum jihad saat ini adalah fardhu ‘ain atas setiap mukalaf yang mampu (seorang muslim, laki-laki, baligh, berakal sehat, sehat fisiknya dan mempunyai kemampuan atau biaya).

Namun mereka tidak setuju dengan pelaksanaan operasi-operasi jihad pada saat ini. Menurut mereka, maslahat menuntut penundaan jihad fi sabilillah sampai suatu masa tertentu nanti. Pelaksanaan jihad pada saat ini, justru menyebabkan mafsadah (kerugian dan kerusakan) yang lebih besar. Para aktivis Islam ditangkap, aktivitas dakwah dan pendidikan dipantau secara ketat, dukungan masyarakat kepada gerakan Islam melemah, umat Islam takut melaksanakan syiar-syiar Islam dan sederet kerusakan lainnya.

Intinya, operasi-operasi jihad justru menghambat perkembangan dakwah, pendidikan dan amal sosial keislaman. Jihad justru membuat dakwah mundur beberapa tahun ke belakang. Kerusakan yang ditimbulkan oleh operasi-operasi jihad justru lebih besar, dari maslahat (kebaikan) yang diraih. Oleh karenanya, operasi-operasi jihad tidak dibenarkan oleh syariat, dan harus dihentikan.

Mari kita bahas hal ini lebih jauh agar semuanya menjadi jelas, apakah benar klaim-klaim dan pernyataan-pernyataan di atas bisa dibenarkan atau tidak.

• Islam adalah ajaran Rasul terakhir untuk seluruh umat manusia dan jin, sampai hari kiamat nanti. Sebagai sebuah way of life yang bersifat sempurna, kekal dan berlaku untuk seluruh makhluk, Islam telah menerangkan pokok-pokok seluruh kebutuhan hidup manusia dan jin ; mulai dari urusan WC sampai urusan negara, sejak bangun tidur sampai tidur kembali, urusan di waktu siang maupun malam.

Allah Ta’ala berfirman :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat kalian dan telah Kuridhai Islam sebagai agama kalian..” (QS. Al Maidah :3).

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَىْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

” Dan Kami datangkan kamu (Muhammmad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Nahl :89).

• Syariat Islam ditetapkan oleh Allah Ta’ala, yang mempunyai sifat Maha Sempurna, Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, Maha Adil, Maha Mengasihi hamba-Nya . Sebagai sebuah aturan kehidupan yang ditetapkan Allah Ta’ala, syariat Islam menjadi cerminan dari ke-Maha-an Allah Ta’ala. Oleh karenanya, syariat Islam adalah syariat rahmat, keadilan, kebijaksanaan, kebaikan dan pemeliharaan maslahat hamba baik di dunia maupun di akhirat. Allah Ta’ala berfirman :

يَآأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus :57).

Seorang muslim harus meyakini bahwa setiap hal yang disyariatkan Allah kepada hamba-Nya pasti membawa maslahat bagi hamba. Allahlah Yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Oleh karenanya, nash syariat tidak akan pernah bertentangan dengan maslahat.

Syaikhul Islam mengatakan :

” …syariah tidak pernah mengabaikan satu maslahat-pun. Bahkan Allah Ta’ala telah menyempurnakan dien dan menggenapkan nikmat. Tidak ada satu halpun yang mendekatkan ke surga, kecuali Nabi Shallallahu alaihi wa salam telah memberitahukannya kepada kita. Beliau meninggalkan kita di atas jalan yang terang, malamnya bak siang, tiada seorangpun yang menyeleweng darinya kecuali pasti akan binasa. Apa yang diyakini oleh akal sebagai sebuah maslahat, sementara syariat tidak menyebutkannya, tidak lepas dari salah satu dari dua kemungkinan : Pertama. Syariat telah menunjukkan maslahat tersebut, namun orang ini tidak menyadarinya. Kedua. Perkara tersebut bukan sebuah maslahat, sekalipun orang ini menganggapnya sebagai sebuah maslahat. Karena yang disebut maslahat adalah manfaat yang telah teraih atau manfaat yang lebih dominan (dari kerusakannya). Dalam hal ini, seringkali manusia menganggap sebuah perkara membawa manfaat untuk agama dan dunia, padahal sebenarnya manfaatnya dikalahkan oleh bahaya (kerusakannya). Sebagimana firman Allah tentang minuman keras dan perjudian : Katakanlah (wahai Muhammad), di dalam kedua perkara itu ada dosa dan manfaat bagi manusia. Namun dosanya lebih besar dari manfaatnya.”

• Dalam menerapkan dan melaksanakan nash-nash syariat, kita memang harus mempertimbangkan aspek maslahat dan mafsadat yang ditimbulkan. Namun, pertimbangan maslahat dan mafsadat tersebut juga harus dibangun di atas landasan dalil-dalil syar’i, bukan berdasar penapat pribadi, kemauan dan hawa nafsu. Syaikhul Islam mengatakan ;

” Jika terjadi kontradiksi atau campur baur antara beberapa maslahat dan beberapa kerusakan, beberapa kebaikan dan beberapa keburukan, wajib diadakan tarjih (menentukan yang lebih besar dan dominan). Sekalipun perintah dan larangan (syariat) mengandung pencapaian maslahat dan penolakan mafsadah, namun perlu dilihat juga kebalikannya. Jika maslahat yang lepas lebih besar, atau mafsadah yang terjadi lebih besar, maka saat itu (perintah syariat) tersebut tidak diperintahkan, bahkan diharamkan apabila mafsadahnya lebih besar dari maslahatnya.

Namun pertimbangan kadar maslahat dan mafsadat adalah dengan parameter (tolok ukur) syariat. Kapan seseorang mampu untuk mengikuti nash-nash syariat, ia tidak boleh keluar darinya. Jika tidak mampu mengikuti nash, maka ia harus berijtihad untuk mengetahui hal-hal yang semisal dan serupa dengan perintah yang harus dikerjakan tersebut.”

Jadi, perkiraan dan pertimbangan maslahat harus berdasar syariat. Tidak setiap hal yang dianggap oleh manusia sebagai sebuah maslahat, benar-benar sebuah maslahat menurut tinjauan syariat.

• Bila telah disepakati bahwa syariat hadir untuk merealisasikan maslahat hamba di dunia dan di akhirat, dan pertimbangan maslahat dan mafsadah dalam melaksanakan sebuah perintah atau larangan syariat harus berdasar timbangan syariat (nash-nash Al-Qur’an, as-sunah atau ijma’). Maka harus dipahami, bahwa menunda sebuah perintah atau larangan syariah (misalnya, perintah jihad) dengan alasan akan menyebabkan lepasnya maslahat yang lebih besar (misalnya, klaim kemunduran dakwah) atau mendatangkan mafsadah yang lebih besar (misalnya, klaim penangkapan para aktivis, putra-putra terbaik umat Islam), adalah termasuk dalam bab “maslahat mursalah”.

Menurut syariat, maslahat dibagi menjadi tiga :

1- Maslahat Mu’tabarah : Yaitu maslahat yang keberadaannya diakui dan ditegaskan oleh nash-nah syar’i atau ijma’. Para ulama sepakat, maslahat jenis ini wajib diterima.

2- Maslahat Mulghah : Yaitu apa yang dianggap oleh manusia sebagai sebuah maslahat, namun nash-nash syar’i atau ijma’ menyatakannya sebagai sebuah mafsadah. Para ulama sepakat, maslahat jenis ini wajib ditolak.

3- Maslahat Mursalah : Yaitu apa yang dianggap oleh manusia sebagai sebuah maslahat, namun nash-nash syariat atau ijma’ membiarkannya, tidak menyebutkan sebagai sebuah maslahat atau mafsadah.

Sebagian ulama menamakannya dengan istilah istihsan, istidlal wal jawab, al-tahsin al-’aqli, al-ra’yu atau adz-dzauq al-shufi. Karena syariat Islam datang untuk merealisasikan maslahat dan menolak mafsadah, ada dan tidaknya maslahat mursalah ini menjadi ajang perdebatan panjang para ulama ushul. Mereka terpecah dalam beberapa pendapat :

a- Mayoritas ulama berpendapat ; sama sekali tidak boleh menetapkan hukum atau berdalil dengan maslahat mursalah.

b- Imam Malik berpendapat : boleh mempergunakan maslahat mursalah secara mutlak (bebas). Demikian menurut keterangan imam al-haramain Al-Juwaini. Namun pernyataan imam Al-Juwaini ini dibantah oleh imam Al-Qurthubi, karena setelah diteliti dalam buku-buku imam Malik atau murid-muridnya, tidak didapati penegasan imam Malik atas bolehnya menggunakan maslahat mursalah secara bebas. Yang ada, Imam Malik lebih banyak mempergunakan maslahat mursalah dibanding para ulama lain. Menurut Imam Al-Amidi, maksud imam Malik adalah kebolehan berdalil dengan maslahat secara bebas, bila maslahat tersebut bersifat dharuriyah, qath’iyah dan kulliyah.

c- Imam Syafi’i dan sebagian besar murid imam Abu Hanifah berpendapat : boleh menetapkan hukum berdasar maslahat mursalah, dengan syarat maslahat tersebut mempunyai kesesuaian dengan maslahat mu’tabarah.

d- Imam Al-Ghazali, Al-Amidi, Al-Baidhawi, Al-Qurthubi dan Al-Syaukani berpendapat : boleh menetapkan hukum dengan maslahat mursalah selama memenuhi tiga syarat. Bila salah satu atau lebih syarat tidak terpenuhi, maka tidak boleh berdalil dengan maslahat mursalah. Ketiga syarat tersebut adalah :

  1. Maslahat tersebut bersifat Dharuriyah : artinya, benar-benar merealisasikan tujuan syariat untuk menjaga kemaslahatan lima perkara pokok, yaitu dien, nyawa, akal, kehormatan (nasab) dan harta. Urut-urutan prioritas penjagaan kelima hal pokok ini adalah : agama, lalu nyawa, lalu akal, lalu kehormatan dan terakhir harta. Penjagaan terhadap maslahat agama, misalnya, harus didahulukan atas maslahat nyawa Maslahat nyawa, harus didahulukan atas maslahat akal. Dan seterusnya.

  2. Maslahat tersebut bersifat Kulliyah (menyeluruh): artinya, maslahat tersebut mencakup kepentingan seluruh atau mayoritas kaum muslimin.

  3. Maslahat tersebut bersifat Qath’iyah (pasti) : artinya, benar-benar bisa terealisasi, bukan sekedar angan-angan. Untuk itu, maslahat tersebut tidak boleh bertentangan dengan nash-nash syar’I, ijma’ atau qiyas shahih (qiyas yang benar).

Maslahat mursalah menjadi polemik di kalangan ulama, mengingat menerima dan mempraktekkan maslahat mursalah —secara tidak langsung, terkesan— berarti menganggap Allah sebagai pembuat syariat Islam tidak mengetahui atau melupakan sebagian perkara yang membawa maslahat bagi hamba. Tentu saja, hal ini menjadi sebuah pendapat yang “sensitif” dan sangat “berbahaya”.

Maslahat mursalah, banyak berpijak kepada pandangan dan penilaian akal. Padahal, setiap ulama tentu mempunyai perbedaan pandangan ; apa yang dianggap oleh seorang ulama sebagai sebuah maslahat, ulama lain mungkin memandangnya sebagai sebuah mafsadah, atau sebaliknya. Jika jumlah ulama adalah ribuan, secara otomatis akan terdapat banyak pendapat —mungkin ribuan —. Karenanya, sebagian ulama menyebutnya sebagai “menetapkan syariat dengan akal semata.”

Bila hal ini dibiarkan, pasti akan menimbulkan kerawanan dan kekacauan. Oleh karenanya, perlu dibuat kaedah-kaedah maslahat mursalah yang disepakati oleh seluruh atau mayoritas pihak. Dari berbagai pendapat ulama ushul, para ulama peneliti menyimpulkan bahwa maslahat mursalah bisa dipakai bila memenuhi beberapa persyaratan :

• Maslahat tersebut bersifat dharuriyah.

• Maslahat tersebut bersifat qath’iyah.

• Maslahat tersebut bersifat kulliyah.

• Maslahat tersebut tidak menyebabkan lepas atau hilangnya maslahat mu’tabarah lain yang sebanding atau lebih besar.

• Maslahat tersebut tidak mendatangkan mafsadah lain yang sebanding atau lebih besar.

Dengan adanya beberapa persyaratan ini, klaim-klaim maslahat mursalah akan bisa diukur dan dinilai dengan tepat. Akhirnya, seorang ulama —apalagi bukan ulama— tidak akan sembarangan menetapkan sebuah hukum berdasar pendapat pribadi, kemauan dan hawa nafsunya, dengan mengatas namakan maslahat mursalah.

Sekarang, mari dikaji bersama klaim bahwa mafsadah operasi-operasi jihad saat ini justru lebih besar dari manfaatnya. Menimbang antara maslahat dan mafsadah mempunyai beberapa kaedah yang telah ditetapkan oleh syariat. Di antara kaedah-kaedah tersebut adalah :

1- اَلْمَفْسَدَةُ الَّتِي ثَبَتَ اْلحُكْمُ مَعَ وُجُودِهَا بِدَلِيْلٍ (مِنْ نَصٍّ أَوْ تَقْرِيْرٍ أَوْ إِجْمَاعٍ أَوْ قِيَاسٍ) غَيْرُ مُعْتَبَرَةٍ.

(1)- Bila sebuah hukum telah ditetapkan berdasar dalil (nash Al-Qur’an atau as-sunah, sunah taqrir, ijma’ atau qiyas), adanya mafsadah dalam hukum tersebut tidak diperhitungkan dan harus diabaikan.

Kaedah ini mementahkan pendapat sebagian pihak yang menyatakan jihad membawa mafsadah yang lebih besar, jihad menyebabkan kehilangan banyak tenaga da’i dan obyek dakwah, jihad mempersempit ruang gerak dakwah, dan seterusnya. Mafsadah seperti ini sudah ada sejak zaman Nubuwah, saat jihad pertama kali disyariatkan. Meski demikian, jihad tetap disyariatkan dan dijalankan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam. Beliau juga memberangkatkan para sahabat tanpa membeda-bedakan “ini da’i, ini ulama, ini pebisnis, ini obyek binaan dakwah, dan seterusnya”.

Di antara para syuhada’ Uhud terdapat da’i pertama Islam di Madinah, Mush’ab bin Umair. Dalam beberapa peperangan, para pemimpin senior (qiyadah) sahabat yang diangkat dalam Baiat ‘Aqabah Kedua banyak yang terbunuh, seperti Usaid bin Hudhair, Sa’ad bin Rabi’, Abdullah bin Rawahah, Sa’ad bin Mu’adz dan seterusnya. Dalam perang Yamamah, puluhan dan bahkan ratusan ulama sahabat penghafal Al-Qur’an terbunuh.

Meski terdapat mafsadah yang cukup besar, dalil-dalil Al-Qur’an, As-Sunah dan ijma’ tetap menetapkan perintah jihad, tanpa mempertimbangkan terbunuhnya “putra-putra terbaik pergerakan Islam”, “terbunuhnya para pemimpin, ulama dan da’i”. Bahkan mafsadah-mafsadah ini dibantah oleh banyak ayat dan hadits, seperti :

قُل لَّوْ كُنتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَى مَضَاجِعِهِمْ

“…Katakanlah:”Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh.” (QS. Ali Imran :154).

الَّذِينَ قَالُوا لإِخْوَانِهِمْ وَقَعَدُوا لَوْ أَطَاعُونَا مَا قُتِلُوا قُلْ فَادْرَءُوا عَنْ أَنفُسِكُمُ الْمَوْتَ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

” Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang:”Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh”. Katakanlah:”Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Ali Imran : 168).

Kaedah ini juga mementahkan klaim sebagian pihak bahwa operasi-operasi jihad saat ini memancing reaksi musuh untuk memberikan balasan yang lebih keras. Mafsadah ini juga sudah ada sejak zaman nubuwah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam memulai aksi-aksi penghadangan terhadap kekuatan ekonomi Quraisy, sehingga kaum Quraisy membalas dengan mengirim pasukan ke Badar dan Uhud.

Kaedah ini juga mementahkan klaim sebagian pihak, bahwa operasi-operasi jihad menyebabkan kekacauan, ketidak stabilan politik dan keamanan, tekanan kepada para aktivis Islam dan gerakan-gerakan dakwah, tarbiyah serta amal-amal sosial Islam. Sahabat Abu Bakar radiyallahu ‘anhu tetap memberangkatkan pasukan Usamah bin Zaid. Pun memberangkatkan sebelas pasukan untuk memerangi para pengikut nabi palsu dan orang-orang yang menolak membayar zakat. Padahal, pengiriman pasukan saat itu sangat tidak relevan dengan kondisi keamanan Madinah yang sangat kritis dan di ujung tanduk. Seluruh penduduk Jazirah Arab telah murtad (selain penduduk Makkah, Madinah, dan Bahrain). Kaum arab badui sekitar Madinah juga menunggu-nunggu momentum yang tepat untuk melakukan serangan mematikan. Dalam kondisi kritis tersebut, sahabat Abu Bakar menyatakan,” Demi Allah, seandainya anjing-anjing mengoyak pakaian yang dikenakan para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam, saya tetap akan memberangkatkan pasukan.”

Pengiriman pasukan saat itu sangat tidak relevan dengan kondisi keamanan Madinah yang sangat kritis dan di ujung tanduk. Seluruh penduduk Jazirah Arab telah murtad (selain penduduk Makkah, Madinah, dan Bahrain). Kaum arab badui sekitar Madinah juga menunggu-nunggu momentum yang tepat untuk melakukan serangan mematikan. Dalam kondisi kritis tersebut, sahabat Abu Bakar menyatakan,” Demi Allah, seandainya anjing-anjing mengoyak pakaian yang dikenakan para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam, saya tetap akan memberangkatkan pasukan.”

Pemberangkatan pasukan Usamah adalah berdasar perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam sebelum wafat, sedang pemberangkatan 11 pasukan melawan kaum murtad adalah untuk menjaga keutuhan tauhid, sholat dan zakat. Benar, mafsadah yang ditimbulkan oleh pemberangkatan pasukan adalah besar. Namun karena nash-nash syar’i telah memerintahkan untuk memberangkatkan pasukan, jihadpun dilaksanakan dan mafsadah diabaikan. Dan ternyata, perintah syariat senantiasa membawa maslahat bagi hamba-Nya.

2- َاْلمَفْسَدَةُ الَّتِي تُلْغِي الْحُكْمَ ، هِيَ اْلخَارِجَةُ عَنِ الْمُعْتَادِ فِي مِثْلِهِ ، الزَّائِدَةُ عَنِ اْلمَفْسَدَةِ اللاَّزِمَةِ ِلأَصْلِهِ.

[2]- Mafsadah yang bisa menggugurkan sebuah hukum, adalah mafsadah yang sudah di luar batas kewajaran dari hukum yang semisal dengannya.

Sebagian hukum syariat memang mengandung bahaya. Bila bahaya tersebut masih dalam batas kewajaran dalam hukum semisal dengannya, maka hukum tetap dijalankan. Adapun bila sudah berada di luar batas kewajaran dalam hukum yang semisal dengannya, maka hukum tersebut boleh ditinggalkan atau ditunda karena adanya bahaya tersebut.

Contoh : amar makruf nahi munkar adalah sebuah ibadah dan hukum syariat yang mengandung unsur bahaya dan resiko. Bila resiko yang ditimbulkan oleh amar ma’ruf nahi munkar adalah dipukuli, diejek atau dibenci pelaku kemungkaran, maka perintah amar ma’ruf nahi munkar harus tetap dijalankan karena resiko seperti ini masih dalam taraf wajar untuk sebuah hukum seperti amar ma’ruf nahi munkar. Bila resiko yang ditimbulkan adalah pembunuhan atau pemenjaraan, maka amar ma’ruf nahi munkar boleh ditinggalkan atau ditunda, karena resiko ini sudah diluar batas kewajaran.

Berbeda dengan jihad. Sejak awal, jihad yang berarti perang memang beresiko sangat tinggi ; hancurnya harta benda, terbunuh, tertawan, mendapat balasan musuh. Jika dengan adanya resiko ini jihad harus ditinggalkan, tentu saja tidak benar karena semua resiko ini adalah sifat yang melekat erat dengan jihad, sebuah mafsadah yang tidak bisa dipisahkan dari jihad. Dengan kata lain, terbunuh, tertawan, mendapat balasan keras dari musuh adalah resiko dan mafsadah yang masih dalam taraf kewajaran sehingga tidak bisa dijadikan alasan untuk menggugurkan atau menunda hukum jihad.

Kaedah ini juga berlaku untuk hukum-hukum lain. Contoh : Zakat harta. Banyaknya harta yang harus dibayarkan sebagai zakat (20 %, misalnya), tidak bisa menggugurkan atau menunda pembayaran zakat. Sebaliknya, sekalipun seorang muslim adalah seorang milyader, namun bila untuk sekedar berwudhu ia harus membayar harga yang lebih dari satu mitsl, ia boleh bertayamum karena pengeluaran biaya air untuk wudhu ini sudah di luar batas kewajaran orang berwudhu.

3- اَلْمَفْسَدَةُ الَّتِي يُفْضِي اِعْتِبَارُهَا إِلَى تَعْطِيلِ شَعِيْرَةٍ مِنْ شَعَائِرِ الدِّينِ لاَغِيَةٌ.

3- Bila memperhitungkan sebuah mafsadah mengakibatkan penihilan sebuah kewajiban syariat, mafsadah tersebut harus diabaikan.

Adanya sebuah mafsadah yang besar terkadang bisa menjadi alasan untuk menihilkan atau menunda sebuah kewajiban syar’i selama waktu tertentu yang tidak terlalu lama, atau untuk sebuah tempat tertentu. Namun bila adanya mafsadah dijadikan alasan untuk menihilkan hukum asal kewajiban syar’i tersebut, tentu saja tidak bisa diterima. Adanya sebagian kaum muslimin yang terbunuh atau tertawan, mungkin bisa dijadikan alasan untuk menunda jihad sampai beberapa waktu. Namun bila dijadikan alasan untuk meniadakan jihad sama sekali, tentu tidak benar.

4- اَلضَّرَرُ اْلخَاصُ يُحْتَمَلُ لِدَفْعِ الضَّرَرِ اْلعَامِ.

4- Menangung bahaya yang menimpa sebagian kecil kaum muslimin demi menolak bahaya yang akan menimpa mayoritas kaum muslimin.

Contoh ; menyerang musuh yang menjadikan sebagian kaum muslimin sebagai perisai hidup —sekalipun berakibat kaum muslimin tersebut terbunuh secara tidak sengaja—, demi mencegah kemenangan pasukan musuh atas kaum muslimin, yang akan membawa resiko ganda ; membunuh atau menjajah kaum muslimin yang dijadikan perisai dan kaum muslimin lainnya. Begitu juga, menanggung resiko rasa takut, lapar, kekurangan harta, personal dan buah-buahan di sebuah daerah dari negeri Islam, demi menolak resiko serupa atas seluruh kaum muslimin yang lain di seantero dunia.

5 .-اَلنَّاظِرُ فِي الْمَصَالِحِ وَالْمَفَاسِدِ فِي أَمْرٍ يَكُونُ نَظَرُهُ فِيهِ لِكُلِّ مَنْ يَنَالُهُ هَذَا ْالأَمْرُ مِنَ اْلمُسْلِمِينَ.

5- Memandang maslahat dan mafsadah harus mencakup keseluruhan kaum muslimin yang mungkin akan ikut merasakan maslahat atau mafsadah tersebut.

Kaedah ini membantah sebagian pihak yang menimbang maslahat dan mafsadah jihad hanya sebatas wilayah tertentu atau organisasi Islam tertentu, tanpa mengkaji maslahat dan mafsadat yang akan dirasakan oleh seluruh atau mayoritas kaum muslimin di seantero dunia lainnya.

Operasi-operasi jihad telah menimbulkan teraihnya maslahat syar’i, berupa kerugian di pihak musuh yang akan menghalangi mereka untuk melakukan invasi ke negeri-negeri kaum muslimin. Semakin luas medan perang yang dibuat oleh mujahidin, kerugian di pihak musuh akan semakin besar. Karena rasa takut dan kewaspadaan musuh juga harus semakin luas, biaya peperangan juga semakin besar dan meluas, dugaan mereka akan adanya operasi-operasi di setiap negeri kaum muslimin yang mereka khawatirkan, dan gangguan (atau bahkan penihilan) terhadap kepentingan-kepentingan politik-ekonomi mereka di seantero dunia.

Inilah strategi “Front Jihad Internasional” melawan koalisi pasukan salibis-zionis-paganis-komunis internasional pimpinan AS. Memperluas medan jihad dengan memukul seluruh kepentingan strategis musuh di seluruh penjuru dunia. Sebagian kaum muslimin bersikap “egois”, hanya mempertimbangkan maslahat wilayah atau organisasinya semata, tanpa memperhatikan nasib kaum muslimin di negeri-negeri lainnya. Mereka lupa, kemenangan musuh di sebuah negeri kaum muslimin akan memperkuat kekuatan musuh, dan selanjutnya musuh akan memukul “wilayah dan organisasi”nya pula.

Dengan dibukanya fornt di seantero dunia, konsentrasi dan kekuatan musuh akan terpecah di seluruh dunia, dan biaya perang akan semakin besar. Ini akan menyebabkan kerugian dan kelemahan musuh secara pelan-pelan. Akibat lainnya, pusat-pusat kepentingan politik dan ekonomi musuh di seantero negeri-negeri kaum muslimin akan terganggu, dan ini jelas semakin melemahkan musuh.

6- تَرْكُ أُصُولِ الدِّينِ وَوُقُوعُ الشِّرْكِ أَعْظَمُ اْلمَفَاسِدِ عَلَى ْالإِطْلاَقِ.

6- Mafsadah terbesar di sepanjang waktu dan tempat adalah diabaikannya ajaran-ajaran dien (tauhid) dan terjadinya kesyirikan.

Dalam kisah Ghulam dan ashabul ukhdud, maslahat material apa yang diraih oleh ghulam ? Banyaknya pengikut ? Bukankah mereka semua juga ikut dibakar hidup-hidup ? Bukankah yang tersisa hanyalah raja kafir dan bala tentaranya yang kafir, sehingga bebas menegakkan kekafiran mereka lagi ? Maslahat terbesar yang diraih adalah tegaknya tauhid, tumbangnya kesyirikan dan matinya pengikut kebenaran di atas Islam.

Operasi-operasi jihad saat ini mungkin belum menampakkan maslahat material yang berarti. Namun, maslahat spiritual jelas telah nampak terang. Perealisasiaan tauhid uluhiyah, praktek wala’ dan bara’, terpisahnya jalan tentara tauhid dan tentara syirik, terpisahnya kaum beriman dan munafikun, penolakan terang-terangan dengan kekuatan terhadap kekufuran internasional (sistem politik demokrasi, sistem ekonomi kapiltalis, tatanan dunia baru, globalisasi, pasar bebas) dan beberapa maslahat raksasa lainnya —menurut kaca mata syariat—.

Banyak di antara bentuk maslahat ini yang sama sekali tidak bisa diraih secara besar-besaran dan terang-terangan melalui berbagai amal Islami lainnya, semisal dakwah, tarbiyah, aktivitas politik parlementer maupun non parlementer, dan amal-amal sosial keislaman lainnya. Sekalipun menghasilkan maslahat ini, gaungnya sangat kecil, terbatas dalam sekup organisasi dan pengikut semata. Bila dibandingkan dengan operasi-operasi jihad yang telah mengangkat maslahat tersebut ke taraf panggung internasional, tentu hasil dakwah dan tarbiyah relatif jauh lebih kecil.

Tidak heran, bila para pemimpin kafir menuduh mujahidin sebagai kaum Wahhabi, produk lembaga pembelajaran dan pendidikan Islam yang mengajarkan kebencian kepada non muslim. Gaung wala’ dan bara’ sebagai sebuah hasil tarbiyah atau dakwah yang hanya memenuhi otak, tentu lebih kecil dari gaung wala’ dan bara’ yang terwujud dalam operasi-operasi jihad yang menggoyang kemapanan kaum kafir.

Dengan kaedah ini, tentu tidak wajar bila operasi-operasi jihad dinyatakan membawa mafsadat lebih besar karena menyebabkan terbunuh atau tertangkapnya sebagian kaum muslimin. Kenapa mafsadah kekafiran dan kemesuman yang dipaksakan oleh invasi koalisi pasukan salibis tidak dianggap sebagai mafsadah yang lebih besar ?

7. . – تَقْدِيرُ اْلمَفْسَدَةِ فِي أَمْرٍ ، يَكُونُ ِلأَهْلِ اْلعِلْمِ الشَّرْعيِّ وَاْلمَعْرِفَةِ الدُّنْيَوِيِّةِ بِهِ.

7- Penilaian kadar maslahat dan mafsadah sebuah urusan, diserahkan kepada para ulama yang memahami urusan dunia.

Seperti masalah-masalah fiqih lainnya, menilai kasus-kasus operasi jihad juga harus dengan memadukan dua ilmu : ilmu syar’i (ma’rifatu nash) dan ilmu tentang realita peperangan (ma’rifatul waqi’). Bila salah satu ilmu ini tidak ada, bisa dipastikan penilaian yang disimpulkan akan keliru.

Imam Ibnu Qayyim berkata :

وَلاَ يَتَمَكَّنُ اْلمُفْتِي وَلاَ اْلحَاكِمُ مِنَ اْلفَتْوَى وَلاَ اْلحُكْمِ بِالْحَقِّ إِلاَّ بِنَوْعَيْنِ مِنَ اْلفَهْمِ ، أَحَدُهُمَا : فَهْمُ اْلوَاقِعِ وَاْلفِقْهُ فِيْهِ وَاسْتِنْبَاطُ عِلْمِ حَقِيْقَةِ مَا وَقَعَ بِالْقَرَائِنِ وَاْلأَمَارَاتِ وَالْعَلاَمَاتِ حَتَّى يُحِيطَ بِهِ عِلْماً ، وَالنَّوْعُ الثَّانِي : فَهْمُ ْالوَاجِبِ فِي اْلوَاِقعِ وَهُوَ فَهْمُ حُكْمِ اللهِ الَّذِي حَكَمَ بِهِ فِي كِتَابِهِ أَوْ عَلَى لِسَانِ رَسُولِهِ فِي هَذَا الْوَاقِعِ ، ثُمَّ يُطَبِّقُ أَحَدَهُمَا عَلَى اْلآخَرِ.

” Seorang mufti dan seorang hakim (penguasa, qadhi) tidak akan bisa berfatwa dan memutuskan perkara dengan kebenaran, kecuali bila memadukan dua pemahaman (fiqih). Pertama : memahami dan mengerti betul waqi’ (realita), serta menyimpulkan ilmu tentang hakekat realita yang ada dengan qarinah, amarah dan ‘alamat (bukti-bukti dan data-data) sehingga ilmunya meliputi realita. Kedua : memahami apa yang wajib (kewajiban syariat) atas realita, yaitu memahami hukum Allah yang ditetapkan dalam kitab-Nya atau melalui lesan Rasul-Nya atas realita tersebut. Baru kemudian menerapkan yang satu (hukum syariat, pent) atas yang lain (realita).”

Inilah ajaran Islam yang diamalkan oleh para salaf. Karenanya, ketika syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang hukum memerangi pasukan Tartar, beliau menjawab :

نَعَمْ . يَجِبُ قِتَالُ هَؤُلاَءِ بِكِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ وَاتِّفَاقِ أَئِمَّةِ اْلمُسْلِمِينَ ، وَهَذَا مَبْنِيٌّ عَلَى أَصْلَيْنِ : أَحَدِهِمَا ْالمَعْرِفَةُ بِحَالِهِمْ، وَالثَّانِي مَعْرِفَةُ حُكْمِ اللهِ فِي مِثْلِهِمْ

” Ya, wajib memerangi mereka berdasar kitabullah, sunah Rasul-Nya dan kesepakatan para ulama Islam. Hukum ini dibangun diatas dua dasar : Pertama. Mengetahui realita mereka (pasukan Tartar). Kedua. Mengetahui hukum Allah atas orang-orang seperti mereka.”

Demikianlah ilmu, fiqih, pemahaman dan pengamalan para salaf. Fiqhul waqi’ atau ma’rifatu an-nas (memahami realita masyarakat) ini, dalam istilah ushul fiqih disebut dengan Tahqiqul Manath. Imam Asy-Syathibi berkata :

لاَ يَصِحُّ لِلْعَالِمِ إِذَا سُئِلَ عَنْ أَمْرٍ كَيْفَ يَحْصُلُ فِي اْلوَاقِعِ إِلاَّ أَنْ يُجِيبَ بِحَسْبِ الْوَاقِعِ ، فَإِنْ أَجَابَ عَلَى غَيْـرِ ذَلِكَ أَخْطَأَ فِي عَدَمِ اِعْتِبَارِ

اْلمَنَاطِ اْلمَسْئُولِ عَنْ حُكْمِهِ، ِلأَنَّهُ سُئِلَ عَنْ مَنَاطٍ مُعَيَّنٍ فَأَجَابَ عَنْ مَنَاطٍ غَيْرِ مُعَيَّنٍ

” Tidak sah bila seorang ulama ditanya tentang sebuah urusan bagaimana ia bisa terjadi dalam realita, kecuali dengan menjawab sesuai realita yang ada. Jika ia menjawab tidak dengan hal itu (sesuai realita yang ada), maka ia telah berbuat salah karena tidak mempertimbangkan manath yang ditanyakan hukumnya, karena ia ditanya tentang sebuah manath yang tertentu (definitif) namun justru ia jawab dengan manath yang tidak tertentu.”

Jihad fi sabilillah merupakan sebuah ibadah yang unik. Ia mempunyai dua sisi yang tidak bisa dipisahkan ; sisi teori dan sisi praktek. Sisi teori adalah jihad menurut tinjauan ilmu syar’i, dibahas dalam buku-buku tafsir, hadits dan fiqih. Pakar sisi teori ini adalah para ulama. Sisi praktek adalah pekerjaan teknis di lapangan, yang hanya diketahui oleh para pelaku yang mengangkat senjata. Antara teori dan praktek terdapat perbedaan yang tajam, setajam perbedaan langit dan bumi. Teori yang begitu mudah dan indah, sangat kontras dengan praktek yang begitu sukar dan keras.

Oleh karenanya, dunia jihad fi sabilillah hanya akan diketahui secara benar, dari orang-orang yang menguasai kedua fiqih tersebut ; fiqih teori dan fiqih praktek, faham ilmu syar’i dan mengetahui seluk beluk dunia peperangan. Atau menurut istilah imam Ahmad bin Hambal, Ibnu Qayyim dan Asy Syatibi, mengetahui fiqih ahkam syari’ah dan ma’rifatu nas (fiqih waqi’). Merekalah yang layak memberi fatwa dan dimintai fatwa dalam urusan jihad fi sabilillah.

Hal ini dijelaskan oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dengan perkataan beliau :

وَالْوَاجِبُ أَنْ يُعْتَبَرَ فِي أُمُورِ الْجِهَادِ بِرَأْيِ أَهْلِ الدِّينِ الصَّحِيحِ الَّذِينَ لَهُمْ خِبْرَةٌ بِمَا عَلَيْهِ أَهْلُ الدُّنْيَا , دُونَ أَهْلِ الدُّنْيَا الَّذِينَ يَغْلِبُ عَلَيْهِمُ

النَّظَرُ فِي ظَاهِرِ الدِّينِ فَلاَ يُؤْخَذُ بِرَأْيِهِمْ , وَلاَ بِرَأْيِ أَهْلِ الدِّينِ الَّذِينَ لاَ خِبْرَةَ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا

” Yang wajib dilakukan adalah mempertimbangkan urusan-urusan jihad dengan pendapat para ahlu dien shahih yang mempunyai pengalaman dengan kondisi ahlu dunia. Bukan dengan pendapat ahlu dunia (pakar siasat perang, pent) yang hanya melihat dhahir dien semata, mereka ini tidak diambil pendapatnya. Juga bukan dengan pendapat para ahlu dien yang tidak mempunyai pengalaman ahlu dunia (seluk beluk dunia peperangan, pent).”

DR. Abdullah Azzam menjelaskan maksud perkataan syaikhul Islam ini, dengan menyatakan :

أَيْ يُشْتَرَطُ فِي الَّذِي يُفْتِي فِي أُمُورِ اْلجِهَادِ : أَنْ يَكُونَ قَادِرًا عَلَى ْالإِسْتِنْبَاطِ ، مُخْلِصًا وَأَنْ يَعْرِفَ طَبِيعَةَ اْلمَعْرَكَةِ وَأَحْوَالَ أَهْلِهَا .

” Maksudnya, seorang yang memberi fatwa dalam urusan-urusan jihad haruslah seorang yang mampu menyimpulkan hukum (dari dalil-dalil syar’i), ikhlas, dan mengetahui tabiat peperangan serta realita orang-orang yang berperang.”

Para ulama yang terlibat langsung dalam jihad, adalah ulama yang memadukan kedua fiqih ini ; fiqih ahkam dan fiqih waqi’. Mereka telah bersungguh-sungguh mencurahkan waktu, ilmu, tenaga, harta dan nyawa mereka dalam memperjuangkan Islam. Kesungguhan (mujahadah) mereka lebih berat dan tinggi dari para ulama yang hanya mencukupkan diri dengan dunia dakwah, tarbiyah dan tazkiyah.

Hal ini, sudah disadari oleh para ulama salaf sejak dahulu. Maka, amat layak bila terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama, mereka menyarankan untuk kembali kepada pendapat para ulama mujahidin murabithin, para ulama yang memahami hukum syariah dan mempunyai pengalaman ahlu dunia.

Allah menjadikan hidayah (petunjuk) bagi orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) mencari keridhaan-Nya. Oleh karenanya, imam Abdullah bin Mubarak, Ahmad bin Hambal dan lain-lain mengatakan :”Jika manusia berbeda pendapat dalam sebuah permasalahan, maka lihatlah pendapat para ahlu tsugur (orang-orang yang menjaga daerah perbatasan kaum muslimin dengan daerah musuh, murabithun), karena kebenaran bersama mereka, karena Allah telah berfirman: Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami).”

Tidak diragukan lagi, setiap muslim —apalagi ulama shalihun— yang bersungguh-sungguh (mujahadah) akan mendapatkan hidayah. Namun kesungguhan setiap orang tentu bertingkat-tingkat, dan kesungguhan yang paling tinggi (sampai mengorbankan nyawa) adalah kesungguhan para ulama mujahidin dan murabithin. Maka, amat sangat layak bila hidayah yang mereka peroleh paling tinggi, sesuai ketinggian mujahadah dan maqam jihad-ribath yang mereka lakukan.

Banyak pihak dan ulama yang tidak menyetujui operasi-operasi jihad hari ini, berdalih dengan terjadinya mafsadah “jatuhnya sebagian kaum muslimin atau warga sipil kafir sebagai korban”. Namun sayang, sebagian besar mereka tidak mengetahui proses operasi sehingga sampai jatuh korban dari pihak umat Islam atau warga “sipil’ kafir harbi. Lebih dari itu, mereka hanya berdalil dengan nash-nash umum yang sebenarnya ada nash-nash lain yang mengkhususkannya. Dan lebih parahnya lagi, kesimpulan penilaian mereka berdasar informasi dari media massa yang jelas-jelas tidak obyektif, cenderung memojokkan Islam dan menutup-nutupi fakta sebenarnya. Dengan segala latar belakang penilaian “maslahat dan mafsadat” seperti ini, bagaimana penilaian mereka akan tepat ? Dan bagaimana mujahidin bisa mempercayai fatwa-fatwa mereka ???

8- اِجْتِهَادُ اْلأَمِيرِ فِي تَقْدِيرِ اْلمَصَالِحِ وَالْمَفَاسِدِ مَا لَمْ يَكُنْ مَفْسَدَةً مَحْضَةً ، مُقَدَّمٌ عَلَى غَيْرِهِ.

[8]- Ijtihad pimpinan dalam menimbang maslahat dan mafsadat dimenangkan atas ijtihad (pendapat) selain pimpinan, selama bukan mafsadat ansich.

Bagi sebuah kelompok yang sedang melakukan operasi jihad, pendapat komandan dalam menimbang maslahat dan mafsadah didahulukan atas pendapat selain komandan, baik ia seorang anggota kelompok maupun orang di luar kelompok. Tentunya, pertimbangan komandan dibangun di atas pengetahuan tentang realita dan hukum syar’i.

9- النَّاظِرُ فِي اْلمَصَالِحِ وَالْمَفَاسِدِ يُحَاسَبُ عَلَى مَا كَانَتْ أَمَارَاتُهُ ظَاهِرَةً وَقْتَ نَظَرِهِ ، لاَ عَلَى مَا وَقَعَ فِي نَفْسِِ ْالأَمْرِِ ، إِذْ لاَ يَعْلَمُ اْلغَيْبَ إِلاَّ اللهُ.

[9]- Orang yang menimbang maslahat dan mafsadah, hanya bertanggung jawab atas indikasi-indikasi yang nampak saat ia melakukan kajian, bukan atas apa yang terjadi setelah dilaksanakannya operasi, karena tidak ada yang mengetahui hal yang ghaib selain Allah Ta’ala.

Seorang komandan operasi jihad, akan melakukan kajian maslahat dan mafsadat atas sebuah operasi yang sedang direncanakan dan akan dilaksanakan. Ia menimbang maslahat dan mafsadat operasi tersebut, berdasar berbagai data lapangan yang berhasil dikumpulkan melalui berbagai proses investigasi dan observasi. Bila setelah dilaksanakan operasi ternyata hasilnya tidak sesuai dengan hasil kajian, komandan tidak berdosa karena ia hanya bertanggung jawab sebatas data-data dan indikasi-indikasi yang nampak saat ia melakukan kajian.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam telah memperkirakan beberapa perkara sebelum melaksanakan operasi jihad, namun terkadang hasilnya tidak sesuai dengan perkiraan beliau. Hal yang sama juga terjadi pada diri para sahabat dan generasi-generasi selanjutnya.

Dalam perang Ahzab, Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwa salam menempatkan seluruh laki-laki yang telah baligh dan mampu berperang di luar kota, di pinggiran parit yang mengelilingi Madinah. Pertimbangannya tentu saja realita bahwa pasukan koalisi musyrik yang akan menyerang berjumlah besar dan mengepung Madinah.

Namun, siapa menduga ternyata datang tikaman dari garis belakang, dari dalam kota Madinah sendiri dengan pembatalan perjanjian damai secara sepihak oleh Bani Quraizhah. Tidak cukup itu saja, seorang Yahudi Bani Quraizhah mondar-mandir di sekitar benteng tempat bertahannya kaum wanita dan anak-anak kaum muslimin. Jika kaum Yahudi menyerbu ke dalam kota Madinah, besar dugaan mereka akan menawan atau membunuh kaum wanita dan anak-anak umat Islam yang tidak mempunyai pengawalan tersebut.

Apakah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam dicela dan diharuskan bertanggung jawab atas kejadian diluar dugaan dan pertimbangan ini ? Beliau sudah berusaha maksimal mempersiapkan srategi perang, berdasar data-data yang masuk kepada beliau. Pengkhianatan ini terjadi setelah strategi perang beliau ambil. Dus, pengkhianatan ini terjadi secara insidental, dan jauh di luar dugaan. Tentu saja, beliau shallallahu ‘alaihi wa salam tidak bisa dituntut atas kejadian ini.

Kejadian yang senada terulang dalam peperangan generasi sahabat, tabi’in dan generasi-generasi setelahnya. Begitulah realita jihad. Terkadang strategi yang sudah dirancang begitu masak, meleset saat dipraktekkan karena terjadinya kondisi-kondisi surprise di luar dugaan. Dan kejadian seperti ini sering terjadi dalam dunia peperangan. Seorang yang arif bijaksana tentu saja tidak akan menyalahkan begitu saja kejadian di lapangan, tanpa mengerti duduk persoalan secara tuntas. Inilah persoalan yang sering dilupakan oleh sebagian pihak yang menolak mentah-mentah berbagai operasi jihad hari ini, dengan melihat kepada hasil praktek di lapangan yang terkadang meleset dari rencana dan perkiraan.

**********************

Semoga penjelasan kami di atas dapat menjawab semua celaan dan kritikan yang dialamatkan kepada ikhwan-ikhwan yang telah berijtihad untk melakukan sebuah amaliyah jihad dengan segala keterbatasan sumber daya yang mereka miliki. Yang meski dalam keterbatasan tetap mereka lakukan demi menunaikan kewajiban pembelaan terhadap kaum muslimin sekaligus sebagai upaya meneliminasi kekuatan musuh dalam bingkai jihad global melawan kekuatan salibis zionis beserta para pendukung-pendukungnya. ( Silahkan baca dan cermati kembali Pasal1 )

bersambung ke :

https://www.facebook.com/note.php?note_id=175539529228754

http://jaisyulghareeb.wordpress.com/

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...