Wednesday, February 29, 2012

Tarbiyah Jihadiyah, Dr Abdullah Azzam


BAB I

PEMBINAAN GENERASI MUSLIM BERDASARKAN KONSEP NABAWI

Sesungguhnya segala puji itu milik Allah. Kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta ampunan-Nya. Dan kami minta perlindungan kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal-amal kami. Barangsiapa yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada seorangpun yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun yang dapat menunjukinya. Kami bersaksi tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan kami bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang telah menunaikan amanah, menyampaikan risalah serta memberikan nasihat kepada umat. Shalawat dan salam semoga senantiasa dicurahkan atasmu wahai junjuganku, wahai Rasulullah. Wahai engkau yang telah membina generasi Islam pertama, dan senantiasa generasi umat itu terbina berdasarkan petunjukmu. Dan mudah-mudahan Allah meridlai semua sahabatmu serta para pengikutnya dan para pengikut-pengikutnya dengan baik sampai hari kiamat, ....

‘Amma ba’du :

“Ya Allah tidak ada kemudahan kecuali apa yang telah Engkau jadikan mudah. Dan Engkau jadikan kesedihan itu mudah manakala Engkau menghendakinya”

Tarbiyah Nabi Terhadap Generasi Islam Yang Pertama.

Yang kami maksud dengan “Generasi Pertama” adalah para sahabat. Adapun sahabat sendiri adalah orang yang bertemu dengan Nabi SAW, mereka muslim dan mati di atas keislaman. Rabb mereka dan Nabi mereka menyanjung para sahabat. Rabbul ‘Izzati memuji mereka. Demikian pula Nabi SAW juga banyak menyanjung mereka. Dalam surat Al Fath disebutkan :

---khot--

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka”. (QS. Al-Fath : 29).

---khot---

“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan”. (QS. At Taubah : 117)

Al Qur’an telah bersaksi --sedangkan dalil Al Qur’an itu qath’i dan pasti-- bahwa tigapuluh ribu sahabat yang ikut andil dalam perang Tabuk, mereka itu telah diampuni Allah.

--Khot--

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu'min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon”. (QS. Al-Fath : 18)

Adapun mereka yang ikut dalam Ba’iaturridwan itu berjumlah seribu empatratus orang. Mereka itu, berdasarkan nash Al Qur’an telah diridlai oleh Allah.

Dalam hadits shahih disebutkan :

--khot--

“Sebaik-baiknya kurun (abad/masa) adalah kurunku, kemudian yang sesudahnya kemudian yang sesudah mereka”. (HR. Al Bukhari)[i]

Dalam hadits shahih dari riwayat Abu Sa’id Al Khudri disebutkan : Pernah terjadi pertengkaran antara Khalid bin Walid dengan ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Dalam pertengkaran tersebut Khalid mencacinya. Maka Rasulullah SAW bersabda :

--khot--

“Janganlah kamu sekalian memaki salah seorang sahabatku. Karena sesungguhnya sekiranya seseorang diantara kalian menginfakkan emas semisal gunung Uhud, maka amalnya itu belum mencapai satu mud (kurang lebih 6 ons) seseorang diantara mereka atau setengahnya”. (HR. Ahmad, Al Bukhari dan Muslim). [ii]

Padahal seperti telah diketahui Khalid juga seorang sahabat. Akan tetapi karena ‘Abdurrahman telah mendahului keislamannya serta persahabatannya, maka Rasulullah Saw marah kepada Khalid seraya mengatakan : “Sesungguhnya kemuliaan persahabatan ‘Abdurrahman wahai Khalid, jika engkau berinfak emas sebesar gunung Uhud, dan engkau juga seorang sahabat, maka amalmu itu tidak akan mencapai amalnya”. Kendati Khalid sendiri telah mulai berinfak sebelum Futuh Makkah dan ikut serta berperang.

--khot--

“Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu”. (QS. Al Hadid : 10)

Dalam shahih Muslim dari hadits Jabir disebutkan bahwa Nabi SAW pernah bersabda :

--khot--

“Tidak akan masuk neraka, seseorang yang pernah berbaiat di bawah pohon (Baitur Ridwan)”. (HR. Muslim dalam Shahihnya)

Ibnu Mas’ud berkata : “Sesungguhnya Allah melihat hati hamba-hamba-Nya , maka Dia dapati hati Muhammad itu lebih baik dari hati seluruh hamba-Nya, maka Diapun memilihnya dan mengangkatnya sebagai Rasul untuk mengemban risalah-Nya. Kemudian melihat hati hamba-hamba-Nya sesudah hati Muhammad Saw, maka Dia dapati hati para sahabatnya (Muhammad) itu lebih baik dari hari seluruh hamba. Lantas mereka dijadikan oleh Allah sebagai pembantu-pembantu Nabi-Nya”

Ibnu Hajar berkata : “Umat Islam telah bersepakat bahwa kemuliaan sahabat itu tidak dapat dibandingkan dengan sesuatu apapun jua”.

Dalam buku Aqidahnya, Abu Ja’far Ath Thahawi mengatakan : “Dan kami mencintai para sahabat Rasulullah SAW dengan tidak mengurangi sedikitpun kecintaan kami atas seseorang diantara mereka, dan kami membenci siapapun yang membenci mereka atau mengatakan sesuatu yang tidak baik terhadap mereka dan kami tidak mengatakan tentang mereka kecuali yang baik. Mencintai mereka adalah termasuk agama (dien), iman, dan ihsan, sedangkan membenci mereka adalah tindak kekufuran, kemunafikan dan melampaui batas”.

Golongan manusia pilihan yang mulia ini, dipilih oleh Allah Rabbul ‘Izzati untuk menguatkan agama-Nya dan membela syariat-Nya.

--khot--

“Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mu'mim”. (QS. Al Anfal : 62)

Bagaimana generasi satu-satunya dan prototipe yang unik dalam sejarah kemanusiaan secara keseluruhan ini keluar dan muncul dari antara dua sampul kitab ? Bagaimana mereka menterjemahkan ayat-ayat kepada manusia, sehingga berubahlah kata-kata tersebut menjadi manusia berasal dari daging dan darah ? Dan engkau tidak dapat membedakan kehidupan nyata mereka dari ayat Al Qur’an manapun.

--khot--

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”. (QS. Ali Imran : 110)

Bagaimana mereka tumbuh berkembang sehingga menjadi generasi yang kuat dan matang dengan akarnya yang kokoh menghunjam ke dasar bumi.

--khot--

“Akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya”. (QS. Ibrahim : 24-25)

Apa sebenarnya prinsip-prinsip yang menjadi esensi pembinaannya ? Apa dasar-dasar yang dipergunakan Murabbinya, Muhammad SAW untuk membina bangunan yang besar, mengagumkan dan mempunyai keteraturan yang unik.

Pokok-Pokok Tarbiyah Nabi saw Atas Generasi Islam Pertama.

Sungguh Nabi Muhammad SAW telah membina generasi yang unik ini di atas prinsip-prinsip. Yang terpenting dalam pandangan kami adalah :

1. Membatasi pembinaan hanya dengan Manhaj Rabbani saja.

2. Memurnikan da’wah dari segala kepentingan duniawi dan manfaat-manfaat yang tidak kekal.

3. Dimulai dengan membangun aqidah ummat sebelum membangun syari’at (hukum).

4. Sejak pertama kali wujud pembinaannya adalah kelompok haraki (gerakan).

5. Jelas benderanya dan terang tujuannya serta tidak bercampur aduk dengan pemikiran lain.

6. Membina “Qaidah Shalabah” (Kelompok inti) yang dapat menopang seluruh bangunan.

7. Memanfaatkan dan mempergunakan semua daya serta potensi yang ada.

8. Mengukur bobot seseorang dengan mizan takwa.

9. Pembinaan melalui celah-celah peristiwa dan aktifitas yang konkrit.

10. Al Jihad

11. Menanamkan kepercayaan dalam lubuk hati akan pertolongan Allah

12. Uswah Hasanah dan kepemimpinan yang beramal nyata.

13. Bersikap lembut dan penyayang, bukan kasar dan menyakitkan.

14. Berwawasan jauh ke depan, khususnya dalam perubahan dari satu fase ke fase yang lain.

15. Para sahabat Ra menerima perintah untuk dilaksanakan dan ditindakan.

Sebelum saya memulai keterangan pokok-pokok tersebut secata terperinci, maka ada baiknya saya kemukakan mengenai segi manfaat yang dapat diambil dengan mengetahui konsep nabawi dalam tarbiyah ini. Dengan mengetahui Manhaj ini maka banyak manfaat yang dapat diambil, khususnya bagi mereka yang hendak menegakkan dien Allah di muka bumi dan menumbuhkan masyarakat muslim dalam kehidupan yang nyata sesudah masyarakat tersebut lenyap dari pandangan dan lenyap dari wujudnya.

Manfaat-manfaat yang penting antara lain :

Pertama : Dapat mengetahui Manhaj (konsep) pemikiran Islam dalam menegakkan daulah. Sebab manhaj pemikiran dan gerakan untuk menegakkan Islam tidak kurang nilainya dan tidak kurang pentingnya dari manhaj kehidupan dan tidak terpisah daripadanya. Sebagaimana Dien in sendiri dari sisi Allah, maka cara yang ditempuhnya pertama kali juga dari sisi Allah.

Kedua : Untuk mengikuti jalan Rabbani ini dalam membela Dien Allah dan mengokohkan syari’atNya dalam kehidupan. Disamping itu agar tetap konsisten di atas jalan tersebut.

--khot--

“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Hud : 120)

“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka”. (QS. Al An’am : 90)

Jalan itulah yang ditempuh oleh Rasulullah SAW pertama kalinya sehingga Dien (agama) ini mendapatkan kemenangan dan sekali-kali agama ini tidak akan bangkit kembali ke muka bumi kecuali dengan cara tersebut.

Ustadz Sayyid Quthb berkata : “Pemeluk agama in harus benar-benar mengetahui bahwa agama in dzatnya adalah Rabbani, maka manhaj operasionalnya juga Rabbani berjalan paralel dengan tabi’atnya. Dan tidak mungkin memisahkan agama ini dari manhaj operasoinalnya. Jika kita telah mengetahui manhaj operasionalnya, maka hendaknya kita tahu juga bahwa manhaj ini adalah manhaj yang fundamental, bukan manhaj kontemporer, geografis ataupun manhaj kondisional, khususnya dalam menghadapi problema-problema jama’ah Islam yang pertama. Sesungguhnya ia merupakan manhaj, dimana bangunan agama ini tidak akan tegak kapanpun juga kecuali dengannya. Sesungguhnya berpegang teguh dengan manhaj tersebut merupakan perkara yang sangat vital, seperti halnya berpegang teguh pada sistem Islam pada setiap gerakan”.

Ketiga : Dapat mengetahui keagungan panglima pembimbing (Nabi SAW) yang telah mempraktekkan manhaj tersebut dan mengetahui keagungan para pasukan yang telah melaksanakan manhaj tersebut.

Rasulullah SAW telah melahirkan, dalam waktu yang relatif singkat, sebuah generasi yang terdiri dari pemimpin-pemimpin ulung dan kenamaan. Panglima-panglima militer yang digembleng Nabi SAW, jumlah mereka lebih banyak daripada semua panglima militer sepanjang sejarah Islam. Demikian juga beliau memunculkan generasi pemimpin, politikus, administrator, pembimbing, pengajar, hakim dan penguasa. Jika ada seorang yang mampu menelorkan satu segi dari segi-segi tersebut, pastilah namanya akan ditulis dalam kelompok orang-orang abadi yang dikenang. Lalu bagaimana halnya dengan orang yang dapat menggabungkan semua itu ? Sesungguhnya ia benar-benar merupakan kebesaran Nubuwah sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Abbas r.a.

Sekarang, marilah kita kembali membicarakan tentang fondasi-fondasi yang dipergunakan Rasulullah SAW dalam menegakkan bangunan yang sangat besar tersebut.

Fondasi (dasar) yang pertama:

Membatasi Pembinaan Hanya dengan Manhaj Rabbani Saja.

--Khot--

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (QS. Ali ‘Imran : 164)

Adapun yang dimaksud dengan Al Kitab dalam tersebut adalah Al Qur’an, sedangkan Al Hikmah adalah AS Sunnah. Rasulullah Saw membatasi tarbiyah para sahabatnya dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Beliau marah ketika melihat lembaran kitab Taurat ada di tangan ‘Umar. Beliau berkata :

--khot--

“Demi Allah, sekiranya Musa hidup ditengah-tengah kalian, maka tidak halal baginya (mengikuti Taurat), melainkan ia harus mengikutiku”.

Dalam riwayat Imam Ahmad dikatakan :

--khot--

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada ditangan-Nya. Seandainya Musa berada diantara kalian, kemudian kamu mengikutinya, pasti kalian akan sesat. Ketahuilah sesungguhnya kamu adalah bagianku diantara umat-umat yang lain. Dan aku adalah bagian kalian diantara nabi-nabi yang lain”.[iii]

Oleh sebab itu, Dienul Islam sangat antusias dalam mewujudkan manhaj Rabbani itu di muka bumi, supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Demikian juga Islam sangat antusia dalam mewujudkan keadilan diantara manusia dan menanamkan nilai Ilahiyah itu dalam kehidupan insan.

--khot--

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan”. (QS. Al Hadid : 25)

Jadi tujuan dari nubuwah (diutusnya nabi-nabi) ialah mewujudkan kebenaran diantara manusia dan menyebarkan keadilan itu diantara mereka. Oleh karena itu, dalam pandangan agama Allah, mengkritik seeseorang dan menerangkan kesalahan serta kekeliruan mereka itu jauh lebih ringan dibandingkan meluruskan seseorang yang mengabaikan manhaj tersebut dan menyimpang dari jalannya.

Rabbul ‘Izzati tidak membiarkan kemasaman muka Rasulullah SAW terhadap ‘Abdullah bin Ummi Maktum, orang yang buta, ketika beliau tengah sibuk mendakwahi golongan elite dari pemimpin Quraisy.

Saya katakan : “Rabbul ‘Izzati tidak membiarkan keadaan berjalan demikian, maka Dia mencela kekasihnya-Nya Nabi Muhammad SAW[iv] dengan celaan yang keras dengan menurunkan surat yang memuat nama ‘Abasa (ia bermuka masam). Celaan itu mencapai puncaknya pada kata “Kalla” (sekali-kali jangan demikian), sedangkan ia adalah kata pelanggaran dan cegahan”.

Allah Rabbul ‘Izzati telah menurunkan sepuluh ayat yang jelas dalam surat An-Nisaa’ mengenai bebasnya seorang Yahudi dari tuduhan yang didakwakan kepadanya, dan menetapkan dakwaan tersebut kepada salah seorang penduduk Madinah yang memeluk agama Islam. Dia adalah, Tha’mah bin Ubairiq. Yang demikian itu karena kekekalan manhaj tersebut lebih baik daripada eksistensi seribu orang yang berjalan di atas manhaj yang menyimpang dan bengkok.

Oleh sebab itu kepemimpinan dalam agama (dien) ini bersifat Rabbani yang tercermin dalam pribadi Rasulullah SAW, manhajnya Rabbani, tercermin dalam Al-Qur’an dan As-sunnah, wasilahnya Rabbani. Rasulullah SAW tidak mau menerima, sesudah perjanjian Hudaibiyah, penggabungan diri Abu Jandal bin Suhail bin ‘Amru maupun Abu Bashir[v] setelah mereka berhasil lolos dari Mekkah, melarikan diri dari penindasan dan penyiksaan kaum Quraisy. Beliau mengembalikan dua orang tersebut kepada Quraisy, karena tidak ingin melanggar jaminan yang telah diucapkannya maupun membatalkan perjanjian yang telah dijalinnya dengan kaum Quraisy, yakni beliau dalam perjanjian tersebut diminta untuk mengembalikan orang yang datang kepadanya dari fihak mereka.

Untuk itu, maka hendaknya para da’i Islam betul-betul memperhatikan tentang masalah (Rabbaniyah atau wasilah-wasilah berdasarkan cara syar’i). Banyak diantara mereka yang menempuh cara yang menyimpang serta sarana-sarana yang tidak lempang demi mencapai tujuan yang mereka sebut dengan nama mashlahat da’wah. Sehingga terkadang seorang da’i berbohong dengan alasan kepentingan da’wahnya. Terkadang mengzhalimi manusia jika mereka berselisih dengan pengikut-pengikutnya. Itu semua berbahaya dan salah, karena hal itu merupakan penyimpangan dari manhaj dalam soal keadilan bahkan akan membawa akibat lenyapnya harakah itu sendiri.

Sesungguhnya maslahat da’wah Islamiyah adalah seorang da’i menyembah Allah dengan pedoman dien yang telah diturunkanNya, seorang da’i menyembah Allah berdasarkan syari’at-Nya, dan seorang da’i berpegang pada prinsip-prinsip keadilan dan menyebarkannya di permukaan bumi.

--khot--

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan”. (QS. An Nisaa’ : 135)

Apabila engkau ditanya tentang seorang pengikut da’wahmu yang telah makan riba. Kemudian engkau telah pasti akan kebenaran berita tersebut, maka janganlah kamu menyibukkan dirimu untuk mencari-cari alasan atau menta’wilkan nash-nash Al-Qur’an untuk mencairkan masalah keharaman tiba yang telah qath’i demi membela pengikut da’wahmu itu.



[i] HR Bukhari (lihat : Shahih Al Jami’ Ash Shaghir 3294)

[ii] HR Ahmad, Bukhari dan Muslim (Lihat : Shahih Al Jami’ Ash Shaghir 731)

[iii] Sebagian dari hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dalam musnadnya, seperti yang ditulis dalam Tafsir Ibnu Katsir

[iv] HR Abu Ya’la dan At Tirmidzi (lihat : Tafsir Ibnu Katsir IV)

[v] Shahih Bukhari



.................................................................................................................

RUANG DOWNLOAD

Di atas ialah petikan dari buku TARBIYAH JIHADIYAH, iaitu buku yang memuatkan semua isi ceramah Imam Mujahidin iaitu Syeikh Abdullah Azzam. Buku ini patut dihadam oleh setiap pemuda Mujahid.


Klik disini Untuk mendownload semua buku TARBIYAH JIHADIYAH: http://www.archive.org/download/ebook-islam1/01-AbdullahAzzam-TarbiyahJihadiyah04.7z


.....................................................................................................................


No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...